Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Dengan Penerapan Model Pembelajaran SQ3R Pada Kelas VI SD Negeri 2 Batu Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng Rappang
1
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ...................................................................................... .... i
LEMBAR
PENGESAHAN ........................................................................... .... ii
PERSETUJUAN
PEMBIMBING .................................................................. .... iii
DAFTAR
ISI .................................................................................................. .... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ................................................................................ .... 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... .... 9
C. Tujuan
Penelitian ............................................................................. .... 10
D. Manfaat
Penelitian .......................................................................... .... 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA
PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN.......................................................................................... 12
A. Kajian
Pustaka ................................................................................ .... 12
1.
Penelitian yang
Relevan............................................................ .... 12
2.
Pengertian Belajar
Mengajar...............................................`......... 13
3.
Konsep Membaca
.................................................................... .... 14
4.
Metode SQ3R........................................................................... .... 26
B. Kerangka
Pikir ................................................................................ .... 30
C. Hipotesis
Tindakan ......................................................................... .... 32
BAB III METODE PENELITIAN................................................................... 34
A. Jenis
Penelitian ................................................................................ .... 34
B. Variabel
Penelitian................................................................................ 34
C. Defenisi Operasional
....................................................................... .... 35
D. Desain Penelitian ............................................................................. .... 35
E. Subyek Penelitian ........................................................................... .... 38
F.
Instrumen
Penelitian ....................................................................... .... 38
G. Teknik
Pengumpulan Data ............................................................. .... 40
H. Tekhnik Analisis Data
Penelitian .................................................... .... 41
DAFTAR
PUSTAKA.............................................................................. ........ 42
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Belajar dan
pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara individu dengan
segala sesuatu yang terdapat di lingkungannyadan terhadap semua situasi yang
ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan
kepada tujuan dan proses memperoleh pengetahuan melalui berbagai pengalaman .
Kondisi belajara mengajar di SD Negeri 2 batu berdasarkan observasi awal yang
peneliti sebagai identifikasi masalah menunjukkan adanya permaslahan dalam
proses pembelajaran bahasa khususnya pembelajaran membaca pemahaman.
Fakta ini
memberikan sebuah gambaran bahwa dewasa ini masih banyak persoalan yang
dihadapi oleh guru dalam melaksanakan
tugas sebagai pengajar. Problem ini terjadi karena dipengaruhi oleh berbagai
faktor antara lain kemampuan guru dalam memilih metode pembelajaran juga
tingkat kemampuan bahasa peserta didik yang rendah sebagai imbas dari kondisi
lingkungan yang berada pada wilayah terpencil. Faktor lain yang patut diduga adalah
kemampuan guru yang masih rendah dengan akses yang minim untuk memperoleh
pengetahuan aktual melalui teknologi internet.
Data yang
peneliti dapatkan dalam survei awal menunjukkan bahwa hasil belajar peserta
didik dalam membaca pemahaman masih rendah. Tingkat
2
ketercapaian
pembelajaran membaca pemahaman di sekolah tersebut masih berada pada 50-60%
saja. Kondisi tersebut menjadi dasar penelti untuk melakukan
penelitian guna melakukan Perbaikan
pembelajaran melalui pemilihan metode yang tepat untuk digunakan guru dalam
mengajar. Guru perlu selalu kreatif dan inovatif dalam melakukan pembelajaran
agar peserta
didik lebih mudah
memahami materi yang disampaikan dan antusias dalam mengikuti proses belajar
mengajar, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan berkualitas dan hasil belajar
yang di capai peserta
didik memuaskan.
Berdasarkan
hasil observasi yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa peserta didik di SD Negeri 2 Batu Kecamatan Pitu
Riase Kabupaten Sidenreng Rappang menganggap pelajaran bahasa Indonesia
khususnya membaca memahami merupakan pelajaran yang kurang menarik dan sulit . Peserta didik terkadang
bingung ketika dihadapkan pada sebuah teks (wacana) atau buku dalam pelajaran bahasa Indonesia dengan
berbagai alasan seperti terlalu banyak materinya dan bahasa yang tidak
dimengerti dan sulit dipahami. Akibatnya peserta didik menemukan
kesulitan untuk memperoleh jawaban tugas-tugas yang diberikan kepada mereka
serta mengalami kesulitan ketika
menghadapi soal-soal ujian.
Data penilaian hasil belajar di SD Negeri 2 Batu
Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng Rappang menunjukkan adanya perbedaan
dalam daya serap peserta
didik per mata
pelajaran, demikian pula dengan tingkat ketuntasan minimum. Fakta juga menunjukan bahwa peserta didik tidak
bergairah mencapai dan mengikuti pembelajaran bahasa yang terkait dengan
membaca pemahaman dalam kelas. Kecenderungan peserta didik yang pasif
pada saat proses kegiatan belajar mengajar di sekolah yang berdampak terhadap
nilai hasil belajar peserta
didik. Salah satu
mata pelajaran yang persentase
ketuntasannya stagnan adalah Bahasa Indonesia khususnya materi membaca pemahaman.
Hamalik (2002:2) menyatakan bahwa guru
memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Guru hendaknya memiliki
kompetensi yang dapat mengaktifkan peserta didik. Akan tetapi pembelajaran
selama ini masih didominasi oleh peran guru. Akibatnya, peserta didik menjadi pasif
dan hanya berharap suapan dari guru. Hal ini menyebabkan peserta didik kurang
mendapat kesempatan untuk melakukan ide-ide dan kurang terjadi interaksi di
antar peserta
didik dalam proses
pembelajaran.
Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri
atas beberapa komponen yang
saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi: Guru,
peserta didik, bahan ajar, tujuan, materi, metode dan evaluasi. Komponen
tersebut harus dipahami oleh seorang guru dalam memilih dan menentukan
model-model pembelajaran yang tepat untuk satu mata pelajaran dalam kegiatan
pembelajaran.
Membaca pemahaman merupakan salah satu kegiatan yang penting
dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan,
informasi, serta memperoleh hiburan. Kegiatan membaca adalah suatu proses
interaksi antara pembaca dengan penulis melalui karyanya sehingga, kemampuan
memahami tek atau buku merupakan kemampuan mutlak. Banyak informasi direkam dan
dikomunikasikan melalui media tulis. Oleh karena itu, membaca memahami
merupakan bekal dan kunci keberhasilan peserta didik dalam
menjalani proses pendididikan. Sebagian besar pemerolehan ilmu dilakukan peserta didik melalui
aktifitas membaca. Ilmu yang dipelajari peserta didik tidak hanya
didapat dari proses belajar mengajar di sekolah, tetapi juga melalui kegiatan membaca dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, kemampuan membaca dan kemampuan
memahami bacaan menjadi bagian penting dalam penguasaan dan peningkatan ilmu
pengetahuan.
Dalam
kehidupan manusia,
keterampilan membaca sangat
diperlukan, apalagi di era
globalisasi yang menuntut semua orang
harus mampu membaca. Seiring perkembangan
teknologi dan imformasi segala
sesuatu sudah semakin cepat dan canggih. Apabila pada
saat ini ada
beberapa orang yang berusia
produktif tetapi tidak
mampu membaca atau buta
huruf, maka orang-orang
tersebut akan sulit
memenuhi kebutuhannya dalam segala
hal. Oleh karena itu,
pentingnya membaca tidak dapat
disangkal lagi.
