Menjelajahi potensi destinasi wisata di Bumi Sandobatu Desa Leppangeng “
Azis, S.Pd., M.Pd
Menjelajahi potensi destinasi wisata di Bumi Sandobatu Desa Leppangeng “
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah
adalah untaian kata yang paling pantas sebagai ungkapan rasa syukur kepada
Tuhan penguasa alam semesta atas limpahan Rahmat, Karunia, Petunjuk serta bimbingannya
dalam menyusun karya ini.
Judul
yang penulis angkat dalam tulisan ini adalah “ Menjelajahi Potensi Wisata Alam, Sejarah dan Budaya di Bumi Sandobatu
Desa Leppangeng “ penulis mengangkat
judul ini sebagai bentuk
kepedulian terhadap potensi daerah yang sampai saat ini belum dikelola oleh
pemerintah setempat. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi media untuk dapat
mengenalkan potensi wisata alam, sejarah dan budaya yang ada di wilayah
komunitas Sandabatu Desa Leppangeng. Kajian tentang potensi wisata tersebut
telah lama menjadi bahan diskusi dan pembahasan baik dilingkungan masyarakat
umum, akademisi, dan pemerintah desa Leppangeng, namun sampai saat ini belum
ada realisasinya. Semoga tulisan ini bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat
bagi masyakarat dan pemerintah Desa Leppangeng dalam mewujudkan sebuah
destinasi wisata yang menarik.
Penulis
menyadari uraian dalam tulisan ini masih banyak kekurangan , oleh karenannya
saran dan masukannya sangat saya harapkan. Atas saran dan masukannya penulis
haturkan banyak terima kasih.
Sidenreng Rappang,..................2019 Penulis
AZIS
SINOPSIS
Alam, Sejarah dan Budaya adalah
bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Alam sebagai sumber
kebutuhan hidup manusia memiliki berbagai potensi yang sangat besar. Potensi
tersebut akan memberikan manfaat yang begitu besar jika dikelola dengan baik dan benar.
Melalui tulisan ini penulis akan
menguraikan potensi destinasi wisata alam, sejarah dan budaya di bumi sandobatu
Desa Leppangeng. Destinasi wisata alam di bumi Sandobatu Desa Leppangeng antara
lain air terjun Salu Makurin, Air terjun Sarambu Masiang, Air terjun
Mundung-mundung, Arum jeram dan beberapa spot foto. Wisata sejarah di Desa
Leppangeng yang potensial seperti Kuburan Tua “ Patta Bolong Aje” atau yang
lebih dikenal Puang Matindo Ri Sumbang kabona, Air terjun Mundung-mundung air
terjun ini memiliki sejarah tersendiri bagi kerajaan Bone. Kuburan Tua Nene
Puang Matindo Ri Salu Londong orangtua dari Pitu Bocco, Liku Puang tempat
sejarah Pitu Bocco dimulai dan Lamunan Patu tempat Pitu Bocco menyimpan (
Mengubur ) perjanjian mereka sebelum meninggalkan Salu Londong
Berbagai potensi wisata budaya di
Sandobatu Desa Leppangeng yang cukup menarik seperti Budaya Masara dan Majjaga,
Ritual A’da Sorong serta Ma’doja. Potensi
wisata di atas hanya sebagian kecil dari berbagai potensi wisata alam, sejarah
dan budaya di bumi sandobatu Desa Leppangeng. Harapan dengan pengembangan
destinasi wisata di bumi Sandobatu Desa Leppangeng bisa membawah dampak positif
bagi pengembangan daerah ini kedepannya.
Daftar
isi
Kata
Pengantar....
Sinopsis
Halaman
Judul
Bagian
I : Pendahuluan
1. Profil
Wilayah Sandobatu dan Desa Leppangeng
2.
Peluang
dan Tantangan pengembangan wisata di bumi Sandobatu Desa Leppangeng
Bagian II : Potensi
Wisata Alam, Sejarah dan Budaya di Bumi Sandobatu Desa Leppangeng
1.
Destinasi
wisata air terjun dan arum jeram di Desa Leppangeng
2.
Tempat
bersejarah sebagai tujuan wisata dan Riset
3.
Wisata budaya dan upaya pelestarian kearifan lokal
daerah
Bagian III :
Penutup
1.
Menanti
kebijakan pengembangan destinasi wisata di Desa Leppangeng
2.
Potensi
wisata sebagai sebuah harapan
BAGIAN
I
Pendahuluan
Profil
Wilayah Sandobatu dan Desa Leppangeng
Wilayah atau daerah
kekuasaan adalah keniscayaan bagi suatu etnis atau komunitas sebagai tempat untuk menetap dengan budaya dan
kearifan lokalnya. Komunitas Tau batu atau Sandobatu adalah sebagai kelompok
masyarakat yang telah ada dan mendiami wilayah tertentu di sebelah selatan
pengunungan Latimojong jauh sebelum NKRI di proklamasikan.
Komunitas Tau batu (
sandobatu ) telah ada jauh sebelum sebelum zaman kerajaan besar yang ada di Sulawesi Selatan,
maupun masa Addauwang Ri Sidenreng atau Addatuang Ri Sidenreng. Menurut cerita
tutur yang tumbuh dan berkembang dikalangan komunitas Tau batu ( Sandobatu )
bahwa leluhur mereka adalah Manurung ri batu yang berasal di Ma’tang ( danau )
dalam bahwa Bugis di sebut Rurak.
Rurak atau Ma’tang yang dipercaya sebagai tempat turunnya atau munculnya To Manurung Ri Batu berada di
bawah Gunung Batu Metan. Secara administrasi Wilayah ini masuk dalam wilayah
Dusun III Walawala Desa Leppangeng Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng
Rappang. Cerita ini walaupun tidak utuh dan runtut namun, komunitas Tau batu (
Sandobatu ) sangat meyakini bahwa Nene Moyang mereka adalah Manurung Ri Batu.
Hubungan antara Manurung
Ri Batu dengan Pitu Patala adalah bagian yang terputus dari sejarah komunitas Tau
batu. Pitu Patala adalah cikal bakal munculnya komunitas yang kemudian dikenal
dengan Tau batu yang bermukim di Walawala. Nene moyang komunitas To batu adalah
Patala gigi yang memiliki keturunan bernama Nene Bakkan atau yang lebih dikenal
sebagai Nene Puang Candiwi.
Perkampungan dari
masa Manurung Ri batu sampai Nene Mantari komunitas ini masih menganut
sistem ( Paroton Malai ) perkampungan
berpindah-pindah. Perkampungan menetap dimulai sejak Nene Mantari membuka
perkampungan yang bernama Walawala. Ada dua versi sejarah mengapa kampung yang
dirintis oleh Nene Mantari diberi nama Walawala. Versi pertama mengatakan bahwa Walawala berasal dari
kondisi geografis wilayah yang dikelilingi oleh pengunungan Bulu Wallawa. Versi
kedua mengatakan bahwa nama Walawala diambil berdasarkan sejarah peperangan masa lalu dimana setiap
orang batu yang akan ikut berperang akan diberangkat dengan ritual adat di
Walawala.
Menurut bahasa lokal
setempat walawala berarti “ Terhalang, Terlindung atau Pelindung” sehingga pada
zaman dahulu banyak yang pergi ke komunitas ini memohon perlindungan. Walawala
telah dikenal sejak zaman kerajaan di
Sulawesi Selatan lebih dikenal dengan nama kampongna Tau Batu. Sejarah kampung
Walawala yang diceritakan secara turun
temurun oleh para tetua kampong melalui budaya tutur dari generasi ke generasi
dengan bukti sejarah yang dapat ditelusuri yaitu sejarah pelarian Mangkau Ri Bone ke
tanah Batu.
Sejarah pelarian Raja
Bone dengan para pengawalnya telah banyak ditulis para sejarawan, namun tidak
disebutkan tempat dan daerahnya secara detail. Jalur pelarian raja Bone dari
Teluk Bone ke tanah sandobatu menurut sejarah yaitu mengikuti Sungai Awo atau
lebih dikenal dengan Sungai Alokka dikalangan komunitas Tau Batu.
Raja Bone dan
pengawalnya dalam masa pelarian menyusuri sepanjang sungai Awo ( Alokka ) melewati
wilayah komunitas tau Camma. Pelarian berlanjut sampai di muara Sungai
Lumpingan, kemudian mengikuti Sungai Lumpingan ke arah utara. Para tentara
Belanda yang terus mengejar kemudian bisa menyusul raja Bone peserta
pengawalnya di Sarambu Mundung-mundung. Pengawal raja Bone kemudian melakukan
penghadangan di atas air terjun tersebut. Setiap tentara belanda yang mencoba
memanjat air terjun akan ditembak dan jatuh ke dalam air terjun. Nama
Mundung-mundung diambil dari sejarah pertempuran pengawal raja Bone dengan
tentara Belanda yang melakukan pengejaran di air terjun ini. Mundung-mundung berasal
dari bahasa lokal Tau batu berarti bunyi
benda yang terjatuh dengan keras.
Pelarian raja Bone
dari kejaran tentara Belanda kemudian masuk di kampong Walawala. Raja Bone dan
pengawalnya kemudian mendapat perlindungan dari komunitas Tau Batu. Menurut
cerita dari tetua kampung bahwa, komunitas
Tau batu tidak dapat terus memberikan perlindungan kepada raja Bone beserta
pengikutnya karena wewangian yang digunakan oleh raja Bone tidak hilang sampai
satu bulan lamanya. Hal tersebut membuat tentara Belanda tetap dapat menemukan
keberadaan raja Bone dengan para pengikutnya di kampung Walawala. Setelah keberadaan raja Bone dengan
pengikutnya diketahui oleh tentara Belanda, para tetua Tau batu ( Sandobatu ) membawah
raja Bone meninggalkan kampung Walawala menuju ke daerah Malenyong kemudian
naik ke Lappa Kalidong dan terakhir di Pangkalian Lame.
Pelarian raja Bone
dengan pengikutnya berakhir di sini, setelah pertempuran hebat dengan tentara
Belanda akhirnya pengawal raja Bone yaitu Andi Mappanyuki meninggal dunia dan
raja Bone akhirnya ditangkap tentara Belanda. Pengawal raja Bone yang gugur
dalam pertempuran tidak membusuk justru rambut dan kukunya tetap bertambah
panjang. Mayat pengawal raja Bone diambil oleh pihak kerajaan setelah kondisi
telah aman. Tempat dimana raja Bone ditangkap oleh tentara Belanda serta tempat
pengawalnya gugur selalu diletakkan daun atau ranting diatasnya oleh masyarakat
yang melewati tempat tersebut.
Wilayah kekuasaan
Komunitas Tau batu meliputi pengunungan Latomojong sekitar Batu Metan
berbatasan dengan daerah Nating Kabupaten Enrekang. Sebelah barat berbatasan
dengan Desa Tallu ( Tanatoro ) yaitu Bulu Mallawa, terus keselatan berbatasan
dengan wilayah Tau Camma ( Compong ) di Botto Ampang dan berbatasan dengan
Lombok. Sebelah timur berbatasan dengan Buntu Buangin disekitar Botto Lalo dan
Botto Garutuk. Batas dengan Luwu ( Rambu) berada disekitar Buntu Dama terus
membujur kearah utara daerah Mauran dan Passaparan ( Passaparan artinya batas)
berbatasan dengan Tibussan ( Basten ).
Perkampungan di
wilayah Tau Batu ( Sandobatu ) pada Awalnya hanya ada satu titik perkampungan
yaitu Walawala. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah komunitas ini maka titik
perkampungan juga bertambah seperti kampung Tammapole ( Lengke ), perkampungan
tua kampong Botto pasang ( Galung atau Lappa). Semakin banyaknya populasi komunitas Tau batu (
Sandobatu ) membawah konsekuensi munculnya perkampungan baru seperti Galung, Salu tarra,
Lumpingan, Rantesiwa, Leppangeng dan Bolapetti.
Uraian singkat di
atas adalah profil tentang Bumi Sandobatu asal-usul, komunitas Tau Batu (
Sandobatu ), Sejarah dan wilayah kekuasaan Tau Batu ( Sandobatu ) Sebelum masa
kemerdekaan. Sejarah tentang perang perbatasan antara Tau Batu dengan raja-
raja disekitarnya tidak diuraikan oleh penulis dalam tulisan ini.
