Mengenal Budaya " Masara dan Majjjaga" Komunitas Sandobatu di Desa Leppangeng Dalam Goresan Pena


Azis, S.Pd., M.Pd




MENGENAL BUDAYA “ MASARA DAN MAJJAGA”
KOMUNITAS ADAT SANDOBATU  
DI DESA LEPPANGENG
DALAM GORESAN PENA











KATA PENGANTAR
Puji dan syukur adalah untaian kata yang paling pantas diungkapkan sebagai insan yang beriman kepada Tuhan penguasa alam semesta atas limpahan Rahmat, Karunia dan Petunjuk-Nya dalam menjalankan  segala aktifitas keseharian serta bimbingan-Nya dalam menulis buku ini.
Buku ini merupakan sebuah goresan pena yang terinspirasi oleh keperihatinan akan semakin pudarnya budaya asli komunitas adat Sandobatu sebagai  akibat kurangnya minat generasi muda untuk melestarikannya serta kurangnya biaya dan falisitas untuk melsetarikan budaya tersebut. Budaya “ Masara dan Majjaga “  atau Pajja adalah budaya asli masyarakat adat Sandobatu  yang biasa dilaksanakan setiap tahun dan Majjaga dipentaskan dalam acara adat Masara tersebut. Buku ini disusun sebagai bentuk upaya pelestarian budaya “ Masara dan Majjaga “  lewat tulisan.
Judul ” Mengenal Budaya Masara Dan Majjaga Komunitas Adat Sandobatu di Desa Leppangeng Dalam Goresan Pena “ penulis angkat dengan harapan lewat tulisan ini nantinya dapat memberikan gambaran dan informasi tentang budaya masyarakat adat Sandobatu kepada para pembaca dan pemerhati budaya di Kabupaten Sidenreng Rappang. Ucapan terima kasih penulis  haturkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan buku ini baik bantuan berupa informasi, petunjuk dan dorongan serta bimbingan sehingga buku ini dapat diselesaikan.
   Penulis menyadari karya ini jauh dari kata sempurna, oleh karenannya saran dan masukannya sangat penulis harapkan, baik terkait penulisan ataupun isi dari buku ini. Atas saran dan kritikannya penulis haturkan banyak terima kasih.

                                                                                                            Sidenreng Rappang,.................2019
                                                Penulis

AZIS




SINOPSIS
           
            Budaya secara umum dipahami sebagai hasil segala sesuatu yang dihasilkan oleh olah pikir manusia. Banyak budaya  yang telah kita kenal dalam masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang dan telah dikenal secara luas seperti Tudang Sipulung, Mappadendang dan Mappacci atau Mapparola.
            Melalui goresan ini penulis akan menguraikan budaya dari salah satu komunitas di Kabupaten Sidenreng Rappang berdomisili bawah kaki gunung Latimojong sebelah selatan. Komunitas ini menamakan diri Tau Sandobatu, orang bugis menyebutnya Tao Pole Bulu ( orang dari gunung ) dan orang Luwu menyebutnya Tau Lumika. Komunitas ini kemudian dikenal sebagai komunitas adat Sandobatu dan telah diakui oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ( AMAN ). Komunitas ini memilki budaya atau ritual adat yang disebut Masara dan  Majjaga ritual adat ini sangat sakral dalam komunitas adat Sandobatu terkhususnya yang bermukim di Desa Leppangeng ( Walawala ) sebelum masa  kemerdekaan.
            Masara merupakan ritual adat yang diawali dengan musyawarah adat untuk penentuan waktu dan tempat pelaksanaan, Ma’Rombu, Massombung bola, Mappangolo, Massapu Kaburu, Matturabang, Ma’Tojo, Lao Bubun, Massunna, Cakkabere, Marondon Tambing dan ditutup dengan Tolak Bala. Seni tari Majjaga Mulai diajarkan sejak 40 hari sebelum acara puncak dan mulai dipentaskan 3 malam sebelum acara puncak dimulai. Waktu 40 hari digunakan untuk belajar Majjaga bagi masyarakat yang ingin belajar, karena Majjaga tidak boleh diajarkan diluar kegiatan Masara.