Pemerintah melalui lembaga yang
bertugas dalam dunia pendidikan telah
melakukan banyak upaya dan usaha
dalam memperbaiki kualiatas pendidikan dengan memperbaik
kualitas pembelajaran seperti membentuk lembaga yang menjamin mutu pendidikan
nasional yaitu Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Pemerintah juga melakukan perbaikan yang
meliputi penyempurnaan kurikulum, sertifikasi guru, peningkatan kualitas
sarana prasarana, dan pengembangan
metode pembelajaran inovatif. Perbaikan
kualitas
Pembelajaran Bahasa
Indonesia pada hakikat diarahkan untuk meningkatkan
kemampuan peserta didik
untuk berkomunikasi dalam
bahasa Indonesia dengan
baik dan benar, baik
secara lisan maupun
tertulis serta menumbuhkan
apresiasi terhadap hasil kesastraan Indonesia. Maka standar kompetensi mata
pelajaran bahasa Indonesia merupakan
kualifikasi kemampuan minimal
peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan,
keterampilan berbahasa, sikap positif, terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
Membaca pemahaman
adalah suatu kegiatan
dalam memahami teks bacaan dengan
menangkap setiap makna
yang dibacanya agar
dapat memiliki tingkat kemampuan
membaca yang efektif
dan efisien. Pemahaman
terhadap bacaan dapat dipandang
sebagai suatu proses
yang bergulir, terus
menerus, dan berkelanjutan. Membaca merupakan
suatu proses yang
dilakukan oleh seseorang
untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui
media kata atau bahasa tulis (Tarigan,
1986). Ditinjau dari
proses kegiatan membaca,
kegiatan membaca melibatkan banyak
hal yaitu aktivitas
visual yang menerjemahkan simbol-simbol, proses
berpikir yang mencakup
pengenalan kata, pemahaman literal, interprestasi, dan
pemahaman psikolingustik dan
metalognitif (Rahim. 2007) .
Metode SQ3R
merupakan suatu prosedur
yang sistematik yang dikembangkan oleh F.P Robinson pada
tahun 1970. SQ3R sendiri kependekan dari Survey, Question,
Read, Recite, Review.
SQ3R ialah metode
membaca untuk menemukan ide-ide
pokok dan pendukung
ide pokok juga
membantu pembaca dapat mengingat
lebih lama. SQ3R merupakan salah satu metode membaca yang sangat baik untuk
kepentingan membaca intensif dan rasional. Metode membaca studi ini diajarkan
oleh seorang guru besar psikologi dari Ohio State Univercity, yaitu Prof. Francis P. Robinson tahun
1941. Metode ini merupakan metode salah satu
membaca yang makin
lama makin dikenal
orang dan banyak
digunakan.
Kegiatan membaca
dengan menggunakan metode
SQ3R mencangkup lima langkah, yaitu
Survey (penelaahan pendahuluan),
Question (bertanya), Read (baca), Recite (mengutarakan kembali),
dan Review (mengulang kembali).Karakteristik metode SQ3R diuraikan sebagai
berikut, sebelum membaca kita
melakukan survey untuk
memperoleh gambaran umum
dari suatu bacaan dengan
cara melihat bagian
permulaan dan akhir.
Setelah mensurvey buku,
kita merumuskan beberapa pertanyaan untuk diri sendiri tentang bacaan
tersebut yang diharapkan jawabannya ada
dalam buku itu.
Hal itu akan
membantu dan menuntun kita
memahami bacaan. Dengan bekal rumusan pertanyaan-pertanyaan tadi, barulah
kita membaca. Pertanyaan
itu merupakan penentuan
yang dapat membantu pembaca
menemukan informasi yang diinginkan dengan cepat.Setelah membaca, untuk
mengetahui penguasaan kita
terhadap bacaan, kita
lakukan menceritakan/mengutarakan kembali dengan kata-kata sendiri.
Untuk membantu daya ingat kita
membuat catatan kecil.
Kegiatan membaca
dengan menggunakan metode SQ3R
diakhiri dengan kegiatan meninjau kembali/mengulang kembali apa yang sudah
kita baca. Kita
tidak perlu membaca
ulang bacaan itu
secara keseluruhan, tetapi kita
hanyamemeriksa bagian-bagian yang
dianggap penting yang memberikan
gambaran keseluruhan dari bacaan, juga untuk menemukan halhal penting yang
mungkin terlewat pada saat kita membaca sebelumnya. Teknik Membaca
SQ3R menurut Mawadah
(2011) adalah sebagai berikut:
Survey (tinjau) ialah
langkah membaca untuk
mendapatkan gambaran
keseluruhan tentang apa
yang terkandung di
dalam bahan yang
dibaca. Ini dilakukan dengan
meneliti tajuk besar, tajuk-tajuk kecil, gambar-gambar ilustrasi, grafik, membaca
pengantar, dan penutup
atau simpulan di
bagian-bagian akhir buku atau
teks.Question (soal atau
tanya) ialah langkah
yang memerlukan pembaca dalam
menyenaraikan satu inti
permasalahan dalam teks
tersebut setelah mendapat teks
tersebut berkaitan dengan informasi yang diperlukannya. Masalahmasalah tersebut
menunjukkan keinginan pembaca tentang informasi
yang ingin diperoleh dari bahan
tersebut, yang kemudian
menjadi panduan atau
pedoman pada kegiatan membaca
selanjutnya. Pembaca akan
mencoba mencari jawaban atas persoalan-persoalan tersebut. Read
(baca) ialah membaca
bahan atau teks
tersebut secara aktif
serta mencoba mendapatkan segala jawaban atas persoalan-persoalan yang
disampaikan sebelumnya. Ketika membaca,
pembaca mungkin juga
akan memunculkan
pertanyaan-pertanyaan tambahan, berdasarkan perkembangan pemahamannya dan
keinginannya selama melakukan
membaca.
Pembaca mungkin
juga mempersoalkan pendapat atau
informasi yang terdapat
dalam buku atau
teks tersebut.Recite
(mengungkapkan kembali) merupakan
langkah keempat. Setelah selesai membaca,
pembaca mencoba mengingat
kembali apa yang
telah dibaca dan meneliti segala
hal yang telah diperolehnya. Pemilihan informasi disesuaikan dengan yang
dibutuhkannya. Pembaca juga boleh mencoba menjawab persoalan-persoalan yang
dipaparkan sebelumnya tanpa
merujuk kepada bahan
yang telah dibaca. Review (membaca kembali) merupakan langkah terakhir. Pada bagian ini
pembaca membaca bagian-bagian
buku atau teks
tertentu yang dipilih
untuk mendukung jawaban-jawabannya atas
persoalan-persoalan yang dibuatnya
pada langkah ketiga. Pada
bagian ini, pembaca
juga memastikan tidak
ada informasi yang terlewatkan.
Berdasarkan
uraian diatas juga hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SD Negeri 2 Batu bersama mitra guru dan peserta didik dapat ditarik
kesimpulan:
(1) Pembelajaran
bahasa indonesia memiliki nilai identitas sebagai bangsa indonesia;
(2) Pembelajaran
bahasa dalam membaca pemahaman memiliki fungsi yang sangat urgen untuk membantu
peserta didik dalam memperoleh pengetahuan
(3) Pembelajaran
membaca masih menggunakan model yang kurang inovatif
(4) Kegiatan membaca peserta didik hanya terbatas
pada tugas
(5) Kurangnya kemampuan membaca pemahaman peserta didik menjadikan
rendahnya tingkat pemahaman peserta didik terhadap isi bacaan yang dibaca,
mereka dapat menjawab pertanyaan isi bacaan hanya apabila peserta didik diberi
kesempatan untuk membuka-buka kembali bacaan
(6) Rendahnya
tingkat pemahaman peserta
didik menjadikan
mereka kurang mampu mengungkapakan
kembali isi teks baik secara lisan maupun secara tertulis dengan menggunakan
bahasa peserta
didik sendiri.