Desa Leppangeng adalah
desa yang terbentuk dari pemekaran Desa Lombok pada tahun 1999 di masa era
reformasi. Leppangeng dalam bahasa lokal tau batu atau bahasa Lumika berarti “ singgah” nama ini
diambil dari nama sebuah dusun yang bernama Leppangeng dalam ejaan bahasa
setempat adalah Leppangan.
Dusun Leppangeng pada
awalnya bernama Labutai ( Bau tai ) tempat ini dinamakan demikian karena suatu
waktu masyarakat yang bermukim disana diserang penyakit menular sehingga tidak
ada lagi yang bisa menolong satu sama lain sehingga kampung tersebut penuh bau
kotoran.
Sejarah munculnya
nama Dusun Leppangeng atau Leppangan dimulai ketika salah satu kampung yang terdapat di
Walawala akan dipindahkan ke Compong pada tahun 80an melalui program
transmigrasi. Masyarakat yang akan dibawah ke Compong kemudian singgah (
Lempang ) di bekas perkampungan Labutai untuk berkebun sementara sebelum
melanjutkan perjalanan ke Compong. Masyarakat yang singgah ( Lempang ) tersebut
sebagian tidak mau lagi melanjutkan perjalanan ke Compong dan memilih menetap
di sana dan berubahlah nama Labutai menjadi Leppangan.
Pada tahun 1998-1999
Desa Leppangeng menjadi desa Persiapan hasil pemekaran dari Desa Lombok. Nama
desa Leppangeng di berikan oleh tokoh Masyarakat yang bernama Basir ( Pak
Basira’) bapak dari kepala Desa Leppangeng yang pertama yaitu Aspa Basir. Nama
desa Leppangeng diambil dari nama dusun Leppangan sedangkan dusun Leppangan
berubah menjadi dusun pasangridi pada tahun 2000an.
Perubahan dusun
Leppangeng menjadi Pasangridi diakibat dusun Leppangeng dilanda tanah longsor
sehingga masyarakat di dusun tersebut mengungsi dan membuka perkampungan baru
di daerah yang bernama Pasangridi.
Desa Leppangeng sampai
saat telah mengalami 3 ( tiga ) kali pergantian kepala desa. Berikut data
priode kepemimpinan kepala Desa Leppangeng sejak terbentuk pada tahun 1999
sebagai desa persiapan.
No
|
Nama Kepala Desa
|
Masa
kepemimpinan
|
Priode Jabatan
|
1
|
Aspa Basir
|
1999 - 2007
|
2 kali
|
2
|
Anci
|
2007 - 2018
|
2 kali
|
3
|
Ilyas, S.Pt
|
2018 - sekarang
|
Priode pertama
|
Desa Leppangeng
adalah Desa yang terletak di sebelah selatan Pengunungan Latimojong, Desa ini
dikelilingi oleh pengunugan Bulu Mallawa yang membujur disebelah barat dan
pengunungan Buntu Dama serta Mauran disebelah timur. Ketinggian dari permukaan
laut (DPL) mulai pada 400 m sampai 1500 m.
Wilayah Desa
Leppangeng di aliri oleh dua sungai besar yang berhulu disekitar pengunungan
Latimojong dan bermuara langsung ke laut. Sungai Siwa yang berada di Dusun VIII Rante
Siwa dan Sungai Awo lebih dikenal oleh
masyarakat setempat sebagai Sungai Alokka. Sungai Siwa relatif kurang memiliki
anak sungai yang cukup besar sedangkan sungai Awo atau Sungai Alokka memiliki
beberapa anak sungai yang cukup besar seperti Sungai Malenyong yang dijadikan
pembangkit listrik untuk dusun III Walawala dan Dusun VI Galung yang terdapat
di Dusun III Walawala, Sungai Lumpingan, Sungai Maridi, Sungai Makurin, Sungai
Dua dan Sungai Mallan.
Desa Leppangeng
memiliki curah hujan dengan ensitas yang tinggi dengan musim penghujan yang panjang. Musim hujan
biasanya dimulai pada Bulan Desember akhir sampai awal bulan Agustus. Musim
panas dimulai awal September sampai awal Desember, hal ini dipengaruhi oleh
kondisi alam yang masih dikelilingi oleh hutan yang luas.
Sungai diatas banyak
memiliki air terjun yang cukup potensial
untuk dijadikan sebagai destinasi wisata seperti air terjun Langi-langi di
Sungai Mallan, air terjun ( sarambu ) Masiang, air terjun Tuara di sungai
Maridi, air terjun Mundung-mundung dan
air terjun batu Ara’e di Sungai Lumpingan serta air terjun Makurin di sungai
Makurin.
Sarana transfortasi yang
digunakan oleh masyarakat di Desa Leppaneng adalah sepeda motor. Kendaraan roda
empat masih sangat jarang masuk walaupun musim kemarau baru terbatas pada mobil
hartop atau mobil yang double cabin lainnya. Pada musim penghujan daerah ini
hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor
tanah yang labil pada musim hujan dan rata-rata jalan belum dilakukan
pengerasan sehingga jalan berlumpur dan
licin saat musim penghujan.
Jarak
antara satu Dusun dengan dusun yang laing saling berjauhan rata-rata 3 – 5 km
ada juga yang sampai puluhan km seperti Dusun I Bola Petti dengan Dusun III
Walawala. Empat dusun berada disebelah barat sungai Alokka yaitu Dusun I Bola
Petti, Dusun II Pasangridi, Dusun VI Tosemang dan Dusun IV Galung, sedangkan empat dusun yang lain berada
di sebelah timur Sungai Alokka yaitu Dusun III Walawala, Dusun VII Lumpingan,
Dusun V Lengke dan Dusun VIII Rante Siwa.
Desa
Leppangeng adalah salah satu desa di Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng
Rappang. Desa Leppangeng memiliki delapan dusun dengan jumlah penduduk sekitar 1500 Jiwa.
Data
Kepala dusun Desa Leppangeng
tahun
2018- sekarang
No
|
Nama Kepala Dusun
|
Nama
Dusun
|
Ket
|
1
|
Abdul Kadir
|
Bolapetti
|
|
2
|
Abdul Latif
|
Pasangridi
|
|
3
|
Anis Adriyan
|
Walawala
|
|
4
|
Hasa
|
Galung
|
|
5
|
Abdul Samad
|
Lengke
|
|
6
|
Tosemang
|
Inci
|
|
7
|
Lumpingan
|
Jusman
|
|
8
|
Rantesiwa
|
Irfan
|
Desa
Leppangeng walaupun terbilang baru akan tetapi telah memiliki banyak fasilitas umum
seperti sarana ibadah 7 unit, fasilitas sekolah Dasar 3 unit dan SMP SATAP 3 Unit
serta satu unit Satuan PAUD. Terdapat juga pabrik kopi bubuk di dusun Tosemang,
Memiliki tiga pembangkit listrik tenaga air ( Migrohidro) di Dusun Pasangridi,
Walawala dan Lengke. Akses pelayanan kesehatan juga termasuk cukup baik dengan
adanya fasilitas Poskesdes di Dusun Pasangridi yang melayani dusun Pasangridi,
Tosemang dan Dusun Galung serta Poekesdes Walawala yang melayani warga dusun
III Walawala, Dusun VII Lumpingan, Dusun v Lengke dan dusun VIII Rantesiwa.
Penghasilan utama masyarakat di Desa
leppangeng adalah bertani atau berkebun, beternak dan membuat gula merah aren.
Hasil perkebunan yang diproduksi oleh masyarakat Desa Leppangeng antara lain cengkeh, cokelat, kopi, lada dan kemiri. Hasil
perkebunan tersebut mayoritas dibawah keluar desa dengan menggunakan motor atau
mobil hartop dijual di desa Compong.
Uraian
tersebut di atas untuk memberikan sedikit pengetahuan kepada pembaca tentang
sejarah bumi Sandobatu. Semoga ulasan di atas memberi sedikit pengetahuan tentang sejarah awal
terbentuknya kampung Walawala pada masa kerajaan sampai menjadi salah satu desa
di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Peluang dan Tantangan pengembangan wisata
di bumi Sandobatu Desa Leppangeng
Kebijakan pembangunan
kawasan destinasi wisata yang diprogramkan oleh pemerintah
diarahkan pada pengembangan pariwisata sebagai sektor andalan dan unggulan dalam mendapatkan asli daerah atau devisa.
Kebijakan
pengembangan keparawisataan juga dimaksudkan untuk menambah sumber pendapatan asli
daerah.
Pengembangan
destinasi wisata merupakan juga salah satu upaya memberdayakan perekonomian rakyat, memperluas lapangan kerja, kesempatan berusaha, meningkatkan kesejahteraan rakyat. Destinasi Wisata harus tetap memelihara kepribadian bangsa, nilai-nilai budaya serta kelestarian lingkungan hidup.
Kawasan
destinasi wisata juga ditujukan untuk mengembangkan dan
mendayagunakan potensi sumberdaya nasional di sektor industri
parawisata. Pengembangan akan memberikan nilai tambah
ekonomi
atas kepemilikan aset masyarakat
setempat secara adil, memperkaya
kebudayaan, memupuk rasa cinta tanah air dan mempererat persatuan antara masyarakat setempat
dengan masyarakat datang berkunjung dari berbagai daerah baik skala lokal
maupun nasional.
Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan
Daerah terdapat pembagian jelas, antara urusan yang
bersifat wajib dan pilihan. Bahwasanya Pemerintah
Daerah berwenang untuk mengelola kekayaan daerah yang
secara nyata ada dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai kondisi, kekhasan,
dan
potensi unggulan daerah
yang disesuaikan
dengan karakteristik
daerah
yang bersangkutan.
Potensi tersebut antara
lain
pertambangan, perikanan,
pertanian, perkebunan, kehutanan, serta pariwisata.
Dalam hal ini, urusan
pemerintahan yang
bersifat pilihan yang
dapat dilaksanakan sesuai potensi
sektor pariwisata.
a. Konsep Pengembangan Pariwisata
Pengembangan pariwisata merupakan suatu rangkaian
upaya untuk mewujudkan
keterpaduan dalam
penggunaan berbagai
sumber daya
pariwisata
mengintegrasikan segala bentuk aspek diluar pariwisata yang berkaitan secara langsung akan kelangsungan
pengembangan
pariwisata. Tujuan
pengembangan
pariwisata di Indonesia adalah
:
a. Meningkatkan
pendapatan devisa
negara pada khususnya dan
pendapatan negara
dan masyarakat pada
umumnya, perluasan
kesempatan kerja serta mendorong kegiatan
industri kecil dan menengah di pedesaan
b. Memperkenalkan dan
mendayagunakan keindahan alam dan
kebudayaan Indonesia.
c.
Meningkatkan persaudaraan/persahabatan nasional dan internasional.
Sebagai acuan dalam pengembangan kawasan pariwisata
pemerintah dapat mengambil kebijaka yang didasarkan
pada kriteria:
1. Aksesibilitas
2. Amenitas/fasilitas
3. ancillary/kelembagaan
daya tarik wisata
4. Kesiapan masyarakat
5. Era/trend yang berkembang
Menurut Suwantoro
( Imadudin, 2017 ) unsur pokok yang harus mendapat
perhatian guna menunjang pengembangan pariwisata didaerah tujuan
wisata meliputi :
1. Obyek dan
daya tarik
wisata
Daya tarik
wisata yang juga
disebut
obyek wisata
merupakan potensi yang menjadi pendorong
kehadiran wisatawan kesuatu daerah tujuan
wisata. Pada umumnya daya tarik suatu
obyek wisata
berdasar pada:
a).
Adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah,
nyaman dan
bersih
b).
Adanya aksesibilitas yang tinggi
untuk dapat mengunjunginya.
c). Adanya spesifikasi/ciri
khusus yang bersifat
langka.
d). Adanya
sarana dan prasarana penunjang
untuk melayani wisatawan;
e). Obyek
wisata
alam memiliki
daya
tarik tinggi (pegunungan, sungai, pantai,
hutan dan lain-lain).
f). Obyek
wisata
budaya
dalam bentuk atraksi kesenian,
upacara- upacara adat, nilai luhur yang
terkandung dalam suatu obyek buah
karya manusia pada masa lampau.