Daftat isi
Kata Pengantar....
Sinopsis
Halaman Judul
Bagian I    : Pendahuluan
Sejarah dan Wilayah To Batu (Sandobatu ) Desa Leppangeng
a.  Mengenal lebih dekat  Komunitas adat To Batu ( Sandobatu )
b.  Keragaman Budaya Komunitas Adat Sandobatu.
Bagian II   : Prosesi Budaya Masara dan Majjaga
a.    Prosesi Ritual Budaya Masara
b.    Kesenian Tradisional Tari  Majjaga ( Pajjaga )
Bagian III  : Penutup
a.     Pentingnya Apresiasi Terhadap Budaya Lokal
b.     Kearifan Lokal To Batu yang perlu dilestarikan







BAGIAN I
Pendahuluan

Sejarah dan Wilayah To Batu ( Sandobatu ) Desa Leppangeng
A.  Mengenal lebih dekat  Komunitas adat To Batu ( Sandobatu )
Bangsa Indonesia dikenal memiliki ratusan suku bangsa yang tersebar diberbagai daerah dari Sabang sampai Merauke. Keragaman ini patut kita syukuri bersama dan dipelihara sebagai sebuah kekayaan bangsa. Suku-suku yang tersebar diberbagai daerah memiliki ciri khas tersendiri seperti bahasa, pakaian, adat istiadat, dan kesenian serta budayanya.
Suku yang sudah dikenal secara luas di Sulawesi Selatan adalah suku Makassar, Bugis dan Toraja. Masyarakat  suku Makassar mayoritas bermukim di kota makassar, Maros Gowa dan Kabupaten sekitarnya, Suku Bugis tersebar dibeberapa kabupaten seperti Parepare, Barru, Sidenreng Rappang, Wajo, Soppeng dan Kabupaten Sekitarnya, Suku Toraja Mayoritas bermukim di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara.
Pada umumnya kita mengatakan bahwa suku asli yang berdomisili di Kabupaten Sidenreng Rappang adalah Suku Bugis. Bagi sebagian besar masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang mereka memahami bahwa satu-satunya suku asli di Sidrap adalah suku Bugis. Penulis tidak bermaksud untuk mengatakan jika anggapan yang demikian itu adalah sesuatu yang keliru akan tetapi perlu dipahami pula bahwa ada beberapa komunitas yang tidak mengakui jika mereka adalah suku Bugis.
Beberapa komunitas yang menganggap mereka bukanlah suku Bugis seperti komunitas To Lautang, Tau Camma dan To Batu. Komunitas ini memiliki ciri khas sendiri dan memiliki wilayah yang didominasi oleh komunitas tersebut. Komunitas Tau Lautang ( Lotang ) mayoritas berdomisi di kecamatan Tellu Limpoe (Amparita)https://news.detik.com/berita/d4444282/mengenal-to-lotang-komunitas-hindu-tanpa-pura-di-sulsel), Sebagian  Kanyuara dan Kecamatan Pitu Riawa ( Pujo ), Komunitas Camma mayoritas Berdomisili di Kecamatan Pitu Riase ( Lagading, Saloale dan Lombok ) Kecamatan Pitu Riawa ( Betao dan sekitarnya ). Komunitas To Lumika ( Sandobatu ) mayoritas bermukim di Desa Leppangeng, Compong dan Sebagian Desa Tanatoro.
Komunitas To Batu ( Sandobatu ) adalah komunitas yang asal-usulnya sampai saat ini belum dapat dipastikan melalui penelitian ilmiah. Komunitas ini bermukim di wilayah kaki Gunung Latimojong sebelah selatan disebuah lembah yang dikelilingi pegunungan Bulu Mallawa dan pegunungan Mauran atau Buntu Dama. Wilayah ini dialiri oleh dua sungai besar yang berhulu di Gunung Latimojong dan Bermuara di  teluk Bone ( Siwa ) yaitu sungai Alokka ( Awo ) dan Sungai Siwa.
Asal usul komunitas ini menurut cerita tutur yang diceritakan oleh para tetua secara turun temurun disebutkan bahwasanya Nene moyang To batu ( Sandobatu ) adalah Manurung Ri Batu yang keluar dari bambu disuatu tempat yang disebut Rurak ( Ma’tang ) di bawah bau Metan.