Dari data yang ada, lebih dari 50% peserta didik dalam
penilaian membaca pemahaman diperoleh nilai di bawah standar kriteria ketuntasan minimal (KKM) sekolah
sebesar 70. Uraian
tersebut memberikan sebuah gambaran permasalahan yang jelas untuk diteliti.
Asumsi lain adalah jenis penelitian yang akan dilakukan yaitu
penelitian tindakan kelas (PTK) yang diharapkan mampu memberikan solusi dari
persoalan yang ada serta perbaikan pembelajaran dengan berfokus pada upaya
peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui teknik SQ3R
peserta didik kelas VI SD Negeri 2 Batu Kabupaten Sidenreng Rappang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “ Apakah penerapan
metode SQ3R dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman peserta didik kelas
VI pada SD Negeri 2
Batu Kabupaten Sidenreng Rappang”?
C. Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan
yang hendak dicapai dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penerapan metode
SQ3R dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman peserta didik kelas VI pada SD Negeri 2 Batu Kabupaten Sidenreng
Rappang.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat
baik yang bersifa teoritis maupun praktis kesegenap pemangku kepentingan
pendidikan ataupun pemerhatikan pendidikan di negara ini. Hasil pelakasanaan
perbaikan pembelajaran yang merupakan refleksi diri dari pembelajaran sebelumnya akan memberikan mamfaat
yang berarti bagi perorangan maupun institusi berikut ini:
1.
Manfaat Teoritis
Manfaat teoritas yang diharapkan dalam
penelitian ini sebagai berikut
a.
Memberikan konstribusi keilmuan yang bermamfaat dalam
dunia pendididikan mengenai penerapan teknik SQ3R untuk peningkatan kemampuan
membaca pemahaman di sekolah dasar.
b.
Sebagai acuan dalam mengembangkan model pembelajaran yang inovatif dengan penerapan metode SQ3R.
c.
Menjadi bahan pembanding dan pengembangan bagi peneliti
yang akan melakukan penelitian pada mata pelajaran bahasa Indonesisa dan
permasalahan yang sejenis.
2.
Manfaat Praktis
Adapun memfaat
praktis penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi peserta didik, memberikan
memperoleh pengalaman baru dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia,
sehingga diharapkan hal ini akan berdampak terhadap peningkatan kemampuan membaca
pemahaman dan prestasi belajarnya.
b. Bagi guru, akan
diperoleh referensi dalam pengembangan kegiatan pembelajaran yang pada akhirnya
secara sinergis akan menumbuhkembangkan
semangat dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran.
c. Bagi peneliti
lanjut, diharapkan penelitian ini bermamfaat dalam pengembangan model
pembelajaran dengan metode- metode
bervariasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA , KERANGKA
PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka
1.
Penelitian Sebelumnya yang Relevan
Pembelajaran membaca pemahaman sebelumnya telah
dilakukan penelitian oleh beberapa peneliti sebagai berikut;:
a. penelitian yang dilakukan oleh Siti Khuzaimatun yang
terdapat dalam Skripsi PTK pada Universitas Sebelas Maret Surakarta yang
berjudul : Upaya Meningkatkan KemampuanMembaca Pemahaman Dengan Metode SQ3R
Pada Siswa Kelas X.3 Sma Negeri 1 Sumberlawang. Hasil penelitiannya menunjukkan Penerapan metode
SQ3R dapat meningkatkan kemampuan
membaca pemahaman siswa yang
ditandai dengan: (a) peningkatan jumlah siswa
yang dapat menemukan ide
pokok kalimat, paragraf,
atau wacana pada
tiap siklusnya, (b) peningkatan
jumlah siswa yang
mampu memilih butir-butir penting bacaan.
b. Jurnal
penelitian yang dilakukan oleh: Ni L. Oka Purniawati, Ni Nym. Ganing, IB.G. Suryaabadi yang berjudul: Pengaruh
Strategipembelajaran SQ3R Bermedia Powerpoint terhadap Kemampuan
Membaca Pada Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD Gugus III Kecamatan Gianyar.
Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar, FIP Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja,
Indonesia. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa; terdapat
pengaruh yang signifikan pada penerapan
strategi pembelajaran SQ3R bermedia
PowerPoint terhadap
kemampuan membaca pada
bahasa Indonesia siswa kelas
V di SD
gugus III Kecamatan Gianyar
tahun pelajaran 2012/2013.
c. Artikel
Penelitian yang dilakukan oleh Siskalia yang berjudul: Peningkatan Kemampuan
Membaca Pemahaman Menggunakan Metode
Survey Question Read Recite Review
(SQ3R) Di Sekolah Dasar. Kemampuan
membaca pemahaman siswa
meningkat dengan diterapkannya metode SQ3R
dari siklus I
dengan skor rata-rata
sebesar 56,76 menjadi 76,18 pada siklus II, terjadi peningkatan skor
sebesar 19,42.
2. Pengertian Belajar
Mengajar
Belajar merupakan kegiatan bagi
setiap orang. Pengetahuan ketrampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang
terbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar. Karena itu seseorang
dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu
proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Seperti
dikemukakan ( Slameto: 1995) bahwa
belajar ialah suatu proses usaha yang
dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam
interkasi dengan lingkungannya.
Selanjutnya, (Haling: 2004)
mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu proses psikologis yang berlangsung
dalam interaksi aktif subjek dengan lingkungan dan menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan yang bersifat permanen.
Perubahan-perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru segera nampak dalam
perilaku yang nyata.
Dari uraian di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa: Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan tingkah laku pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses
belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan,
pemahaman, sikap, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan
aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Gagne dan Briggs (Ali, 1987) dalam
hal ini juga melihat pentingnya proses belajar peserta didik secara aktif dalam
pengajaran. Jadi, yang penting dalam mengajar bukan upaya guru dalam
menyampaikan bahan, tetapi bagaimana peserta didik dapat mempelajari bahan
sesuai dengan tujuan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat
dipahami bahwa aktivitas yang menonjol dalam
pengajaran berada pada peserta didik. Namun demikian, bukan berarti peran guru tersisihkan, melainkan
diubah dari guru sebagai satu-satunya
sumber belajar menjadi fatner belajar bagi peserta didik. Guru berperan bukan sebagai penyampai informasi Tetapi bertindak
sebagai pengarah dan pemberi fasilitas
untuk terjadinya proses belajar.
1. Konsep Membaca
a. Pengertian Membaca
Membaca
mempunyai pengertian yang beragam. Ada yang rumusannya panjang dan ada pula
yang pendek. Penyebabnya pun bermacam-macam. Berikut
beberapa contoh pengertian membaca:
1)
Membaca adalah proses mengenali
makna simbol tertulis
2)
Membaca adalah proses
melisankan bahasa tulis
3)
Membaca
adalah kegiatan mempersepsi aturan tertulis untuk menangkap makna yangdikandungnya
4)
Membaca adalah proses berpikir
dan bernalar
5)
Membaca adalah penerapan
seperangkat keterampilan kognitif untuk memperoleh pemahamandari tuturan yang
tertulis
6)
Membaca adalah proses
pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan pembaca untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang bacaan itu,
yang diikuti oleh penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak
bacaan itu.
Dari banyak dan beragamnya definisi
membaca seperti contoh diatas disebabkan oleh beberapa faktor,antara lain:
2.
Landasan teori yang digunakan untuk merumuskan pengertian
membaca itu berbeda-beda.
3.