2. Prasarana Wisata
Prasarana
wisata adalah sumber
daya
alam dan sumber daya buatan
manusia yang mutlak
dibutuhkan oleh wisatawan
dalam
perjalanannya
di daerah tujuan wisata, seperti jalan, listrik, air,
telekomunikasi, terminal, jembatan dan
lain sebagainya.
3.
Sarana
Wisata
Sarana
wisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam
menikmati perjalanan wisatanya. Berbagai sarana wisata yang
harus disediakan didaerah tujuan wisata ialah hotel, biro perjalanan, alat
transportasi, restoran dan rumah makan serta sarana pendukung lainnya.
Strategi
pengembangan obyek wisata diberbagai daerah diharapkan tetap mengarah pada pemberdayaan masyarakat atau komunitas lokal. Kebiajakn tersebut merupakan paradigma yang
sangat penting dalam kerangka pengembangan dan atau pengelolaan sumberdaya
budaya dan parawitasa di daerah.
Pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pariwisata merupakan “kegiatan yang berbasis komunitas”,
yaitu sumberdaya dan keunikan komunitas lokal.
Kekayaan budaya dan keunikan satu komunitas merupakan elemen fisik maupun
non fisik (nilai-nilai, norma-norma, adat dan tradisi) yang melekat pada
komunitas tersebut. Unsur ini merupakan
unsur penggerak utama budaya dan tradisi masyarakat itu sendiri. kelompok komunitas lokal yang hidup dan tumbuh
berdampingan dengan suatu obyek wisata tidak dapat dipungkiri sebenarnya telah
menjadi bagian dari sistem ekologi yang saling kait mengkait dengan sumberdaya
budaya dan pariwisata.
Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pengembangan sumberdaya sektor wisata budaya harus
sensitif dan responsif terhadap keberadaan dan kebutuhan komunitas lokal. Dukungan
dari seluruh komunitas (tidak saja hanya dari mereka yang mendapatkan manfaat
ekonomi secara langsung dari kegiatan budaya dan pariwisata) amat sangat
diperlukan bagi keberhasilan pengembangan dan pengelolaan sumberdaya budaya
dan pariwisata di
tingkat lokal.
Pentingnya peran komunitas lokal perlu di garis bawahi dan diberikan penegasan
bahwa sukses atau keberasilan sektor parawisata dalam jangka waktu yang panjang
akan sangat tergantung pada tingkat penerimaan dan dukungan dari komunitas
lokal. Karena itu, untuk memastikan bahwa pengembangan kegiatan (industri)
budaya dan pariwisata disuatu
tempat dikelola dengan baik dan berkelanjutan, dengan demikian hal mendasar yang harus diwujudkan
untuk mendukung tujuan tersebut adalah bagaimana menfasilitasi keterlibatan
yang luas dari komunitas lokal dalam proses pengembangan dan memaksimalkan
nilai manfaat sosial dan ekonomi dari kegiatan budaya dan industri pariwisata di daerahnya.
Pemberdayaan komunitas lokal dalam pengembangan sektor industri parawisata sebagai
pihak yang ikut berperan baik sebagai subyek maupun obyek adalah sebuah
keniscayaan . Masyarakat menjadi pelaku kegiatan wisata yang memiliki
pengalaman turun menurun dalam hal pengelolaan sumberdaya alam, budaya serta
aktifitas ekonomi sehingga memiliki komitmen yang kuat untuk mengelola secara
berkelanjutan karena menyangkut kepentingan hidup masyarakat lokal.
Pemberdayaan masyarakat lokal didasarkan pada hal-hal sebagai berikut :
1. Mengoptimalkan tingkat fartisifasi dan kualitas hidup masyarakat sekaligus melestarikan
identitas budaya dan tradisi lokal.
2. Memberikan dampak peningkatan pendapatan
secara ekonomis sekaligus mendistribusikan merata pada penduduk lokal.
3. Berorientasi pada pengembangan usaha berskala kecil dan menyerap tenaga dari
komunitas lokal.
4. Mengembangkan semangat kompetisi sekaligus kooperatif.
5. Memanfaatkan sektor pariwisata secara
optimal sebagai upaya pelestarian tradisi dan budaya setempat.
Mengembangkan
suatu desa menjadi desa tujuan wisata harus menggali dan mengidentifikasi
potensi-potensi desa yang dimiliki (alam, budaya, buatan manusia) yang kelak
menarik dilihat dan dikunjungi oleh wisatawan yang memang memiliki keunikan
tidak ada duanya di tempat lain. Setiap desa wisata pasti memiliki keunikan
yang tiada duanya di desa lain, menarik dikemas menjadi paket wisata dan
ditawarkan kepada wisatawan, baik melalui sebuah brosur yang ditawarkan kepada
biro perjalanan, maupun dipromosikan melalui media on-line yang dikenal dengan
website.
Dalam UU No. 9 tahun 1990 tentang
Kepariwisataan http://jdih.baliprov.go.id disebutkan bahwa daya tarik wisata adalah suatu yang menjadi sasaran
wisata terdiri atas :
1.
Daya tarik wisata alam, yaitu daya tarik
wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud sumberdaya alam, flora dan
fauna, yang berpotensi serta memiliki daya tarik bagi pengunjung baik dalam
keadaan alami maupun setelah ada usaha budi daya.
2.
Daya tarik wisata budaya, yaitu pola
pikir dan tingkah laku manusia keseharian, seperti adat-istiadat.
3.
Daya tarik wisata buatan manusia, yaitu
daya tarik hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan sejarah, seni
dan budaya, wisata agro, wisata buru, wisata petualangan alam, taman rekreasi
dan komplek hiburan.
4.
Daya arik wisata minat khusus, seperti :
berburu, mendaki gunung, gua, industri dan kerajinan, tempat perbelanjaan,
sungai air deras, tempat-tempat ibadah, tempat ziarah dan lain-lain.
Indonesia mempunyai banyak tempat wisata
alam yang indah sebagai negara yang lokasinya di daerah Tropis. Wisata alam
pengunungan, pantai, hutan, flora dan fauna sangat beragam di Indonesia. Tempat
wisata alam terindah di Indonesia ini bukan hanya menjadi tujuan wisatawan lokal,
namun juga diminati wisatawan mancanegara. Hampir setiap pulau di Indonesia
dianugrahi Tuhan dengan tempat-tempat alam yang indah.
Daya tarik wisata dapat berupa potensi
alam, yaitu daya tarik yang disediakan oleh alam seperti gunung, danau, sungai,
pantai, laut, atau potensi budaya yaitu obyek budaya seperti adat-istiadat,
museum,benteng, situs peninggalan sejarah, dan lain-lain, serta potensi buatan
manusia.
Konsep penggalian produk desa tujuan wisata
berdasarkan pada pengembangan interaksi budaya dari manusia ke manusia dan dari
manusia ke alam desa. Menentukan suatu desa memiliki potensi yang dapat dikembangkan
menjadi sebuah desa wisata, haruslah dilakukan langkah- langkah sebagai
berikut:
1)
Lakukan pemetaan desa dari calon desa
wisata. Pemetaan ini dilakukan untuk dapat mengidentifikasi desayang memiliki
potensi dikembangkan sebagai desa wisata, selanjutnya lakukan analisis deskriptif
kualitatif dan telaah dokumen.
2)
Identifikasi calon desa wisata yang
bersangkutan, apakah sudah pernah memperoleh bantuan PNPM Mandiri Pariwisata,
mengingat banyak calon desa wisata menjadi desa wisata berkat bantuan PNPM
Mandiri Pariwisata. Analisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
3)
Analisis karateristik dan ukuran
keberhasilan pengembangan desa wisata berbasis masyarakat (community based-
tourism) dari calon desa wisata. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui
karateristik dari community based-tourism yang berlaku didalam pengembangan
desa wisata tersebut.
Community
based-tourism ini memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan desa
wisata. Analisis ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
a). Analisis manfaat
pengembangan desa wisata jika memerlukan bantuan pendanaan dari pemerintah.
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui manfaat yang didapat dari
bantuantersebut. Aspek yang dibahas adalah manfaat kepada masyarakat pelaku
wisata, desa wisata, kelompok sadar wisata, dan biro perjalanan memasok
wisatawan. Analisis ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan
observasi lapangan (dokumentasi);
b). Rumuskan pola
pengembangan desa wisata yang akan dibangun. Rumusan pola pengembangan ini
merupakan kumpulan atau hasil temuan dari analisis sebelumnya yang dirumuskan
dalam bentuk pola yang mendeskripsikan pola pengembangan yang terjadi di desa
wisata.
c). Analisis sistem dan elemen
kepariwisataan dari calon desa wisata. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui
sistem dan elemen yang saling terintegrasi yang dimiliki oleh calon desa wisata
yang kemungkinan berhasil dalam pengembangannya. Analisis ini meliputi daya
tarik wisata, akomodasi, infrastruktur, promosi, minat wisatawan dan
masyarakat. Analisis ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan
observasi lapangan (dokumentasi).
Sering dijumpai kasus,
di mana sebuah desa merasa memiliki banyak potensi yang dimiliki dan dapat
dikembangkan menjadi paket wisata. Namun mereka bingung menentukan apa saja
potensi unggulan yang menjadi prioritas bagi mereka. Potensi yang ditemukan
pada saat proses identifikasi potensi baik berupa potensi alam, sosial dan
budaya.
Inti dari produk pariwisata
adalah destinasi wisata. Inilah yang menjadi daya tarik utama atau core
business dari industri pariwisata. Destinasi berkaitan dengan sebuah tempat
atau wilayah yang mempunyai keunggulan dan ciri khas, baik secara geografi
maupun budaya, sehingga dapat menarik wisatawan untuk mengunjungi dan
menikmatinya.
Semua produk yang
berkaitan dengan perjalanan sebelum, selama, dan sesudah mengunjungi suatu
destinasi adalah produk-produk pendukung industri pariwisata.Produk-produk
tersebut menyatu dan tidak bisa dipisahkan untuk menciptakan pengalaman yang
“memuaskan” bagi wisatawan. Jika salah satu produk membuat wisatawan kecewa,
maka secara keseluruhan wisatawan akan kecewa terhadap destinasi tersebut.
Untuk membuat sebuah destinasi wisata yang unggul. Beberapa referensi yang
telah diuraikan sebelumnya menjadi dasar untuk membahas tentang potensi
industri parawisata di Kabupaten Sidenreng Rappang khususnya di Desa Leppangeng.
Potensi destinasi wisata
alam, sejarah dan budaya termasuk cukup banyak di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Potensi ini telah diupayakan pengelolaannya oleh pemerintah Kabupaten Sidenreng
Rappang di bawah pemerintahan Bapak Bupati Ir. H. Dolla Mando bersama wakilnya
Ir. H. Mahmud Yusuf. Upaya ini dapat kita lihat pada program pengembangan
kawasan wisata permandian alam dan rumah adat Data,E. Pengembangan kawasan
wisata yang dicanangkan oleh Pemerintah kabupaten Sidenreng Rappang juga
meliputi wisata kuliner. Kawasan wisata kuliner yang sementara dalam proses
pengerjaan adalah tikungan nona- nona di sekitar Lainungan.
Program pengembangan destinasi
wisata di Kabupaten Sidenreng Rappang juga di intruksikan kepada semua kepala
desa. Upaya melibatkan semua pemerintah desa dalam pengembangan kawasan wisata
adalah sebuah terobosan yang sangat cemerlang. Pemerintah desa sebagai pihak
yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan lebih kenal dengan kondisi di
desanya adalah suatu alasan mengapa pelibatan pemerintah desa menjadi sangat
penting. Faktor anggaran juga menjadi salah satu faktor pemerintah desa sangat
kompetensi dalam upaya pengembangan destinasi wisata yang potensial di
daerahnya.
Pengembangan
suatu wilayah menjadi kawasan destinasi wisata memerlukan anggaran yang cukup
banyak. Pemerintah desa tentunya dapat mengatasi persolan tersebut melalui
anggaran ADD APBN yang dikucurkan ke pemerintah desa-desa setiap tahunnya.
Anggaran ADD APBN yang terkadang nilainya bisa mencapai milyaran bisa diarahkan
untuk pengembangan destinasi wisata melalui program inovasi desa.
b.Peluang Pengembangan
Destinasi Wisata di Bumi Sandobatu Desa Leppangeng.