Cerita ini sangat dipercayai dalam komunitas To Batu ( sandobatu ), dari Manurung tidak diketahui secara pasti berapa generasi kemudian lahirlah tujuh Patala yaitu Patala Bantang, Patala Bunga, Patala Angin, Patala Gigi, Patala Api dan Patala guru. Silsilah To batu berasal dari Patala Gigi turun ke Nene Puang Candiwi ( Nene Bakkan ) yang memiliki empat orang keturunan yaitu Wai Ace, Kamisi, No,Bo dan Pincan.  Wai Ace diangkat menjadi Raja Batu yang kemudian meninggalkan Walawala menuju Botto libu ( Tanatoro ) dan Mallinrung disana. Kamisi menjadi A’da Sara yang kemudian meninggalkan Walawala menuju Addatuang Ri  Sidenreng dikenal dengan nama Lapgala ( cerita ini masih perlu dicari kebenarannya ). No’bo Menjadi A’da Sando ( sandobatu ) dan menetap di Walawala bersama dengan Pincan yang menjabat A’da sorong. Keturunan dari Nene Puang Candiwi dikenal dengan A’pa Bocco atau Empat yang dikuasakan ( empat pemangku) penulis dalam buku ini tidak akan menguraikan secara detail tentang A’pa Bocco.
Nene Puang Candiwi kuburannya ada di dusun ( kampong ) Walawala. Generasi yang bersinggungan dengan Generasi Nene Puang Candiwi adalah Puang Pesawa yang kuburannya ada di dusun Tosemang( Botto pasang ) , serta Nene Puang Matindo Ri Salu Londong semasa hidupnya menetap di sekitar Salu Londong sebuah lembah yang diapit oleh Sungai Alokka dan Sungai Lumpingan serta  dikuburkan di pinggiran Sungai Aloka sekitar muara Sungai La Tuan.
Nene Puang Matindo Ri Salu Londong memiliki seorang putri yang cantik sehingga banyak para anak raja yang berkeinginan untuk mempersuntingnya. Menurut cerita yang disampaikan secara turun temurun dalam komunitas To Batu ( Sandobatu ) bahwa ada  Tujuh anak raja yang kemudian melamar. Versi lain mengatakan enam orang yang melamar  dan semuanya diterima. Hal demikian dilakukan karena tidak ingin mengecewakan anak-anak raja tersebut.
Lahirnya Pitu Bocco menurut para tetua komunitas To Batu ( Sandobatu ) berawal dari lamaran tersebut. Menurut cerita yang berkembang dikomunitas To batu. Ketika tiba waktu yang telah ditentukan akan dilaksanakan perkawinan antara anak Nene Puang Matindo Ri Salu Londong dengan ketujuh orang yang melamar tersebut, maka gadis tersebut kemudian didandani oleh Nene Puang Matindo Ri Salu Londong kemudian membawahnya kesebuah sendang ( Liku ) dan dilemparkan dalam sendang tersebut. Nene Puang Matindo Ri Salu Londong  setelah membuang putrinya mengambil sirih untuk menyirih ( Manggota ) sambil menunggu putrinya. Setelah Menyirih sebanyak tiga kali muncullah putri Nene Puang Matindo Ri Salu Londong, namun tidak seorang diri melainkan tujuh orang dengan wajah yang sama dan pakain yang sama. Nene puang Matindo Ri Salu Londong kemudian kembali kerumahnya dan menikahkan anaknya dengan ketujuh anak raja yang telah melamar anaknya.
Kebenaran peristiwa Nene Puang Matindo Ri Salu Londong yang membuang anaknya di sendang ( Liku ) masih dapat ditelusuri kebenarannya. Bukti peristiwa tersebut seperti batu yang ditempati menyirih ( Manggota ) masih ada  bekas ludah berwarna merah. Sendang ( Liku ) tempat terjadinya peristiwa tersebut ada di Sungai Alokka ( Awo ) tempat ini sakral bagi kalangan komunitas To Batu ( sandobatu ) kemudian dikenal dengan nama Liku Puang.