Kenyataan bahwa membaca adalah
kegiatan mental yang sangat
rumit dan unik.
3.
Tujuan perumusan pengertian
membaca itu berbeda-beda.
4.
Aspek yang ditekankan berbeda
5.
Perumusnya berbeda
6.
Ruang lingkup yang tercakup
dalam definisi itu berbeda Jika diamati, perbedaan antara pengertian-pengertian
membaca itu lebih bukan pada substansipengertiannya, melainkan terletak pada
lingkup masalah yang dimasukkan dalam pengertian itu.
Berdasarkan
substansinya,pengertian-pengertian membaca itu dapat diklasifikasikan menjadi
tigagolongan, yaitu:
1.
Pengertian Sederhana, yaitu
pengertian yang memandang membaca sebagai proses pengenalan simbol-simbol
tertulis bermakna.
2.
Pengertian agak luas, yaitu
pengertian yang memandang membaca sebagai proses memahamibacaan.
3. Pengertian luas, yaitu pengertian
yang memandang membaca sebagai proses mengolah bacaan yaitu memaknai
bacaan secara mendalam, meliputi proses memberikan reaksi kritis-kreatif
terhadap bacaan itu. Definisi ini sering disebut sebagai definisi modern, yang
mendasarkan diri pada pandangan modern tentang membaca.
Gambaran proses membaca sebagai suatu
proses, membaca merupakan kegiatan yang sangat kompleks. (Burns,1996)
menjelaskan bahwa dalam proses membaca itu terlibat berbagai aspek yang
meliputi:
1.
Aspek sensori, yakni kemampuan
untuk memahami simbol- simbol tertulis
2.
Aspek persepsi, yakni aspek
kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat pembaca sebagaisimbol atau kata
3.
Aspek urutan, yakni kemampuan
mengikuti poal-pola urutan, logika, dan gramatika teks
4.
Aspek pengalaman, yakni aspek
kemampuan menghubungkan kata-kata dengan pengalaman yang telah dimiliki untuk
memberikan makna itu
5.
Aspek asosiasi, yakni aspek
kemampuan mengenal hubungan antara simbol dan bunyi, dan antarakata-kata dengan
yang di representasikan
6.
Aspek belajar, yakni aspek
kemampuan untuk mengingat apa yang telah dipelajari dan menghubungkannya dengan
gagasan atau fakta yang baru dipelajari
7.
Aspek afektif, yakni aspek
kemampuan untuk membuat inferensi dan evaluasi dan materi yangdipelajari
8.
Aspek konstruktif, yakni
kemampuan untuk mengkonstruksi makna bacaan.
Gambaran mengenai proses membaca
itumengisyaratkan bahwa proses membaca berlangsung kompleks dan rumit. Akan
tetapi, gambaran yang rumit itu secara garis besar dapat diuraikan sebagai
berikut:
1.
Tahap memindai simbol bahasa
yang berupa huruf, kelompok huruf, dan kata sebagai input grafis.
2.
Tahap
mengangkat makna
simbol bahasa yang berupa huruf, kelompok huruf, dan kata itu menurut
satuan-satuannya, yaitu makan frasa, klausa dan kalimat.
3.
Tahap mencari data berupa
pengetahuan dalam skemata yang relevan dengan topik yang dibahas dalam bacaan.
4.
Tahap mengintegrasi pengetahuan
yang relevan itu dengan makna yang diperoleh dari satuan-satuan bahasa (hasil
kegiatan tahap kedua).
5.
Tahap memahami makna bacaan
berdasarkan interaksi antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan makna
teks bacaan.
b. Teori membaca
Model teori membaca lahir dari
perspekif bagaimana makna diangkat dari bacaan. Inti proses membacaadalah
seseorang berusaha memahami isi pesan penulis yang tertuang dalam bacaan.
Pemeroleh makna berangkat dari beragam sudut. Dari sudut itulah pandangan para
ahli dibedakan. Ada tiga pandangan tentang bagaimana makna diperoleh yang
melahirkan tiga model teori membaca. Tiga model teori itu antara lain:
1) Model Teori Bottom-Up
Memandang bahwa bahasa yang mewadahi
teks menentukan pemahaman. Secara fisik, ketika orang melakukan kegiatan
membaca, yang dipandang adalah halaman-halaman bacaan yang posisinya dibawah (kecuali membaca sambil tiduran). Secara
literal,bottom-up berarti dari bawah
keatas. Maksudnya, makna itu berasal dari bawah (teks) menuju ke atas
(otak atau kepala). Secara harfiah, menurut teori ini teks-lah yang menentukan
pemahaman. Inti proses membaca menurut teori ini adalah proses kengkodean
kembali simbol tuturan tertulis (Harris & Sipay, 1980).
Membaca dalam proses bottom-up
merupakan proses yang melibatkan ketepatan, rincian, dan rangkaian persepsi dan
identifikasi huruf-huruf, kata-kata, pola ejaan, dan unit bahasa lainnya.Tugas
utama pembaca menurut teori ini adalah mengkode lambang-lambang yang tertulis
menjadibunyi-bunyi bahasa (Harjasuna, 1996), Brown (2001) menyatakan bahwa pada
proses bottom-up membaca terlebih dahulu mengetahui berbagai tanda linguistik,
seperti huruf, morfem, suku kata,
kata-kata frasa, petunjuk gramatika dan tanda wacana, kemudian menggunakan mekanisme
pemrosesan yang masuk akal, koheren dan bermakna.
Demikian halnya dalam
membaca pemahaman melalui teknik SQ3R, model teori Battom-up sangat
berpengaruh. Agar bisa memahami bacaan pada teori ini, pembaca membutuhkan
keterampilan yang berhubungan dengan lambang bahasa yang digunakan dalam teks.
2) Model Teori Top-Down
Teori ini
dikenal sebagai model psikolinguistik dalam membaca dan teori ini dikembangkan pada era tahun 70-an. Model ini memandang kegiatan membaca
sebagai bagian dari proses pengembangan skemata
seseorang yakni pembaca secara stimultan (terus-menerus) menguji dan menerima
atau menolak hipotesis yang ia buat sendiri pada saat proses membaca
berlangsung. Pada model ini, informasi grafis hanya digunakan untuk mendukung
hipotesa tentang makna.
Pembaca tidak banyak lagi membutuhkan
informasi grafis dari bacaan karena mereka telah memiliki modal bacaan sendiri
untuk mengerti bacaan. Proses membaca model ini dimulai dengan hipotesis dan
prediksi-prediksi kemudian memverifikasinya dengan menggunakan stimulus yang
berupa tulisan yang ada pada teks. Inti dari model teori Top-down adalah
pembaca memulai proses pemahaman teks dari tataran yang lebih tinggi.
Pembaca memulai tahapan membacanya
dengan membaca prediksi-prediksi, hipotesis-hipotesis, dugaan-dugaan berkenaan
dengan apa yang mungkin ada dalam bacaan, bermodalkan pengetahuan tentang isi
dan bahasa yang dimilikinya, Untuk membantu pemahaman dengan menggunakan teori
ini, pembaca menggunakan strategi yang didasarkan pada penggunaan petunjuk semantik
dan sintaksis, artinya untuk mendapatkan makna bacaan, pembaca dapat
menggunakan petunjuk tambahan yang berupa kompetensi berbahasa yang ia miliki.
Jadi, kompetensi berbahasa dan pengetahuan tentang apa saja memainkan peran penting dalam membentuk makna bacaan.
Jadi menurut teori Top-down dapat disimpulkan bahwa pengetahuan, pengalaman dan
kecerdasan pembaca diperlukan sebagai dasar dalam memahami bacaan.