Pengembangan
industri disektor keparawisataan di Bumi Sandobatu ditinjau dari berbagai sisi
memiliki prosfek yang cerah. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi mengapa
pengembangan destinasi wisata di desa ini cukup menjanjikan. Faktor-faktor
tersebut antara lain:
1. Destinasi
wisata yang alami dan Lengkap
Destinasi
wisata yang telah dikembangkan di Kabupaten Sidenreng Rappang dewasa ini masih
berkisar pada wisata buatan seperti Rumah adat, Permandian, kawasan kuliner
dll. Aspek ini tentunya menjadi keunggulan sendiri berbagai potensi destinasi
wisata di Bumi Sandobatu Desa Leppangeng. Sebagaimana telah diuraikan
sebelumnya bahwasanya keunggulan suatu destinasi wisata juga dipengaruhi oleh
jenis dan lingkungan wisata tersebut. Destinasi yang bisa menjadi tujuan wisata
antara lain; air terjun, arum jeram, memancing, kehutanan, budaya dan tempat
bersejarah serta wisata kuliner lokal.
2. Akses
yang menantang
Aksebilitas suatu kawasan wisata dan tujuan wisata menjadi bagian yang sangat
penting. Sarana dan prasarana transfortasi menjadi salah satu aspek
pertimbangan para pengunjung untuk datang ke destinasi wisata tertentu.
Kemudahan akses dan ketersediaan sarana transfortasi akan membuat para
pengunjung bisa membawah keluarga atau teman-teman mereka. Walaupun demikian
tidak sedikit juga wisatawan atau pecinta wisata yang justru mencari tujuan
wisata yang menantang.
Akses jalan di Desa Leppangen yang sebagaian
besar masih berupa jalan tanah dengan
kontur yang mendaki serta berlumpur pada musim
hujan menjadi tantangan tersendiri untuk bisa mengunjungi destinasi wisata di sana. Kondisi
jalan di Desa Leppangeng yang cukup menantang menjadikan jalan tersebut menjadi
jalur yang sangat disukai oleh para pecinta motor trail di Sidrap.
3. Tujuan
wisata yang menantang
Suatu
kawasan wisata akan menarik apabila kawasan tersebut mampu menyiapkan dan
menawarkan berbagai jenis obyek yang menarik. Kawasan wisata yang memiliki
banyak obyek yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan di sekitarnya akan
membuat pengunjung betah dan tertarik untuk kembali mengunjungi obyek wisata
tersebut. Potensi destinasi wisata di Desa Leppangeng seperti Air terjun, Arum
jeram dan tempat bersejarah, kehutanan, budaya, dan kuliner sangat cocok dengan
konsep tersebut.
Destinasi
wisata air terjun Sarambu Masiang, air terjun Mundung-mundung, Arum jeram, dan
situs sejarah Kuburan Tua Patta Bolong
Aje ( Puang Matindo Ri Sumbang Kabona ), Lamunan Patu, Liku Puang dan Kuburan
Tua Puang Matindo Ri Salu Londong termasuk dalam satu kawasan.
4. Wisata
budaya yang langka
Desa
Leppangeng memiliki banyak sekali potensi wisata yang dapat dikembangkan
menjadi obyek wisata yang menarik. Salah satunya adalah wisata budaya atau
tradisi yang ada di masyarakat Desa Leppangeng. Wisata budaya yang sangat
potensial adalah tradisi atau budaya Masara dan Majjaga ( Tari Pajjaga ).
Tradisi lain yang dapat menjadi salah satu tujuan wisata adalah tradisi (
Imbela ) yang memiliki rangkaian ritual yang sangat banyak.
5. Ketersedian
air bersih
Kebutuhan
yang wajib disiapkan oleh pengelolah suatu obyek wisata adalah air.
Ketersediaan air untuk mandi dan minum
tentunya tidak bisa ditawar-tawar ketersediaannya. kebutuhan air diarea
destinasi wisata yang ada di Desa Leppangeng sangat baik dan bebas dari
pencemaran. Air yang langsung dari
sumber mata air di pegunungan sekitar destinasi wisata air terjun, arum jeram
dan situs sejarah sangat potensial bahkan bisa diolah menjadi air kemasan.
Air
yang ada disekitar kawasan destinas wisata air terjun Sarambu Masiang, Arum
jeram dan situs sejarah sangat jernih dan rendah zat kapur. Masyarakat setempat terbiasa mengkomsumsi air tanpa di
masak sebelumnya. Ditinjau di segi pencemaran tentunya air di sekitar kawasan
destinasi wisata tersebut sangat aman dari pencemaran lingkungan.
Berdasarkan aspek-aspek
yang telah diuraikan di atas terkait peluang pengembangan destinasi wisata di
Desa Leppangeng sangat potensial mengingat destinasi wisata alam yang ada di
kabupaten Sidenreng Rappang masih sedikit.
BAGIAN II
Wisata Alam , Sejarah dan Budaya di Bumi Sandobatu
Desa Leppangeng
1. Potensi
Destinasi wisata alam.
Kondisi
geografis wilayah sandobatu Desa Leppangeng yang terletak diantara pengunungan
dan dilalui oleh dua sungai besar dan beberapa anak sungai yang cukup besar
dengan debit air yang memuaskan menjadikan daerah ini sangat potensial untuk
wisata alam seperti wisata air terjun dan arum jeram.
Ada
beberapa air terjun yang potensial untuk dikelola menjadi obyek wisata di desa
ini antara lain air terjun Makurin di Salu Makurin dan air terjun Sarambu
Masiang di Sungai Maridi dan air terjun Mundung-mundung di Salu Lumpingan . Air
terjun tersebut saat ini sangat potensial untuk di eksplorasi menjadi obyek
wisata berdasarkan berbagai pertimbangan sebagai berikut:
A. Destinasi
wisata Alam air terjun salu Makurin.
1. Air
terjun Makurin dekat dengan ibu kota desa Leppangeng yaitu Dusun I Bolabetti.
2. Akses
dari jalan poros Bolapetti – Walawala kelokasi air terjun ini hanya sekitar 200
meter.
3.
Sarana
transfortasi roda dua sudah lancar serta lahan untuk persiapan tempat parkir
sangat memadai hanya tinggal diperbaiki dan ditata dengan baik.
Air terjun Salu Makurin ( Sumber foto Ilyas kepala
Desa Leppangeng )
Air terjun salu Makurin
memiliki pemandangan yang indah serta menarik dengan air yang jernih. Ketinggian
air terjun salu makurin tidak terlalu tinggi hanya sekitar 10-15 meter saja.
Hal menarik dari air terjun ini adalah tempat untuk mandi-mandi para pengunjung
cukup luas dan tidak terlalu dalam. Sekeliling air terjun dapat dibuat tempat
untuk beristirahat setelah bermain di air terjun atau mandi-mandi.
Pengelolaan air terjun salu
Makurin telah di programkan oleh pemerintah Desa Leppangeng pada tahun 2019.
Langkah awal yang dilakukan oleh pemerintah desa adalah memindahkan jalur jalan
yang terlalu curam untuk mencapai sungai Makurin. Program pengembangan air
terjun ini merupakan salah satu program prioritas dalam rencana kerja
pembagunan Desa Leppangeng tahun 2020.
Langkah awal yang akan
dilaksanakan oleh pihak pemerintah desa adalah membuka akses jalan ke air
terjun dan menyiapkan lahan parkir bagi pengunjung. Kedua fasilitas ini menjadi
langkah prioritas sebagai upaya memperkenalkan destinasi wisata tersebut ke
pihak luar.
Berikut adalah analisis data yang
digunakan sebagai dasar kajian untuk pengembangan wisata air terjun salu
Makurin. Kajian dengan analisis SWOT dilakukan untuk mengungkap beberapa faktor
utama yang penting untuk diperhatikan dalam pengembangan wisata alam air terjun
salu Makurin. Berdasarkan penggalian informasi di lapangan berikut beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan sebagai
bahan pengembangan air terjun salu Makurin
:
1. Kekuatan (strengths)
Air terjun salu Makurin merupakan aspek
beberapa yang dapat menjadikan air terjun ini dapat bersaing dengan potensi
wisata yang lain. Aspek-aspek tersebut dia antaranya adalah sebagai berikut :
a.
Merupakan salah satu objek wisata berupa
air terjun yang paling dekat dengan ibu kota desa Leppangeng.
b.
Kondisi sekitar air terjun masih alami
dengan panorama pemandangan yang hutan asri.
c.
Aliran air yang jernih serta memiliki
luncuran yang cukup tinggi serta memiliki tempat untuk mandi di bawah air
terjun yang cukup luas.
2. Kelemahan (weaknesses)
a.
Jalan menuju lokasi jauh dengan waktu
tempuh sekitar 10 – 15 menit jalan kaki kelokasi.
b.
Jalan dari ibu kota desa sebagian masih
jalan tanah yang licin dan berlumpur saat musim hujan.
c.
Belum adanya pengelola atau petugas untuk
membantu wisatawan yang berkunjung
d.
Sarana umum belum tersedia
e.
Transportasi yang sulit untuk menuju
lokasi.
f.
Masyarakat sekitar masih kurang sadar
wisata
3. Peluang (opportunities)
a.
Pemerintah desa dan remaja pencinta alam
yang tergabung dalam perkumpulan telapak rimba telah melakukan promosi di
berbagai media.
b.
Perangkat desa dan para pecinta alam
telapak rimba bisa menjadi guide untuk wisatawan.
c.
Menyediakan lapangan kerja bagi
masyarakat setempat terutama para remaja putus sekolah yang tamatan SMA dan
sederajat.
d.
Menarik pemilik modal untuk pengembangan
objek wisata air terjun salu Makurin .
4. Ancaman (threats
)
a.
Kerusakan lingkungan akibat pembukaan
lahan perkebunan di hulu sungai
b.
Rusaknya struktur dan tekstur tanah
menuju lokasi
c.
Tersingkirnya masyrakat setempat jika
tidak mampu bersaing.
Analisis SWOT terhadap
berbagai faktor seperti yang telah di uraikan atas merupakan komponen yang
sangat penting untuk pengembangan wisata alam air terjun salu Makurin
kedepannya. Hasil analisis ini memuat berbagai sisi baik dari dampak
positif maupun negatif terhadap pengembangan wisata air
terjun salu Makurin.
Hasil analisa tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan
saling melengkapi sehingga kedepannya bisa menjadi salah satu referensi bagi
pemerintah setempat untuk mengambil dan memutuskan suatu kebijakan-kebijakan
dalam pengembangan air terjun salu Makurin.
B. Destinasi
wisata sarambu Masiang
Air
terjun salu Maridi adalah salah satu
potensi destinasi wisata alam yang ada di Desa Leppangeng tepatnya Dusun III
Walawala. Air terjun ini berjarak sekitar 3 km dari ibu kota desa. Lokasi air
terjun sarambu Masiang dapat diakses melewati jalan poros Dusun I
bolapetti ke Dusun III Walawala.
Keunggulan daripada air terjun sarambu Masiang adalah sudah banyak dikenal dan
sudah sering dikunjungi oleh orang luar.
Air terjun sarambu Masiang I ( sumber foto Ilyas kepala Desa
Leppangeng )
Air terjun sarambu
Masiang II ( sumber foto Ilyas kepala Desa Leppangeng )
Pengembangan
air terjun sarambu Masiang berdasarkan hasil kajian fakta dilapangan memiliki
prosfek yang baik. Berikut adalah hasil analisis data yang penulis
himpun dari berbagai sumber termasuk pengalaman penulis sebagai putra daerah
dan menetap di dusun tersebut. Analisi ini juga didasarkan pada hasil diskusi
dengan salah satu anggota telapak rimba dan sekaligus operator desa
Leppangeng.
Beberapa faktor yang dapat
berpengaruhi terhadap upaya pengembangan air terjun sarambu Masiang :
1. Kekuatan (strengths)
Beberapa keunggulan yang dapat
menjadikan air terjun ini dapat bersaing dengan potensi wisata yang lain
sebagai berikut :
a. Merupakan salah satu objek wisata air terjun yang memiliki ketinggian
sekitar 50 m dengan debit air yang cukup banyak.
b. Kondisi sekitar air terjun masih alami dengan panorama pemandangan yang
hutan asri.
c.
Aliran air yang jernih serta memiliki
luncuran yang cukup tinggi serta memiliki banyak tempat untuk mandi di bawah air terjun.
d. Kondisi air jarang keru
e. Berada diantara destinasi wisata air terjun salu Makurin dan arum jeram
serta situs sejarah di salu Lumpingan.