Sehubungan dengan teknik SQ3R model
teori Top-Down, pembaca mendapatkan pemahaman dengan tahapan yang lebih tinggi.
Pada saat membaca teks dengan model teori tersebut, pembaca dapat memahami bacaan dengan baik
3) Model Teori
Interaktif
Model ini merupakan kombinasi antara
pemahaman model Top-Down dan model Bottom-Up. Pada model interaktif, pembaca
mengadopsi pendekatan top-down untuk memprediksi makna, kemudian beralih ke
pendekatan bottom-up untuk menguji
apakah hal itu benar-benar dikatakan oleh penulis. Artinya, kedua
model tersebut terjadi secara stimultan pada saat membaca.
Penganut teori ini memandang bahwa
kegiatan membaca merupakan suatu interaksi antara pembaca dengan teks. Dengan
teori itu, dijelaskan bagaimana seorang pembaca menguasai, menyimpan dan
mempergunakan pengetahuan dalam format skemata. Kegiatan membaca adalah proses
membuat hubungan yang berarti bagi informasi baru dengan pengetahuan yang
dimiliki sebelumnya (skemata). Menurut pandangan interaktif, membaca diawali dengan formulasi tentang
hipotesis tentang makna, kemudian dilanjutkan dengan menguraikan makna huruf,
kata, dan kalimat dalam bacaan.
Model interaktif adalah model membaca
yang menggunakan secara serentak antara pengetahuan informasigrafik dan
informasi yang ada dalam pikiran pembaca. Proses membaca menurut pandangan
interaktif adalah proses intelektual yang kompleks, mencakup dua kemampuan
utama, yaitu kemampuan memahami makna kata dan kemampuan berpikir tentang
konsep verbal (Rubin, 1982). Pendapat ini mengisyaratkan bahwa ketika proses
membacaberlangsung, terjadi konsentrasi dua arah pada pikiran pembaca dalam
waktu yang bersamaan. Dengan teknik SQ3R, dalam melakukan aktivitas membaca, pembaca
secara aktif merespon dan mengungkapkan
bunyi tulisan dan bahasa yang digunakan oleh penulis.
Selain itu, pembaca dituntut untuk
dapat mengungkapkan makna yang terkandung di dalamnya atau makna yang ingin
disampaikan oleh penulis melalui teks yang dibacanya. Kesimpulannya, dapat
dikatakan bahwa membaca pemahaman merupakan proses aktif yang didalamnya
melibatkan banyak faktor. Keterlibatan faktor-faktor itu bertujuan untuk memperoleh
pemahaman melalui proses interaksi antara pembaca dengan bacaan dalam peristiwa
membaca. Ketiga model teori membaca di atas mewarnai pandangan para ahli
tentang membaca. Jika diamati secara teliti, tulisan atau bahasan tentang
membaca dalam buku-buku dan jurnal-jurnal, sedikit atau banyak, menyentuh
ketiga teori di atas. Selalu ada benang merah yang menghubungkan pandangan para
ahli dengan model teori membaca di atas.
c. Hakikat Membaca
Hakikat membaca adalah suatu proses
yang kompleks dan rumit karena dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal
yang bertujuan untuk memetik atau
memahami arti atau makna yang ada dalam tulisan. Tujuan membaca memberi
detail atau fakta, menemukan gagasan utama,
menemukan urutan atau organisasi, bisa menyimpulkan, menemukan informasi
yang diperlukan, mengklasifikasikan, menilai, membandingkan, dan lain-lain.
Adapun jenis–jenis membaca, yaitu:
1.
Membaca Nyaring (oral reading )
Membaca nyaring
ialah suatu kegiatan membaca, yang merupakan alat bagi pembaca, bersama orang lain, untuk
menanggap isi yang berupa informasi,
pikiran, dan perasaan seorang pengarang. Dengan kata lain, membaca
nyaring adalah proses melisankan dengan menggunakan suara, intonasi, tekanan
secara tepat, serta pemahaman makna bacaan oleh pembaca.
2.
Membaca Dalam Hati
Membaca dalam hati ialah kegiatan membaca yang
hanya menghandalkan kemampuan fisual, pemahaman, serta ingatan dalam menghadapi
bacaan tanpa mengeluarkan suara atau
menggerak – gerakkan bibir.
3.
Membaca skimming dan skaning
Membaca skimming adalah
membaca dengan cepat suatu bahan bacaan untuk mendapatkan kesan
awal untuk menemukan suatu informasi
yang kita cari, yang ada dalam bacaan. Perbedaan membaca skimming dengan
membaca skaning adalah kalau membaca skimming untuk memperoleh kesan umum. Sedangkan kalau membaca skaning adalah Membaca dengan tujuan untuk mendapatkan informasi
khusus saja.
Membaca
intensif ialah kegiatan membaca sebuah bacaan secara
telitih, dengan tujuan memahami secara rinci. Menurut H G Tarigan membaca intensif
ialah membaca yang dilakukan secara seksama dan merupakan suatu upaya untuk
mengasah kemampuan membaca secara kritis. Menurut Brook ( Tarigan, 19830 Membaca
intensif ialah telaah terinci secara pemahaman terinci terhadap suatu bacaan.
Kesimpulannya membaca intenif ialah kegiatan membaca yang dilakukan dengan penuh seksama terhadap bahan bacaan sehingga
timbul pemahaman yang tinggi
4.
Membaca telaah isi
Membaca telaah isi ialah membaca yang dilakukan untuk menelaah isi bacaan.
Membaca telitih atau pemahaman ialah
kegiatan membaca yang bertujuan untuk memperoleh pengertian atau
memahami bahan bacaan secara cepat dan tepat.
5.
Membaca Kritis
Kegiatan membaca yang
dilakukan secara bijaksana , mendalam efektif, analisis, dan bukan ingin
mencari kesalahan penulis. Dalam membaca kritis diperlukan kemampuan berpikir
bersikap kritis dalam mengolah bahan bacaan. Kemampuan berfikir dan bersikap
kritis meliputi:
a)
Kemampuan mengingat dan
mengenali bahan bacaan, kemampuan mengenali tokoh, bisa mengenali opini dan fakta, bisa membedakan antara fakta dan opini.
b)
Kemampuan menginterpretasi
makna yang tersirat, mengenali,
menafsirkan ide pokok, memahami secara
kritis hubungan sebab akibat
c)
Kemampuan mengaplikasi
konsep, ditandai dengan membaca
petunjuk, menerapkan konsep bacaan dalam
situasi baru.
d)
Kemampuan menganalisis,
menganalisis alur cerita, mengklasifikasikan fakta atau detail penunjang.
e)
Kemampuan membuat sintesis,
menarik simpulan, menentukan tema bacaan,
membuat singkatan.
f)
Kemampuan menilai isi bacaan,
menilai sebuah bacaan diangkat dari realitas atau imajinasi pengarang, menilai
suatu pernyataan itu opini atau fakta.
6.
Membaca Cepat
Membaca cepat
ialah kegiatan membaca yang dilakukan
secara cepat, disertai dengan pemahaman terhadap isi bacaan. Kecepatan membaca
bisa disebut kemampuan membaca.
Kemampuan membaca ialah kecepatan
yang dicapai pembaca berdasarkan rumus jumlah banyaknya kata dibagi dengan
waktu yang diperlukan dikalikan dengan jumlah detik dalam 1 menit.