2. Kelemahan (weaknesses)
a. Jalan menuju lokasi jauh dengan waktu tempuh saat ini hanya bisa ditempuh
dengan jalan kaki
b. Waktu untuk sampai ke air terjun sarambu Masiang sekitar 20-25 menit dari
jalan poros Bolapetti - Walawala.
c.
Belum adanya pengelola atau petugas
untuk membantu wisatawan yang berkunjung
d. Sarana umum belum tersedia
e. Masyarakat sekitar masih kurang sadar wisata
3. Peluang (opportunities)
a. Air terjun ini sudah cukup di kenal di luar desa Leppangeng.
b. Perangkat desa dan para pecinta alam telapak rimba bisa menjadi guide untuk wisatawan.
c.
Promosi telah dilakukan diberbagai media.
d. Memiliki lahan untuk parkir yang cukup luas.
4. Ancaman (threats
)
a. Kerusakan area hutan untuk akses masuk ke lokasi
b. Pembukaan hutan lahan parkir dan sarana umum
c.
Masyarakat setempat tidak mampu bersaing
dengan orang luar.
Paparan
tersebut bukan sesuatu yang bersifat mutlak. Pihak pemerintah desa ataupun
pihak lain yang berminat mengembangkan destinasi wisata alam air terjun sarambu
Masiang dapat mempertimbangkan faktor-faktor yang terdapat dalam analisis di
atas.
Potensi wisata air terjun
lain yang potensial untuk dieksplorasi menjadi obyek wisata di Sungai ( salu )
Maridi adalah air terjun Tuara’ dan air terjun Masiang II. Kedua obyek ini
memiliki keunikan masing-masing yang bisa menjadi daya tarik tersendiri. Air terjun
Tuara memiliki tempat yang luas dibawah air terjunnya berbentuk setengah. Air
terjun Masiang II memiliki daya tarik dengan ketinggian sampai ratusan meter
dengan air dibawahnya yang dalam dan luas.
C. Wisata
arum jeram sungai Alokka
Sungai Alokka untuk Arum jeram
Destinasi
wisata alam di Desa Leppangeng selain
obyek wisata air terjun, juga terdapat potensi wisata arum jeram. Sektor
ini juga sangat potensial mengingat wisata arum jeram belum ada di Kabupaten
Sidenreng Rappang. Berikut beberapa aspek yang menjadi daya tarik bagi pecinta
wisata arum jeram untuk mengunjungi lokasi tersebut yaitu:
1. Jarak tempuh yang cukup panjang
Bagi pecinta wisata yang menantang tentunya akan tertantang
untuk bisa merasakan derasnya arus sungai Alokka dengan arum jeram. Jarak tempu
destinasi arum jeram di sungai Alokka bisa mencapai 5 -6 km. Lokasi starnya
bisa kita pilih yang terjauh yaitu Liku Puang dengan lokasi finis di Tobangan
wase. Lokasi star yang kedua yaitu penyeberangan ke jalan penghubung Dusun
Walawala dengan Dusun Pasaridi dengan tempat finis bisa di pilih jarak 200-300
m atau 1-2 km.
Aliran sungai Alokka sangat menantang bagi pecinta arum jeram
pada permulaan musim hujan sekitar bulan Februari – Juli. Bagi yang ingin uji nyali bisa menantang
derasnya arus sungai alokka di beberapa titik ( Double drop ) seperti sepang kandora, solokna ( arus yang deras ) muara
sungai Lumpingan, solokna Liku Maridi, solokna Liku Sussang, Solokna Sepang dan
Solokna liku Karondang.
2. Airnya jernih dan bebas dari pencemaran
Air
sungai Alokka sangat jernih dan dijamin terbebas dari pencemaran limbah yang
berbahaya. Air disini juga tidak berbau dan tidak mengandung lumpur dan suhu
airnya yang dingin.
3. Terjangkau kendaraan bermotor
Lokasi arum jeram di sungai Alokka mulai dari garis atau tempat
star bisa dijangkau kendaraan bermotor sampai tempat finis. Tempat awal yang
tidak dijangkau kendaraan bermotor yaitu Liku puang, namun jaraknya dekat dari
jalan poros. Bagi yang ingin mengambil lokasi star di tempat ini bisa berjalan
kaki melewati perkebunan coklat dan lada.
Pengunjung yang ingin star di Sepang kandora dapat memarkir
kendaraannya di pinggir sungai karena lokasi tersebut adalah tempat
penyeberangan yang menghubungkan dusun Walawala dengan dusun Pasangridi.
Sepanjang sungai Alokka beriringan dengan jalan poros sampai ke jembatan
gantung karondang. Bagi pengunjung yang ingin berarum jeram tidak akan khawatir
setelah finis harus bersusah payah karena bisa langsung naik kendaraan lagi
kembali ketitik star.
4. Satu kawasan dengan destinasi wisata
lainnya
Salah satu aspek yang membuat destinasi wisata
arun jeram sungai Alokka sangat potensial untuk di kembangkan adalah berdekatan
dengan obyek wisata air Terjun sarambu
Masiang dan Tempat bersejarah. Pengunjung yang ingin mengunjungi air terjun
sarambu Masiang atau tempat bersejarah di bumi Sandobatu otomatis juga sudah
berada di lokasi arum jeram.
Potensi destinasi wisata alam di Desa
Leppangeng sebagaimana telah diuraikan diatas secara umum memiliki daya tarik
sendiri yang tidak terdapat di obyek wisata yang telah ada di kabupaten
Sidenreng Rappang. Destinasi wisata tersebut bisa dikembangkan menjadi
sebuah kawasan wisata desa dengan paket wisata yang lengkap.
D. Wisata Sejarah
Destinasi wisata
sejarah yang bisa dikunjungi di bumi sandobatu antara lain; Kuburan Puang Patta
Bolong Aje ( Puang Matindo ri Sumbang kabona ) pengunjung bisa mendapatkan sejarah perjuangannya melawan tentara Belanda
dari para tokoh masyarakat sandobatu.
Tempat Bersejarah
Kuburan Puang Patta Bolong Aje ( Puang Matindo Ri Sumbang Kabona sumber foto Arianto, staf Desa Leppangeng)
Tempat
bersejarah lain yang bisa dikunjungi adalah Liku Puang tempat dimana Nene Puang
Matindo ri Salu Londong membuang anaknya yang kemudian muncul menjadi tujuh
orang. Kuburan Nene Puang Matindo ri salu Londong ada tidak jauh dari Liku
Puang dan berada di pinggir sungai Alokka. Tempat yang juga terkait dengan
sejarah Nene Puang matindo ri salo Londong yaitu Lamunan patu ( Kabusungan ) di
tempat ini ditanam perjanjian antara anak-anak Nene Puang Matindo ri Salu
Londong sebelum mereka meninggalkan Salu
Londong ke Kerajaan di luar Sandobatu.
Pengunjung bisa
juga mengunjungi air terjun Mundung-mundung, tempat terjadinya pertempuran
antara pengawal raja Bone dengan tentara Belanda. Air terjun ini tidak terlalu
jauh dari jalan dan arum jeram. Lokasi pertempuran antara raja Bone serta
pengawalnya melawan Belanda sampai tertangkap berada di Dusun VII Lumpingan dan
cukup jauh dari perkampungan. Tempat lain yang bisa dikunjungi yaitu Kondongan
tedong ( bekas telapak kerbau di atas batu ) menurut cerita kerbau yang memiliki
bekas kaki di atas batu tersebut di bawah ke Luwu untuk disembelih. sebelah tanduknya dibuat pintu di Luwu dan
satunya lagi di Tanatoraja. Cerita ini tentunya tidak dapat diperdebatkan dan
diklaim kebenarannya tanpa adanya penelusuran sejarah secara mendalam.
E. Spot Foto
Beberapa
lokasi spot foto yang sangat menarik telah dipublikasikan oleh pemerintah Desa
Leppangeng melalui media digital. Lokasi spot foto di Desa Leppangeng seperti
foto berikut;
Lokasi Dusun I
Bolabetti Pintu masuk Desa Leppangeng.
Lokasi Dusun III Walawala
Lokasi Dusun VI
Tosemang
F. Budaya
Masara dan Majjaga
Budaya
atau tradisi ritual adat disetiap komunitas adat atau suatu kelompok masyarakat
memiliki keunikan sendiri. Setiap ritual adat pada komunitas tertentu memiliki
makna dan maksud tertentu. Ritual adat kadang bermakna penyembahan, Rasa
syukur, Kematian ataupun hiburan. Pada uraian sebelumnya telah disinggung
keragaman budaya dan tradisi yang tumbuh di tengah komunitas To Batu ( Sandobatu
).
Salah
satu tradisi atau ritual adat yang sangat disakralkan oleh dikomunitas To Batu
(Sandobatu) adalah budaya ritual adat Masara dan Majjaga.
Masara
dalam bahasa Indonesia berarti sangat sibuk nama Masara merujuk pada situasi yang sangat
sibuk ketika Ritual adat tersebut akan dilaksanakan. Kesibukan ini mulai dari
kegiatan Masombung bola sampai dengan selesainya ritual tersebut. Kondisi
demikian dapat kita pahami bahwasanya ritual adat tersebut membuat masyarakat
yang ikut melaksanakan kegiatan itu
sangat sibuk.
Prosesi
ritual adat Masara memiliki beberapa tahapan seperti; Musyawarah (Sipulung),
Marumbu Ase, Massombung bola, Mappangolo, Massapu Kaburu, Matojolo, Makallu dan
Massunna, Cakkabere, Pernikahan, Marondon Tambing dan di tutup dengan doa
bersama yang disebut Tolak Bala.
1. Musyawarah
( Sipulung )
Musyawarah
( Sipulung ) memutuskan dan juga menyampaikan pada keluarga yang akan ikut
ritual Masara, berapa banyak ayam yang harus mereka siapkan. Bagi masyarakat
yang hanya ikut Matojolo minimal menyiapkan tiga ekor ayam maksimal tujuh ekor.
Masyarakat yang ikut ( Mapasallang)
harus menyiapkan tujuh atau sembilan ekor ayam setiap anak dengan dua ekor ayam
yang ditentukan warna bulunya. Apabila ada yang akan Cakkabere maka setiap
orang harus menyiapkan ayam minimal lima ekor maksimal sembilan dengan satu
ekor berwarna putih.
2. Marombu
Ase
Marombu Ase yaitu pengasapan Padi yang
akan dimasak pada prosesi Mappangolo dan acara puncak Masara. Padi yang
disiapkan dalam prosesi Marombu ase ada tiga jenis yaitu ketan Putih, ketan
hitam dan Padi Biasa ( ase lalo ). Marombu ase dipimpin oleh A’da sando, dan
dilakukan pada pagi hari. Makna yang terkandung dalam prosesi Marombu ase yaitu
pemberitahuan kepada Tuhan Maha Kuasa dan para leluhur sandobatu yang telah
meninggal dunia. Marombu ase dilakukan dengan maksud memohon keselamatan dalam kegiatan
Masara. Setelah pengasapan dilakukan padi diikat-ikat kecil dan dijemur
kemudian ditumbuk bersama-sama.
3. Mappangolo
Ritual
Mappangolo dilakukan setelah acara Massombung. Prosesi Mappangolo di pimpin
oleh A’da Sando dimulai dengan menyiapkan ayam sebanyak enam ekor tiga jantan
dan tiga betina. Enam ekor ayam yang akan digunakan harus memiliki bulu
berwarna kuning dan Merah dalam bahasa setempat disebut ( Lappung ) atau
menggunakan ayam hutan yang jantan ( Baco Dalima, 2019 )
Pakaian
yang digunakan dalam prosesi Mappangolo adalah pakaian Kato atau pakain warna
putih dan sarung putih, apabila pakain putih tidak cukup maka bisa menggunakan
pakaian serba hitam. Warna pakaian yang jadi pantangan dalam prosesi Mappangolo
adalah pakain warna kuning serta asesoris seperti cincin emas, anting, kalung
semua yang berbau kuning. Setiap orang yang ikut dalam ritual Mapangolo tidak
diperkenankan menggunakan alas kaki baik sandal maupun sepatu. Pelarangan
penggunaan alas kaki adalah sebagai bentuk penghormatan dan kesederhaan pada
saat menghadap sang pencipta.
Mapangolo Penyembelihan ayam pembuka pintu ( sumber
Foto Arianto, Staf Desa Leppangeng )
Jumlah
orang yang ikut dalam prosesi Mappangolo yaitu sembilan orang tujuh laki-laki
dan dua perempuan. Sembilan orang ini memiliki tugas masing-masing yaitu perempuan membawah padewa tempat api, tempat
daun sirih dan pinang. Tugas laki-laki
empat orang bertugas membawah ayam, satu orang bertugas memegang ayam ketika
akan disembelih, satu orang bertugas menyembelih ayam, dan satu orang bertugas
untuk Mapatuju ( yaitu orang yang
menyebutkan maksud tujuan ayam tersebut disembelih ), yaitu A’da sando sebagai pemimpin prosesi tersebut.
Ayam yang disembelih pada prosesi Mappangolo berjumlah enam ekor.
Penyembelihan
ayam pertama dilakukan di depan pintu rumah yang menjadi tempat Masara.
Penyembelihan ayam tersebut dimaksudkan
sebagai bentuk pemberangkatan ( Papakede ) kelokasi Mappangolo. Setelah
beberapa jauh meninggalkan rumah akan diadakan lagi Penyembelihan ayam yang
kedua. Maksud Penyembelihan ayam tersebut yaitu pembuka pintu gerbang, menuju
ke tempat untuk menyampaikan kepada yang Maha Kuasa maksud dan tujuan ritual
Mappangolo tersebut.
Mapangolo Penyembelihan
ayam terakhir ( sumber foto Arianto, Staf Desa Leppangeng )
Ayam
yang disembelih pada prosesi Mapangolo setelah tiba kembali dirumah, akan
dibersihkan dan dibelah-belah dan hanya
ususnya yang tidak dimasak. Wadah yang digunakan untuk tempat nasi dan ayam
yaitu lapi-lapi ( wadah yang terbuat dari
daun enau yang dianyam ) yang dialasi daun puang ( sejenis tumbuhan rambat yang berdaun lebar ).
Nasi
yang disiapkan untuk disuguhkan saat makan bersama terdiri dari Lima macam warna
yaitu; Nasi ketan empat warna terdiri dari warna merah, putih, kuning dan hitam
serta nasi beras biasa. Adapun tempat untuk baca doa sebelum dimakan adalah
langit-langit rumah ( Rakkiang ) yang
dibuat untuk tempat penyimpanan nasi pada saat acara masara.
4. Ziarah
Kubur ( Massapu Kaburu )
Ziarah
kubur ( Massapu Kaburu ) adalah rangkaian ritual adat yang wajib dilakukan bagi
komunitas To Batu jika akan melakukan
acara Masara
Pada ritual ziarah kubur ( Massapu kaburu ) ada kegiatan yang
disebut Massapu dan Mabolo kaburu yaitu orang yang sedang berziarah kubur
memegang batu nisan kemudian disiram oleh A’da sara atau air yang sudah
didoakan oleh A’da sara. Doa yang dibaca adalah surat pendek Al-Fajar atau
surat pendek yang lain seperti Al-Ikhlas, Al-falaq dan An-Nas. Menurut tradisi
To Batu setelah sampai di kuburan yang akan diziarahi, maka seseorang akan
membangunkan arwah orang yang telah meninggal ( Matundan ) dengan membaca “ Lailahaillallahu
Wahdahulasyarikalahu Lahulmulkussamawati Walahulhamdu Wahyuwayumita
Alaqullisyain Qadir “ maksud dari ( Matundan
) agar arwah para penghuni kubur yang diziarahi mengetahui kedatangan
keluarganya. Peziarah yang tidak mengetahui letak kuburannya keluarganya di kuburan tersebut dapat meminta bantuan
kepada A’da Sara untuk mencarikan kuburan keluarga mereka. Arwah yang ada didalam kuburan tersebut akan
ditanya oleh orang yang dipercaya dengan membaca “ Allah Nurung Muhammad iko to tau laan te’e kaburu iyake iyamo to kujaka
pebeenko tanda “ biasanya batu nisan yang dipegang akan bergoyang ( Lobo,
2019 )
Bagi
Komunitas To Batu yang tinggal di Walawala dan sekitarnya ritual Massapu kaburu
terakhir dilakukan di pekuburan kampung Walawala. Pekuburan yang terdapat di
kampong Walawala di kuburan Nene Bakkan “Nene Puang Candiwi.
5. Tahlilan
( Matojolo )
Matojolo istilah adalah bahasa To Batu yang dalam bahasa Indonesia
yaitu Tahlilan. Tahlilan dalam komunitas To batu terbagi dua yaitu Madoja dan
Matojolo. Madoja adalah tahlilan yang dilakukan pada saat orang baru meninggal
selama satu malam atau tiga malam. Matojolo Tahlilan yang dilaksanakan pada
saat ada ritual adat masara dan yang dibacakan doa adalah semua leluhur orang
yang ikut Masara.
Matojolo prosesi pembacaan doa hidangan Patojoan
6. Makallu
dan Massunna
Makallu adalah prosesi pemotongan rambut
anak yang akan diIslamkan. Massunna adalah prosesi sunatan dalam versi
komunitas To Batu. Bagi orang yang anaknya akan dicukur ( Kallu ) dan Massunna
( Sunatan ) wajib menyiapkan tiga ekor ayam. Satu ayam dipotong saat prosesi
cukuran ( makallu ) dan ayam tersebut akan diberikan kepada anak yang dicukur.
Dua ekor ayam menjadi syarat pada prosesi sunatan. Satu ekor ayam tidak
disembelih dan diberikan kepada orang yang
melakukan sunatan, satu ekor ayam akan dimasak dan diberikan kepada anak
yang disunat. Alat yang digunakan saat Makallu dan Massuna adalah pisau.
Persiapan Makallu dan Massuna sumber foto Arianto, staf Desa Leppangeng
7. Khatam
Al Qur-an ( Cakkabere )
Khatam Qur-an dalam Bahasa lokal komunitas To
batu disebut Cakkabere. Orang yang bisa ikut Cakkabere tidak terbatas usianya
orang baik orangtua maupun anak-anak.
Bagi orang yang akan ikut cakkabere harus menyiapkan bantal, tikar, Saji
( wadah yang terbuat dari anyaman rotan
berbentuk bakul ) dan ayam minimal tujuh ekor maksimal sembilan ekor. Satu
ekor ayam yang akan disembelih dalam prosesi Cakkabere dipersyaratkan berbulu
warna putih. Ayam putih disembelih untuk
( Paccera Baca ) bagi yang belum pernah Maccera baca sebelumnya. Jumlah
ayam putih yang disembelih untuk prosesi
Cakkabere bisa sejumlah orang
yang Cakkabere atau hanya satu ekor untuk beberapa orang.
Kegiatan Cakkabere
( Khatam Al Quran ) sumber
foto Nurdiana , staf Desa Leppangeng
8. Lao
Salu
Rangkaian lain dari kegiatan Masara yaitu Lao salu. Lao
Salu adalah ritual adat turun ke sungai dengan membawah anak-anak dengan
diiringi gendang Lao Salu. Prosesi Lao Salu memiliki empat versi yaitu;
1.
Mabandong yaitu membawah dua ekor ayam yang
sudah disembelih. Satu ekor sudah dimasak satu ekor lagi hanya di bersihkan
bulunya serta ususnya sudah dibersihkan. Satu diletakkan di atas nasi yang
beralaskan daun enau yang dianyam satu lagi digantung pada sebatang kayu.
Lao Salu Ma’ bandong ( sumber foto Arianto,
staf Desa Leppangeng )
2.
Ma,rai
yaitu Lao Salu dengan membawah tiga ekor ayam yang sudah dimasak dengan nasi.
Ayam dan nasi akan diletakkan di atas rakit yang terbuat dari pelepah daun sagu
ataupun potongan kayu. Rakit tersebut kemudian didorong ketengah sungai bersama
dengan semua isinya. Isi rakit tersebut bisa diambil oleh orang yang ikut dalam
ritual Lao Salu.
Lao Salu Ma’ rai ( sumber foto Arianto,
staf Desa Leppangeng )
3.
Mapanginta yaitu membawah ayam satu ekor dan
ikat hidup-hidup di atas rakit. Ayam tersebut diletakkan di atas rakit bersama
berbagai jenis buah-buahan seperti Nangka, Kelapa, Pisang, Tebu dll.
Lao
Salu yang sebut Mapanginta penulis tidak
mendapatkan gambar atau fotonya. Termasuk Lao salu Majalajak hal ini disebabkan tidak liputan pada kegiatan
sebelumnya. Ritual Masara pada bulan Oktober
2019 tidak ada kelompok warga yang melaksanakan ritual tersebut.
4.
Majalajak
versi ini sudah tidak ada lagi yang melakukannya di kampung Walawala dan
penulis belum mendapatkan referensi lain sehingga tidak dijelaskan dalam
tulisan ini.
9. Marondong
Tambing
Rangkaian ritual adat Masara akan
diakhiri dengan penyembelihan tiga ekor ayam yang diperuntukkan pada Tojolo
disulle. Maksud penyembelihan tiga ekor ayam tersebut adalah sebagai permohonan
maaf apabila dalam rangkaian Masara yang telah dilakukan terdapat kekeliruan
dan ada hal-hal yang terlewatkan. Penyembelihan ayam dalam rangkaian Marondong
tambing menandai berakhirnya seluruh rangkaian ritual adat Masara. Ayam yang
disembelih kemudian dimasak dan di makan bersama, setelah makan bersama
beberapa papan akan dibuka dari Passombung
dan dipasang kembali ketempat semula.
10. Matulak
Bala
Tolak bala bukan termasuk dalam rangkaian
adat Masara, melainkan sebagai acara syukuran atas selesainya rangkaian ritual
adat Masara dan Permohonan kepada Allah SWT agar semua diberikan perlindungan
dari segala jenis musibah.
11. Majjaga
( Pajjaga )
Kesenian sebagai salah satu budaya dan
identitas suatu komunitas dan telah diakui secara luas di negara kita. Setiap
suku memiliki kesenian tradisional baik berupa lagu, alat musik, ukiran maupun
sejenis tarian daerah atau tari tradisional.
Bagi komunitas To Batu kesenian tari Pajjaga ( Majjaga ) adalah tari
yang disakralkan dan hanya bisa ditampilkan pada saat acara ritual adat Masara
serta penjemputan tamu kerajaan. Tari Pajjaga ( Majjaga ) adalah tari yang
dipersembahkan sebagai bentuk rasa syukur
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Penyambutan Tamu Kerajaan dan Hiburan pada
ritual adat Masara.
Tari Pajjaga ( Majjaga ) tidak diajarkan
sembarang tempat dan waktu. Tarian ini akan diajarkan pada saat ada ritual adat
Masara. Syarat untuk mengajarkan tari Pajjaga ( Majjaga) harus melakukan penyembelihan tiga ekor ayam
satu ekor kambing. Empat puluh hari sebelum acara puncak ritual adat Masara
digunakan sebagai waktu untuk mengajarkan tari Pajjaga ( Majjaga ) di rumah
tempat pelaksaan ritual adat Masara. Rangkaian pementasan tari Pajjaga ( Majjaga ) pada acara ritual adat
Masara sebagai berikut:
a.
Membuat tempat pentas ( Pasombung )
Passombung
untuk tempat Majjaga harus memilikki wuwungan sendiri dan ditengahnya terdapat
tiang yang langsung kewuwungan serta selurus dengan wuwungan rumah inti.
Passombung tersebut dimaksudkan untuk tempat belajar Majjaga dan Pementasa pada
malam Patojoloan.
Lantai
pasombung untuk pentas tari Pajjaga ( Majjaga ) adalah papan dan tidak dipaku
atau diikat dengan rapat. Lantai tersebut sengaja dibuat renggang agar membuat
irama tersendiri saat para penari menghentakkan kaki di atas papan tersebut.
b.
Matturabang
Pementasan seni tari Majjaga dimulai
dengan prosesi penyembelihan tiga ekor ayam dan satu ekor kambing. Ayam yang
disembelih dimasak untuk dimakan sedangkan kambing akan diiris –iris kecil dan
dibersihkan kemudian dimasukkan kedalam potongan bambu dan dibakar sampai
matang.