Rumus membaca efisien
ialah pembaca yang mempunyai kecepatan
membaca sesuai dengan bahan bacaan yang dihadapi dengan tujuan membacanya.
a)
Membaca secara cepat antara
350–500 digunakan untuk membaca fiksi yang agak sulit .
b)
Membaca dengan kecepatan rata –
rata antara 250-350 untuk membaca fiksi mendapatkan detail pentingnya saja .
c)
Membaca lambat, digunakan untuk
mempelajari bahan–bahan sulit, membuat analisis, memecahkan masalah. Selain itu
ada juga cara membaca cepat dan hambatannya :
(1)
Vokalisasi (bibir
bergerak – gerak )
(2)
Leher bergerak kekanan ke kiri
(3)
Menunjuk jari
(4)
Regresi ( mata bergerak kembali
ke belakang untuk membaca ulang suatu kata yang telah dibacanya )
(5)
Subvokalisasi
7.
Membaca Paragraf
Membaca paragraf ialah
satuan pengembangan terkecil,
dari suatu karangan . Dalam
paragraf mengandung pikiran pokok
atau gagasan utama dijabarkan oleh
kalimat penjelas. Kalimat – kalimat yang membentuk satu paragraf itu dibagi menjadi 2 yaitu kalimat topik, kalimat penjelas. Kalimat
topik ialah kalimat yang mengandung pikiran pokok paragraf. Cara – cara
meletakkan kalimat topik adalah: 1) diawal paragraph, 2) diakhir paragraf, 3)
diawal dan akhir paragraf, 4) diseluruh paragraf.
3. Teknik SQ3R
a. Pengertian Teknik SQ3R
SQ3R ialah teknik membaca yang telah diperkenalkan oleh Robinson pada tahun 1961. Dalam
sistem membaca terlebih dahulu melakukan survei bacaan untuk mendapatkan
gagasan umum apa yang akan kita baca lalu dengan mengajukan berbagai pertanyaan
pada diri sendiri yang jawabannya diharapkan terdapat dalam bacaan sehingga
bacaan tersebut lebih mudah dipahami.
Pembelajaran SQ3R adalah teknik membaca
yang dapat mengembangkan metakognitif peserta didik, yaitu dengan menugaskan
peserta didik untuk membaca bahan belajar secara cermat dan seksama (pelajaran
membaca di Sekolah Dasar berdasarkan penggolongan jenis dan kelas).
Teknik SQ3R adalah salah satu teknik
membaca untuk memahami isi bacaan yang
menggunakan langkah-langkah secara sistematis dalam pelaksanaanya. Teknik SQ3R
merupakan suatu kaidah membaca yang memerlukan sesorang memperoleh kesusuaian
maklumat yang terdapat dalam suatu bahan yang dibaca dengan tugasan yang perlu
disesuaikan.
b.
Karakteristik Startegi SQ3R
Yang dapat digunakan dalam pembelajaran
membaca untuk meningkatkan daya ingat dan pemahaman peserta didik terhadap isi
bacaan. SQ3R merupakan singkatan dari dari kata Survey (membaca sekilas), Question
(bertanya), Reading (membaca), Recite (menjawab), dan Review (meninjau kembali). Dimana dalam
menggunakan model ini, sebelum membaca kita melakukan survei untuk memperoleh
gambaran umum dari suatu bacaan dengan cara melihat bagian permukaan dan akhir.
Setelah mensurvei buku dapat dirumuskan beberapa pertanyaan untuk
diri sendiri tentang bacaan tersebut yang diharapkan jawabannya ada didalam
buku. Hal ini akan membantu dan menuntun kita memahami bacaan. Dengan bekal
rumusan pertanyaan-pertanyaan tadi, barulah kita membaca. Pertanyaan itu merupakan
penentuan yang dapat membantu pembaca menemukan informasi yang di inginkannya
dengan cepat
c.
Langkah-langkah Metode SQ3R
Depdikbud (2009) Metode SQ3R dalam penerpannya
memiliki alur dan prosedur sebagai berikut:
a)
Tahap
Membaca Sekilas (Survey)
Pada tahap awal peserta didik diarahkan untuk
memperhatikan judul yang ditulis di papan tulis. Selanjutnya, peserta didik
membaca teks dalam beberapa menit secara sekilas untuk mengenal detil-detil
informasi penting dan garis besar isi teks sebelum membaca bacaan secara
lengkap.
b)
Tahap
Menyusun Pertanyaan (Question)
Setelah peserta didik membaca secara sekilas (buku
ditutup sementara), peserta didik menyusun pertanyaan sesuai dengan yang mereka
telah peroleh saat membaca sekilas. Pertanyaan tersebut ditulis oleh guru di
papan tulis. Bila pertanyaan yang disusun kurang maksimal mendorong mereka
untuk memahami isi bacaan 60% ke atas. Guru dapat mengemukakan
jawaban sebagai pancingan untuk membuat pertanyaan. Tahap ini peranan bimbingan
guru sangat menentukan untuk efekivitas tahap berikutnya.
c)
Tahap
Membaca (Reading)
Pada tahap ini guru mempersilahkan peserta didik
untuk membaca kembali bukunya secara saksama sambil memperhatikan
pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sebelumnya, waktu yang diberikan
relatif lebih lama dibanding pada tahap Survey. Setelah itu, peserta didik
diminta untuk menutup bukunya kembali.
d)
Tahap
Menjawab Pertanyaan (Recite)
Pada tahap ini guru mengarahkan peserta didik
untuk menjawab pertanyaan yang telah ditulis di papan tulis, pertanyaan yang
jawabannya belum sempurna tidak langsung dibahas sampai tuntas oleh guru tetapi
diberi kesempatan pada tahap berikutnya untuk disempurnakan oleh peserta didik
melalui bimbingan guru.
e)
Tahap
Meninjau Ulang (Review)
Pada tahap ini peserta didik diarahkan membaca
kembali teks untuk meninjau atau menyempurnakan seluruh jawabannya, jawaban
yang belum tuntas pada tahap sebelumnya, dibahas oleh peserta didik melalui
bimbingan guru.
d.
Penerapan Metode SQ3R
Depdikbud (2009)
teknik SQ3R pada tahap awal lebih
efektif dilakukan secara kelompok kecil agar peserta didik dapat menyusun
pertanyaan dan menjawab petanyaan dengan tepat dan cepat. Melalui kerja
kelompok peserta didik saling bekerja sama dan saling membantu sehingga tidak
terasa sangat sulit menyusun dan menjawab pertanyaan dengan tepat, dengan
demikian tahap kegiatan pembelajaran membaca berikutnya dapat dilakukan dengan
baik seperti meringkas bacaan, menceritakan kembali memberi pertanyaan
aplikatif atau apresiasif.
e.
Manfaat Metode SQ3R
Membaca
dengan SQ3R dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah yang terdapat dalam singkatan
SQ3R tersebut. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dengan metode tersebut,
a)
Dengan mensurvei buku terlebuh
dahulu, peserta didik akan mengenal organisasi tulisan dan memperoleh kesan
umum dari buku. Hal ini akan mempercepat pemahaman terhadap buku tersebut;
b)
Pertanyaan-pertanyaan yang
telah disusun tentang apa yang peserta didik baca akan membangkitkan
keingintahuan dan membantu kita untuk membaca dengan tujuan mencari
jawaban-jawaban yang penting, serta akhirnya akan meningkatkan pemahaman dan
mempercepat penguasaan seluruh isi buku;
c)
Dapat melakukan kegiatan
membaca secara lebih cepat karena dipandu oleh langkah-langkah sebelumnya,
yaitu mensurvei buku dan menyusun pertanyaan bacaan;
d)
Catatan-catatan tentang buku
yang dibaca dapat membantu kita memahami secara cepat dan membantu ingatan
kita. Mencatat fakta-fakta serta ide-ide yang penting akan menamankan kesan
yang mendalam pada ingatan kita
e)
Melalui langkah terakhir, yaitu
review atau mengulangi; kita akan
memperoleh penguasaan bulat, menyeluruh atas bahan yang kita baca.