Memasak dengan cara memasukkan daging
atau beras kedalam bambu kemudian dibakar sampai matang disebut Mapeong dalam bahasa To Batu.
Pementasan tari Pajjaga ( Majjaga )
pada ritual adat Masara akan dilaksanakan pada malam Patojoloan. Pemetasan dimulai dengan membawah anak-anak yang
akan ( Dipasallang ) bersama orangtuanya duduk di tengah lingkaran yang
akan dilalui oleh penari. Mengambil
seikat padi atau beberapa liter gabah dan diletakkan disisi tiang tengah tempat
Dama diikat. Selanjutnya akan dilakukan penyalaan damar ( sulo ) yang dilakukan oleh A’da Sando atau pemimpin penari dengan
membakar damar yang diikat ditiang tengah Passombung.
Para penabuh gendang akan mengambil
posisi setelah prosesi penyalaan damar ( sulo ) selesai. Penempatan posisi
penabuh gendang berada sedikit di luar jalur yang akan dilewati oleh para
penari. Penabuh gendang idealnya berjumlah tujuh orang dan minimal tiga orang.
Gendang diletakkan didepan penabuh, kemudian tali dikaitkan di lutut agar
gendang tidak bergeser saat ditabuh.
Bagi
penari penghibur seperti Paceba-ceba, Pattanun, dan Padangkang menyesuaikan
dengan tema tariannya. Penari akan muncul pada sisi kanan passombung berputar
berlawanan dengan arah jarum jam. Pertama-tama yang akan muncul adalah penari
laki-laki yang akan menampilkan tari Pajjaga ( Majjaga ). Jumlah penari
laki-laki maupun perempuan idealnya tujuh orang. Penari laki-laki pada saat
mulai melangkah melantunkan syair berikut:
Syair Lagu Majjaga
Na
tuo Puang Angngede
Leku
ngu’A A’nga Akka
Assihile
Siwiang Angngalle
Iya
Mua A’nga Akka
Manasakku Lelo Lelotolla-Lelotolla
Angngangi Enginna Kinca
Uhule Matanna
Naracca’i pano Lelo Lelotolla-Lelotolla.
( Syamsuddin, 2019 )
Syair di atas pada bagian pertama
mengandung makna pujian dan ibadah kepada Tuhan semesta ( Puang sewwa ) yang
telah menciptakan manusia. Bagian kedua bermakna ungkapan rasa syukur kepada (
Puang Sewwa ) atas reski yang telah diberikan, sehingga dapat melaksakan ritual
Masara.
Wisata budaya Masara dan Majjaga bukan
satu-satunya ritual adat yang bisa kita saksikan di komunitas sandobatu Desa
Leppangeng. Beberapa ritual adat yang unik dan menarik serta bisa menjadi daya
tarik bagi masyarakat dari luar untuk melakukan wisata budaya di bumi sandobatu
seperti; Budaya Massiallo yaitu
kegiatan gotong-royong pembukaan lahan perkebunan bagi pemangku adat sepert
A’da Sorong atau Mado, A’da Sara ( Imam ), A’da Kampung ( Kepala Dusun atau
Kepala RK ) dan A’ da Sando. Pemangku
adat yang paling sering dibantu untuk pembukaan lahan dengan Massiallo adalah
A’da Sorong dan A’da Kampung.
Keunikan Massiallo adalah pada
pembukaan lahan perkebunan padi ladang ( Bela
) akan dimulai oleh A’da Sorong atau yang punya lahan. Pembuatan komsumsi bagi
para pria yang melakukan gotong-royong pembukaan lahan di lakukan di sekitar
lahan yang akan dibuka. Penyajian makanan tidak menggunakan piring besi atau
plastik melainkan daun kayu. Daun kayu yang digunakan untuk alas nasi yaitu
daun Tarra kayu yang mirip dengan
pohon sukun, namun ukuran daunnya lebih lebar.
Setipa orang mendapatkan dua porsi
nasi yang telah dibungkus dengan daun Tarra. Satu porsi untuk di komsumsi pada
siang hari saat istirahat untuk makan siang dan satu porsi akan di bawah
pulang.
Ritual adat yang juga menarik adalah
kegiatan Matulung tanah. Ritual ini
adalah rangkaian ritual adat imbela ( perkebunan ) di komunitas sandobatu desa
Leppangeng. Kegiatan ini akan dilaksanakan setelah proses pembersihan lahan dan
sebelum proses penanaman padi dilaksanakan. Kegiatan Matulung tanah
dilaksanakan setiap dua atau tiga tahun
sekali. Prosesi Matulung tana biasanya
dilaksanakan di kebun atau lahan milik A’da kampung atau A’da Sorong.
Prosesi Matulung tana selalu dimulai
dengan musyawarah untuk mengumpulkan dana. Persiapan Matulung tana meliputi;
tempat, waktunya, dan biayanya. Dana yang dikumpulkan adalah pembelian kambing
dan ayam. Jumlah kambing yang harus disiapkan adalah minimal satu ekor bisa dua
atau tiga ekor. Kambing yang akan disembelih yaitu kambing jantan dengan bulu
warna hitam dan sudah cukup umur atau minimal tanduknya sudah lebih segemgam.
Jumlah ayam yang harus disiapkan minimal tujuh ekor bisa lebih dengan beberapa
ekor ditentukan jenis bulunya.
Prosesi penyembelihan kambing ataupun
ayam pada ritual Matulung tanah harus di hadiri semua oleh pemangku adat di
komunitas sandobatu. Semua persoalan masyarakat terkait dengan perkebunan baik
padi ladang ataupun tanaman lain akan didoakan dalam prosesi matulung
tana. Semua masyarakat di kampung yang melaksanakan ritual adat matulung tana
akan diintruksikan untuk membawah beras dengan jumlah yang telah disepakati
saat musyawarah. Selain membawah beras masyarakat juga dianjurkan untuk
membawah satu ekor ayam atau memberikan uang untuk membeli ayam.
Kambing dan ayam yang disembelih pada
ritual adat Matulung tana akan dimasak dan dimakan bersama di rumah atau tenda
yang ada di kebun tempat pelaksanaan matulung tana. Semua proses pengolahan
makanan, ayam dan kambing semuanya dilaksanakan di kebun.
Tujuan dari ritual adat matulung tana
adalah sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan Pencipta alam semesta atas
limpahan yang bumi yang mereka peroleh serta
permohonan agar hasil kebun atau perkebunan lebih baik lagi tahun yang akan
datang.
Komunitas sandobatu dalam hal ritual imbela ( Pintaunan ) sangat banyak dan berlangsung sepanjang tahun. Ritual
tersebut tidak dapat penulis uraikan secara detail dalam karya ini. penulis
hanya akan menguraikan secara garis besarnya saja. Ritual adat imbela (
Pintaunan ) dimulai dari Ma’tanda sula, mabela ( termasuk didalamnya Massiallo ), mapasondok allo, Massumpun,
matulung tana, sipulung pitarukan, mapasiammu, Makkadudu mapu, mapalise,
mapasoso, mabate laju, maruak, mabulo, madara bulo, mingala, dan maccera.
Rangkaian ritual adat ( Pintaunan ) di komunitas sandobatu yang
penulis uraikan di atas belumlah lengkap dan runtut. Ritual adat ( Pintaunan )
yang penulis ungkap diatas hanya sebagai rujukan awal tentang keragaman ritual
adat di komunitas sandobatu Desa Leppangeng.
Pengembangan potensi destinasi wisata
di bumi sandobatu Desa Leppangeng tidak terbatas pada air terjun, arum jeram
dan wisata budaya. Potensi wisata yang juga memiliki prosfek untuk dikembangkan
di kawasan destinasi air terjun, arum jeram dan tempat bersejarah yaitu wisata
kehutanan. Kawasan hutan disepanjang jalan poros Bolapetti – Walawala dari
jembatan karondang sampai di sungai Lumpingan sangat potensial jika didesain
menjadi kawasan wisata sektor kehutanan.
Hal menarik dalam hutan yang ada di
sepanjang jalan tersebut adalah kayu eboni
salah satu kayu langkah disulawesi. Berbagai jenis rotan juga tumbuh
dii area hutan ini serta berbagai jenis kayu langkah lainnya. Kawasan hutan ini
pada musim tertentu banyak di datangi oleh burung ranggong yang juga termasuk
hewan langkah di sulawesi.
Hutan ini termasuk dalam kawasan hutan
lindung yang selama ini jadikan oleh masyarakat setempat untuk mencari kayu perumahan. Rotan yang tumbuh
dikawasan ini selain digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari juga
diambil untuk dijual.
Pengembangan destinasi parawisata menjadi
kawasan wisata yang berada disekitar kuburan tua Puang Patta Bolong Aje Matindo
ri Sumbang kabona memiliki beberapa keunggulan dan akan menjadi daya tarik bagi
wisatawan untuk mengunjungi kawasan obyek wisata ini jika dikelola oleh
pemerintah Desa Leppangeng. Beberapa keunggulan kawasan salu Lumpingan sehingga
memiliki prosfek untuk menjadi kawasan paket wisata terpadu yaitu:
1. Memiliki
lahan yang luas dan landai untuk membangun fasilitas umum.
2. Tanah
sepanjang sungai landai sehingga cocok untuk membuat stand dan baruga.
3. Terdapat
lahan untuk kolam renang
4. Pertemuan
atau muara sungai Lumpingan dan sungai Alokka.
5. Berada
di jalan poros antara Bolapetti dan Walawala
6. Kuburan
Patta Puang Bolong Aje berada di tengah-tengah kawasan
7. Berada
di samping jalur arum jeram
8. Jarak
dengan air terjun sarambu masing hanya sekitar 200-300 meter
9. Kawasan
ini dekat dengan hutan yang sering didatangi oleh kawanan burung ranggong
10.
Potensial untuk penangkaran anoa hewan
langkah yang hanya terdapat dipulau sulawesi.
11.
Pembangunan sanggar seni dan rumah adat telah di canangkan di lokasi tersebut.
12.
Kawasan ini bebas dari pencemaran air dan
udara.
13.
Kayu untuk pembangunan fasilitas umum sangat
banyak disekitar kawasan ini.
14.
Sungai juga bisa dikembangkan untuk tempat
memancing berbagai jenis ikan lokal seperti belut dll.
Pengembangan kawasan industri parawisata di Desa
Leppangeng khususnya area wisata di salu Lumpingan adalah sebuah proyek besar
sehingga membutuhkan kajian yang lebih komprehemsif dan cermat. Kendala
pengembangan kawasan wisata terpadu di salu lumpingan terkait masalah anggaran
tidak menjadi bagian yang terlalu urgen.
Kendala yang sangat mendesak untuk diselesaikan yaitu terkait
ketersediaan listrik dan sarana komunikasi. Ketersediaan listrik dan sarana
komunikasi menjadi aspek yang paling mendesak jika ingin mengembangkan kawasan
ini karena tidak bisa di swadaya oleh masyarakat.
Pelestarian nilai-nilai budaya dan kearifan lokal melalui
industri parawisata adalah sebuah langkah yang penting. Apresiasi dan
penghargaan pada nilai budaya dan kearifan lokal melalui wisata budaya selain
menumbuhkan kembali kecintaan pada nilai budaya dan kearifan lokal juga akan
memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Budaya dan kearifan lokal berupa ritual-ritual adat yang
sedianya telah mulai ditinggalkan oleh generasi muda sekarang perlu dikaji
kembali dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan aman. Ritual adat yang
mencerminkan hubungan antara manusia dengan sang pencipta, manusia dengan
sesama manusia serta hubungan manusia dengan alam seperti kegiatan matulung tana mencerminkan hubungan
antara umat manusia dengan sang pencipta dan alam sekitar.
Budaya dan ritual adat komunitas
sandobatu desa Leppangeng yang unik dan sangat beragam diharapkan dapat menjadi
daya tarik sendiri untuk menarik pengunjung datang ke bumi sandobatu. Wisata
budaya sebagai salah satu aspek yang bisa menjadi daya tarik suatu daerah
menjadi tujuan wisata harus dilestarikan oleh komunitas itu sendiri. Tingkat
kesadaran wisata masyarakat setempat merupakan faktor yang sangat penting untuk
terus memelhara keunikan dan kekhasan budaya komunitasnya.