B.
Kerangka Pikir
Penerapan metode
pada pelajaran membaca pemaaman dengan SQ3R dalam
proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang mengacu pada KTSP memegang peranan
penting. Pembelajaran Bahasa Indonesia meliputi pembelajaran menyimak,
berbicara, membaca dan menulis. Dalam penelituan ini yang akan dibahas adalah
pembelajaran membaca yaitu membaca memahami teknik SQ3R. Pembelajaran membaca
memahami akan lebih efektif karena dapat memperkuat pemahaman peserta didik
tehadap informasi yang dibacanya.
Penelitian peningkatan membaca memahami melalui teknik SQ3R dalam pembelajaran ini didesain dengan desain
Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penerapanya terdiri atas beberapa siklus,
yakni siklus pertama dan siklus lanjutan. Siklus lanjutan marupakan pembenahan
masalah baru pada siklus sebelumnya.
Siklus I terdiri dari 3 kali pertemuan, sedangkan pada siklus II terdiri
dari 3 kali pertemuan yang masing-masing akan dideskripsikan setelah teknik
membaca memahami SQ3R tersebut diterapkan dalam pembelajaran.
Salah satu kelebihan dari teknik ini adalah peserta
didik dapat memperkuat pemahamannya terhadap informasi yang dibacanya. Hal ini
pun akan menambah daya ingatnya terhadap apa yang dibacanya melalui tahapan yang terdapat dalam metode SQ3R. Kerangka pikir tersebut adalah dapat digambarkan pada sebuah bagan
sebagai berikut:
Gambar 1.1 Kerangka Pikir
C. HipotesisTindakan
Penerapan
penggunaan metode SQ3R dalam pembelajaran
membaca pemahaman pada kelas VI di SD Negeri 2 Batu dapat :
1. Meningkatkan
kualitas pembelajaran bahasa khususnya aspek membaca pemahaman.
2. Meningkatkan kemampuan
membaca pemahaman peserta
didik kelas VI
SD Negeri 2 Batu
Kondisi
pembelajaran membaca pemahaman sebelum tindakan:
1. Kondisi
pembelajaran membaca pemahaman pada
kelas VI SD Negeri 2 Batu masih
terbatas sekedar membaca.
2. Kemampuan
peserta didik pada kelas VI
SD Negeri 2 Batu dalam membaca pemahaman masih rendah
Observasi, Refleksi, Perencanaan dan Penerapan Metode SQ3R
Kondisi akhir setelah tindakan:
1. Pembelajaran
Membaca pemahaman lebih baik dengan metode SQ3R
2. Kemampuan
membaca pemahaman peserta didik meningkat
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis
penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (classroom action research).
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan
perbaikan pembelajaran dengan berfokus pada upaya peningkatan kemampuan membaca
pemahaman dengan metode SQ3R. Pada hakikatnya penelitian tindakan kelas adalah sebuah tindakan yang
bersumber dari refleksi diri yang dilakukan oleh seorang guru kemudian didesain untuk memecahkan masalah-masalah dalam prose pembelajaran secara langsung di dalam kelas.
Tahap-tahap
pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini terdiri atas empat komponen. Keempat komponen tersebut, yaitu perencanaan
(planning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflectoan).
Selanjutnya, keempat komponen tersebut dirangkaikan dalam suatu siklus
kegiatan.
B. Variabel Penelitian
Variabel
merupakan suatu tema
sentral yang akan menjadi fokus
perhatiannya peneliti
pada penerapan metode SQ3R untuk
peserta didik kelas VI SD Negeri 2 Batu Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng Rappang. Penelitian dilakukan
dengan melakukan perbandingan
antara metode SQ3R dengan konvensional dalam upaya peningkatan kemampuan membaca pemahaman pada peserta didik sebagai
solusi yang tepat untuk meningkatkan kemampuan membaca dari peserta didik.
C. Definisi Operasional
Pembelajaran SQ3R adalah teknik membaca yang dapat mengembangkan metakognitif
peserta didik, yaitu dengan menugaskan peserta didik untuk membaca bahan
belajar secara cermat dan seksama (pelajaran membaca di Sekolah Dasar
berdasarkan penggolongan jenis dan kelas). Dalam menggunakan teknik ini tentu
saja seorang pembaca perlu menentukan terlebih dahulu tujuan membacanya.
Pembaca juga perlu menentukan informasi fokus yang dibutuhkannya. Setelah itu,
barulah ia menggunakan teknik SQ3R ini untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
D. Desain Penelitian
Desain dalam penelitian ini adalah desain deskriftif
kualitatif, maksudnya
data yang terkumpul
dideskripsikan secara kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus,
setiap siklus dilakukan sesuai situasi yang terjadi di dalam kelas. Siklus I
selama 3 kali pertemuan, dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan. Pada siklus II selama 3 kali pertemuan, tindakan mengalami perubahan
karena hasil yang dicapai pada silkus I belum mencapai KKM. Kegiatan yang
dilakukan dalam tahap pelaksanaan tindakan kelas ini seperti diuraikan berikut
ini.
Sebelum
melakukan tindakan, guru (peneliti) membuat lembar observasi untuk melihat
pembelajaran di kelas pada saat pelaksanaan tindakan dan membuat tes siklus I.
a. Tahap Tindakan
1. Memberikan pelajaran sesuai dengan unit
pelajaran yang akan dipelajari. pada saat penerapan, guru memberikan Penerapan
metode SQ3R.
2. Peserta didik menyelesaikan soal latihan
yang telah ditentukan oleh guru.
Selanjutnya guru (peneliti) membimbing dan
mengawasi secara langsung pekerjaan peserta didik serta menilai apakah sudah
benar atau perlu diperbaiki. Pada akhir
pertemuan ditarik kesimpulan dan guru memberikan PR sebagai latihan di rumah.
Pada akhir setiap subpokok bahasan
diadakan tes dalam bentuk teks. Tes ini bertujuan untuk melihat serta
mengetahui apakah peserta didik telah menguasai materi pelajaran sesuai dengan
patokan yang telah ditetapkan atau belum.
Memeriksa hasil tes dan menelaah
kesulitan-kesulitan yang muncul dan mengelompokkan peserta didik yang belum
dalam penguasaan materi suatu subpokok bahasan. Untuk peserta didik yang belum
mencapai tingkat penguasaan yang dituntut diberikan pertolongan khusus,
misalnya membimbing peserta didik secara khusus, memberikan latihan
soal-soal bagi peserta didik tersebut serta diberikan kesempatan
menanyakan hal-hal yang belum dipahaminya.
Setelah pemberian pertolongan khusus kepada
peserta didik yang belum menguasai materi pelajaran, maka pada akhir pokok
bahasan seluruh peserta didik diberikan ulangan harian yang berisi soal-soal
pemecahan masalah untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam pemecahan
masalah dan memeriksa hasil tes dengan berpedoman pada teknik
penskoran yang dipilih.
b. Observasi dan Evaluasi
Observasi dilakukan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan
lembar observasi yang telah dipersiapkan dengan mencatat semua kejadian yang
terjadi dalam pelaksanaan tindakan serta mengadakan evaluasi.
c. Refleksi
Selama pelaksanaan siklus I diadakan
refleksi dengan tujuan untuk memperbaiki pelaksanaan pengajaran pada siklus
berikutnya. Dengan memberikan perhatian khusus kepada peserta didik yang belum
tuntas hasil belajarnya yang diperoleh dari hasil tes siklus I, sehingga
pelaksanaan siklus II dapat diperoleh hasil yang optimal.