Sosialisasi tentang pentingnya
kesadaran wisata saat ini perlu digalakkan dikalangan masyarakat sandobatu Desa
Leppangeng. Kesadaran akan prosfek industri parawisata di sektor budaya dan
tradisi akan menumbuhkan semangat untuk kembali mengkaji berbagai budaya dan
kearifan lokal yang selama ini telah mulai ditinggalkan.
Penguatan kelembagaan adat adalah
salah satu langkah awal yang bisa dilakukan oleh pemerintah desa Leppangeng
untuk mengembangkan wisata budaya dan
kearifan lokal di komunitas sandobatu. Melakukan kajian terhadap berbagai
kearifan lokal komunitas adat sandobatu yang
sudah hampir hilang dan menyusun kembali dalam bentuk buku atau tulisan.
Tanggungjawab untuk menjaga dan
melestarikan budaya ataupun kearifan lokal komunitas adat sandobatu yang ada di
Desa Leppangeng berada di tangan pemerintah desa. Kebijakan pemerintah desa
dalam menyusun angggaran dan alokasi dana untuk pelestarian budaya dan kearifan
lokal setempat, merupakan faktor yang sangat menentukan.
Pemerintah desa sebagai pemegang
kebijakan ditingkat desa sangat diharapkan mampu mengambil sebuah kebijakan
yang bisa membuat potensi wisata budaya yang ada di daerahnya bisa berkembang
dan bermanfaat bagi masyarakat setempat.
BAGIAN III
Penutup
Menanti kebijakan pengembangan destinasi wisata di Desa Leppangeng
Perkembangan industri wisata sebuah
wilayah sangat tergantung pada kebijakan dan kemampuan pemerintahnya dalam
mengoptimalkan potensi yang ada di wilayah tersebut. Pemerintah yang kurang
kreatif dalam mengelola sumber daya yang ada di daerahnya akan membuat desa tersebut sangat tergantung
pada angaran yang diberikan oleh
pemerintah daerah baik anggaran ADD Daerah ataupun ADD APBN. Kurangnya
kemampuan pemerintah desa dalam melihat potensi dan peluang membuat pembangunan
di desa berjalan lambat.
Keberanian pemerintah desa dalam mengambil sebuah kebijakan adalah hal
mutlak jika menginginkan sebuah perubahan yang cepat. Kemampuan menjalin
komunikasi dan kerjasama dengan berbagai pihak adalah salah satu langkah yang
bijak untuk merumuskan sebuah program yang pro masyarakat. Menyoal aspek
pembangunan di sektor parawisata ada beberapa faktor yang menentukan suksesnya
pembangunan desa wisata yang di sarankan oleh Wilson et al, (2001) https://www.kompasiana.com/masrura dari hasil penelitiannya yaitu :
1. Adanya Paket wisata yang lengkap ada beberapa opsi bagi pengunjung.
2. Pengunjung yang datang ke suatu
destinasi wisata tidak hanya datang untuk melihat sebuah obyek tetapi juga
ingin menjelajahi wilayah sekitarnya. Mereka hendaknya difasilitasi paket
perjalanan yang lengkap dna hal ini juga menjadikan lama tinggal mereka
bertambah yang berarti pengeluaran mereka akan menjadi lebih besar. Paket
wisata yang berkualitas tinggi yang melibatkan berbagai aktivitas yang
"tidak biasa" atau berbeda menjadi daya tarik tersendiri bagi
pengunjung (misalnya: memancing, berkebun, bertani, menyadap nira, rafting
dll). Paket wisata seperti diatas jika dikelola secara baik bisa dinikmati
semua oleh pengunjung di bumi sandobatu Desa Leppangeng. Hal ini juga akan
semakin menarik jika dilengkapi dengan sarana akomodasi dan restaurant yang
menunjang serta tempat yang menjual kebutuhan pengunjung lainnya yang berada
disekitar wilayah tersebut
3. Kepemimpinan desa yang baik , visioner dan kreatif
4. Kemampuan kepemimpinan atau leadership yang baik dari seorang pemimpin
masyrakat dala hal ini kepala desa dan
perangkat desa serta BPD adalah sebuah factor yang penting yang menentukan
kesuksesan dari pengembangan pariwisata pedesaan.
Pemimpin ini tidak saja bisa membawa dan
mengarahkan partisipasi masyarakatnya tetapi juga membina hubungan yang baik
dengan berbagai stakeholder yang berada di destinasi ini.
5. Dukungan dan partisipasi dari pemerintah desa, organisasi kemasyarakatan,
perangkat adat dan pemerintah daerah.
6. Pemerintah setempat adalah salah satu kunci penentu suksesnya dari
pengembangan pariwisata pedesaan ini.
Fungsi pemerintah sebagai pembuat
kebijakan yang mendukungnya, promosi, dana, infrastruktur pendukung ke lokasi
destinasi dan mengembangkan kapasitas masyarakatnya.
7. Kerjasama dengan media sebagai upaya mempromosikan destinasi desa wisata
8. Program skala prioritas pengembangan desa wisata
9. Perencanaan strategis
Program strategis adalah hal yang vital
bagi kelanjutan dari destinasi wisata. Dengan perencanaan yang efektif dan
efisien termasuk mempertimbangkan penggunaan dana yang terintegrasi dengan
pembangunan lainnya di desa. Disinilah pentingnya seorang pemimpin yang akan
menyatukan semua stakeholder untuk bersama-sama berpartisipasi. Partisipasi
dari masyarakat adalah jantung dari pengembangan desa wisata ini.
10. Koordinasi dan kerjasama antara pengusaha setempat dan pemimpin masyrakat
11. Kerjasama dengan pihak swasta tidak dapat dihindari untuk meningkatkan dan
memajukan desa wisata terutama untuk mempromosikan serta mendatangkan
pengunjung ke destinasi wisata.
12. Koordinasi dan kerjasama antara para pengusaha pariwisata
13. Pariwisata menciptakan berbagai peluang usaha dan penting bagi semua
pengusaha ini untuk selalu berkoordinasi dan bekerja sama agar tidak terkadi
konflik dilapangan, misalnya keseragaman harga dan fasilitas yang ditawarkan.
14. Informasi dan bantuan teknis untuk promosi
Masyarakat di pedesaan biasanya akan
kekurangan SDM yang mengerti bagaimana menyiapkan brosur yang bagus dan
mempromosikannya secara professional dengan hasil sesuai yang diharapkan.
Mereka juga tidak akan mampu untuk membayar jasa agensi professional untuk
melakukannya.
15. Tersedianya fasilitas Tourist informasi
16. Keterlibatan atau partisipasi masyarakat secara luas. Partisipasi
masyarakat adalah kunci keseuksesan dari pengembangan pariwisata di pedesaan.
Kompetensi dan kapasitas masyarakat juga perlu disiapkan seperti pemahaman
dan kesadaran dunia pariwisata,
implikasi positif dan negatifnya terhadap daerah, kesiapan
menghadapi berbagai perubahan yang terjadi dengan datangnya orang-orang
asing ke tempat tinggal mereka yang mungkin akan menimbulkan ekses tertentu
bagi mereka.
. Potensi wisata sebagai sebuah harapan
Keberadaan potensi wisata disuatu daerah bisa menjadi modal yang akan
memberikan peningkatan sektor ekonomi masyarakat sekitarnya. Harapan akan
adanya peningkatan sektor ekonomi dan kualitas hidup mereka adalah sesuatu yang
wajar mengingat industri disektor parawisata saat ini sangat menjanjikan.
Pengelolaan
destinasi wisata diharapkan memberi dampak ekonomi dapat bersifat positif serta meminimalkan dampak negatif
dalam setiap pengembangan obyek wisata. Dampak positif disektor ekonomi secara
langsung adalah: membuka lapangan pekerjaan yang baru seperti pegawai
kebersihan, kemananan, berjualan makanan, minuman atau pulsa.
Dampak positif sosial Conservation of Cultural Heritage http://jurnal-sdm.blogspot.com seperti
adanya perlindungan untuk benda-benda kuno, bangunan sejarah, seni traditional
seperti musik, drama, tarian, pakaian, upacara adat. Wisata budaya selain
mengenalkan daerah ke pihak luar juga bertujuan untuk melestarikan budaya dan
kearifan lokal, meningkat rasa bangga akan budaya sendiri, menjadi sarana
pertukaran budaya komunitas sandobatu dengan masyarakat dari luar Desa Leppangeng.
Kebijakan dan kemauan pemerintah Desa
Leppangeng untuk mengelola dan mengembangkan berbagai potensi destinasi wisata
yang ada di daerahnya menjadi kunci terwujudnya harapan komunitas sandobatu
untuk menikmati sebuah kawasan wisata. Komunitas sandobatu di Desa Leppangeng
menantikan sebuah terobosan dari pemerintah untuk merealisasikan rencana kerja
pembagunan desa ( RKPDes ) yang telah dicanangkan sejak 2019 dan kembali
dimasukan dalam RKPDes 2020.
Harapan besar
masyarakat Desa Leppangeng terhadap dampak ekonomi terhadap pengelolaan
dan pengembangan destinasi wisata tentunya tidak berlebihan. Dampak ekonomi
yang diharapkan oleh masyarakat dari pengelolaan dan pengembangan destinasi
wisata di bumi sandobatu adalah;
1. Kehidupan meningkat
dan budaya serta tradisi dapat dilestarikan
Manfaat pengembangan
desa sebagai desa wisata yang tentunya akan langsung memberikan dampak positif
bagi warga tentu saja adalah dampak positif bagi tingkat kehidupan warga yang
dalam hal ini seperti mampu memunculkan lapangan kerja baru. Serta peningkatkan kualitas hidup masyarakat desa
melalui perbaikan sarana sehingga layak untuk dikunjungi. Pengembangan desa
sebagai desa wisata dapat menghidupkan budaya, tradisi atau lingkungan adat
sebagai salah satu komoditas wisata budaya lokal. .
2. Manfaat perekonomian bagi masyarakat pedesaan
Manfaat pengembangan
desa sebagai desa wisata di sisi perekonomian secara langsung adalah keuntungan
yang diperoleh dari objek wisata yang ditawarkan. Manfaat tidak langsungnya
adalah meningkatkan kunjungan ke desa sehingga perputaran perekonomian seperti
dari hasil penjualan produk lokal bisa semakin lancar atau bahkan dikirim ke
luar desa.
3.
Meningkatkan
keberadaan industri kecil menengah
Manfaat pengembangan
desa sebagai desa wisata selanjutnya adalah peningkatan industri kecil menengah
yang memanfaatkan produk lokal sebagai bahan mentahnya. Meningkatnya produk
lokal akan mengangkat tngkat kesejahteraan
masyarakat.
4.
Promosi produk lokal
Pengembangan desa
sebagai desa wisata juga sebagai sarana promosi produk lokal. Selain
meningkatkan pemanfaatan SDA seperti lokasi wisata, keberadaan desa wisata juga
dapat memberikan manfaat untuk promosi produk lokal.
Masyarakat desa dimanapun akan selalu mengharapkan daerah mereka
cepat maju dan berkembang. Mereka terkadang merasa putus asa menunggu perubahan
yang lebih baik dari sebelumnya. Harapan masyarakat yang terlalu besar dan
kompleks terkadang jauh melampaui kemampuan pemerintah untuk merealisasikannya.
Pengembangan potensi destinasi wisata di
desa Leppangeng tentunya membuka harapan bagi masyarakat akan kualitas hidup
yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Dalima,
Baco. 2019. Ritual adat Mapangolo. Hasil wawancara Pribadi. 6
November 2019, Walawala Desa Leppangeng.
Lobo.
2019. Ritual Adat Massapu Kaburu. Hasil
wawancara Pribadi. 8-9 November 2019. Walawala Desa Leppangeng
Imaduddin, 2017. Pengembangan wisata
pantai lawata dalam pengembangan wilayah di kota bima.
Universitas Islam Alauddin Makassar.
Syamsuddin.
2019. Silsilah Pemangku Adat Sandobatu.
Hasil Wawancara Pribadi. 7 November 2019
http://www.berdesa.com/4-manfaat
pengembangan-desa-sebagai-desa-wisata/.diunduh,8
Desember 2019
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/08/dampak-pengembangan-onyek-wisata-dampak.html, diunduh,
8 Desember 2019
http://jdih.baliprov.go.id/uploads/produk-hukum/peraturan/1990/UU/uu-9-1990.pdf. diunduh, 07 Desember 2019

Komentar
Posting Komentar