- Gambaran Siklus II
Langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus
II ini relatif sama dengan perencanaan dan pelaksanaan dalam siklus I dengan
mengadakan beberapa perbaikan.
Merumuskan tindakan selanjutnya berdasarkan
hasil refleksi siklus I, yaitu dengan memberikan perhatian dan penekanan khusus
kepada peserta didik yang belum tuntas hasil belajarnya sesuai dengan patokan
yang telah ditetapkan.
Melaksanakan tindakan siklus II.
Pemberian tes
terhadap peserta didik. Tindakan
penelitian yang berbentuk spiral mengacu pada model penelitian tindakan kelas
oleh Stephen Kemmis dan Mc Taggarat (dalam Takari, 2010) sebagai berikut:
E. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah peserta
didik kelas VI SD Negeri 2 Batu Kabupaten Sidenreng Rappang yang berjumlah 12 orang dengan rincian peserta didik laki-laki 6 orang dan peserta didik perempuan sebanyak 6 orang.
F.
Instrumen Penelitian
1.
Tahap
Membaca Sekilas (Survey)
Pada tahap awal peserta didik diarahkan untuk
memperhatikan judul yang ditulis di papan tulis. Selanjutnya, peserta didik
membaca teks dalam beberapa menit secara sekilas untuk mengenal detil-detil
informasi penting dan garis besar isi teks sebelum membaca bacaan secara
lengkap.
2.
Tahap
Menyusun Pertanyaan (Question)
Setelah peserta didik membaca secara sekilas (buku
ditutup sementara), peserta didik menyusun pertanyaan sesuai dengan yang mereka
telah peroleh saat membaca sekilas. Pertanyaan tersebut ditulis oleh guru di
papan tulis. Bila pertanyaan yang disusun kurang maksimal mendorong mereka
untuk memahami isi bacaan 60% ke atas. Guru dapat mengemukakan
jawaban sebagai pancingan untuk membuat pertanyaan. Tahap ini peranan bimbingan
guru sangat menentukan untuk efektivitas tahap berikutnya.
3.
Tahap
Membaca (Reading)
Pada tahap ini guru mempersilahkan peserta didik
untuk membaca kembali bukunya secara saksama sambil memperhatikan
pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sebelumnya, waktu yang diberikan
relatif lebih lama dibanding pada tahap Survey. Setelah itu, peserta didik
diminta untuk menutup bukunya.
4.
Tahap
Menjawab Pertanyaan (Recite)
Pada tahap ini guru mengarahkan peserta didik
untuk menjawab pertanyaan yang telah
ditulis di papan tulis, pertanyaan yang jawabannya belum sempurna tidak
langsung dibahas sampai tuntas oleh guru tetapi diberi kesempatan pada tahap
berikutnya untuk disempurnakan oleh peserta didik melalui bimbingan guru.
5.
Tahap
Meninjau Ulang (Review)
Pada
tahap ini peserta didik diarahkan membaca kembali teks untuk meninjau atau
menyempurnakan seluruh jawabannya, jawaban yang belum tuntas pada tahap
sebelumnya, dibahas oleh peserta didik melalui bimbingan guru.
G. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan
dalam penelitian ini seperti yang diuraikan berikut ini.
a.
Observasi
Metode pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap obyek yang diamati serta
tindakan penanggulangan yang berhubungan secara langsung dengan masalah yang
dibahas.
b.
Tes
Jenis tes yang dilakukan pada
penelitian ini adalah tes tertulis dalam bentuk teks. Teks yang digunakan dalam
mengumpulkan data berupa lembar tes. Tes ini dilakukan setelah keseluruhan
proses pembelajaran setiap siklus berakhir yang bertujuan untuk mengetahui
perkembangan kemampuan peserta didik secara individu dan klasikal.
- Wawancara / interview
Metode pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan
maksud peneliti mengajukan pertanyaan sesuai dengan masalah yang diangkat.
Yaitu dengan cara melakukan wawancara terhadap mitra guru, dan peserta didik.
H. Teknik Analisis Data
Data yang telah terkumpul
dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif deskriptif. analisis
deskriptif yaitu analisis dalam bentuk uraian
deskripsi untuk menguraikan hasil yang dicapai peserta didik pada setiap siklus. Kemudian nilai tersebut
dikategorisasikan. Kategori yang digunakan untuk menentukan kategori skor
adalah skala 5 dari Departemen Pendidikan Nasional, yaitu:
Nilai
0 – 20 dikategorikan sangat
rendah.
Nilai 21 - 40 dikategorikan rendah.
Nilai 41 - 60 dikategorikan sedang.
Nilai 61 - 80 dikategorikan tinggi.
Nilai 81 - 100 dikategorikan sangat tinggi.
Teknik Analisis data yang dilakukan untuk
menarik kesimpulan yaitu dengan melakukan perbandingan hasil penilaian pretest peserta didik dengan hasil
nilai post test dimana dari ke dua indikator tersebut dapat di ketahuai
pengaruh penerapan metode SQ3R untuk peserta didik.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali,
Mohammad. 1987. Guru dalam Proses Belajar
Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Anita , 2014. Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Melalui Model
Pembelajaran Artikulasi Pada Murid Kelas V Sd. Inpres Mallengkeri Bertingkat Makassar. Universitas Muhammadiyah Makassar.
Depdikbud.
1999. Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Rosda Karya.
Depdiknas,
2009. Pembelajaran Membaca. Modul-Suplemen
KKG Bermutu
Farida,
Rahim. (2007). Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta:
Bumi Aksara.
Haling.
2004. Belajar proses psikologis yang berlangsung dalam
interaksi aktif subjek dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan-perubahan
dalam pengetahuan, keterampilan yang bersifat permanen.
Hamalik, Oemar. 2002. Proses
Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Harris. A, dan Sipay,
E. 1980. How to Increase
Reading Ability. New
York:
Longman,
Inc.
Hudojo, Herman. 2003. Pengembangan
Kurikulum dan Pembelajaran Membaca. Malang: UnVIersitas Negeri Malang.
Indriani, M.
S. 2006. Modul Keterampilan
Membaca III. Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha.
Khuzaimatun, Siti .2009. Upaya Meningkatkan KemampuanMembaca Pemahaman Dengan Metode SQ3R Pada
Siswa Kelas X.3 SMA Negeri 1 Sumberlawang. Universitas Sebelas Maret Surakarta
Ni L. Oka Purniawati, dkk. 2014. Pengaruh
Strategi pembelajaran SQ3R Bermedia Powerpoint terhadap Kemampuan Membaca Pada
Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD Gugus III Kecamatan Gianyar. Jurusan
Pendidikan Sekolah Dasar, FIP Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja,
Indonesia
Mawadah,
Ade Husnul. (2011). Panduan Pendidik: Strategi Belajar Mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta:
Multazam Mulia Utama.
Siskalia
. 2014 Peningkatan
Kemampuan Membaca Pemahaman Menggunakan Metode
Survey Question Read Recite Review
(SQ3R) Di Sekolah Dasar. Universitas
Tanjungpura Pontianak.
Slameto. 2003. Belajar
dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta..
Sudiana,
Nyoman. 2007. Membaca.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Tarigan, Guntur, Henry.
1983. Membaca Ekspresif . Bandung:
Angkasa.
Wardani,
IGK. 2007. Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta : Universitas Terbuka.

Komentar
Posting Komentar