Menurut cerita tutur yang ada dan dipercayai oleh komunitas To batu bahwa setelah perkawinan anak Nene Puang Matindo Ri Salu Londong dengan anak raja tersebut, maka merekapun membuat perjanjian yang kemudian dikubur di Lamunan Patu ( Penulis tidak menguraikan secara detail terkait Lamunan Patu karena tempat tersebut disakralkan dalam komunitas ini, termasuk isi perjanjian dan tempat mereka melakukan perjanjian sebelum mereka meninggalkan Salu Londong juga tidak diuraikan disini ). Setelah mereka membuat perjanjian enam orang kemudian pergi ketempat yang berbeda satu orang tinggal. Tempat yang ditujuh oleh enam orang yang keluar adalah Duri, Luwu, Bone, Wajo, Gowa dan Sanggalla. 
Keturunan selanjutnya yang sudah dapat dilihat dan dikunjungi kuburannya yaitu Puang Patta Bolong Aje ( Puang Matinro Ri Sumbang Kabona ) yang hidup di era kolonialisme Belanda. Puang Patta Bolong Aje ( Puang Matinro Ri Sumbang Kabona ) adalah anak dari Nene Puang Matindo Ri salu Londong.
Penulis sedikit menguraikan hal tersebut di atas dengan asumsi bahwasanya Ritual Adat “ Masara dan Majjaga “ lahir dari leluhur komunitas To Batu ( sandobatu ) yang telah penulis singgung sebelumnya. A’pa Bocco salah satunya adalah Nene dari Sandobatu yang kemudian tinggal dan membangun sebuah kampung yang disebut Walawala. Saudara dari Nene To batu Sandobatu yang dua orang keluar meninggalkan Walawala tidak dibahas disini (  Penulis tidak dapat memaparkan secara detail tentang kedua orang  saudara Nene Sando yang Meninggalkan tanah Batu “ Sandobatu”).
Pemangku adat Sandobatu yang masih dapat ditelusuri sebagai berikut:
1.  Pincan
2.  Manangki
3.  Nene Lalo
4.  Nene Wala
5.  Ambe Baco Sohe
6.  Ambe Mahewa
7.  Embong Tua
8.  Samaila
Pemangku adat yang tercantum diatas tidak secara pasti sebagai pemangku yang keberapa. Pemangku adat sekarang ini atas nama “ Samaila “ yang berdomisili di Desa Compong. Sebagai pelaksana ritual adat sandobatu di Kampung Walawala yaitu Ambe Huseng ( B. Dalima ) serta Ambe Raman ( Sinding ), kedua orang tersebut adalah Sulle Batang Sando atau perwakilan dari Pemangku adat tertinggi ( Syamsuddin, 2019 ). 
Wilayah komunitas To Batu ( Sandobatu) sejak awal dikenal dengan nama Batu yang kemudian disebut Walawala. Menurut sesepuh komunitas To batu ( Sandobatu ) yang menjadi informan penulis bahwasanya Walawala sudah dikenal sebelum zaman kerajaan. Kampong Walawala tetap dikenal sampai awal kemerdekaan dan berkembang menjadi beberapa kampung seperti Botto Pasang dan Tammapole.
Perkembangan kampong Walawala secara administrasi dimulai setelah masa kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di awal kemerdekan Walawala  termasuk dalam wilayah distrik Dua Pitue. Setelah memasuki tahun 80-an masuk kedalam wilayah  distrik Pitu Riase ( Kelurahan Batu  )  dan pada awal tahun 90-an tergabung dalam Desa Compong.
Pemekaran Desa berimbas dengan ikutnya Walawala bergabung ke dalam wilayah Desa Lombok. Setelah pemekaran Kecaman Dua Pitue menjadi tiga kecamatan yaitu kecamatan Pitu Riawa dan Pitu Riase pada era reformasi.  Terjadi pemekaran Desa Lombok menjadi Desa persiapan Leppangeng.
Desa Leppangeng saat ini memiliki 8 dusun yaitu Bolapetti, Pasangridi, Walawala, Tosemang, Lengke, Galung, Lumpingan dan Rantesiwa. Jarak antara ibukota Kabupaten Sidenreng Rappang ke Desa Leppangeng yang terdekat sekitar 50-60 km dan terjauh sekitar 70-80 km.
B.  Keragaman Budaya Komunitas Adat Sandobatu.
Komunitas To Batu ( sandobatu ) memiliki kearifan lokal atau budaya yang sangat beragam. Budaya asli komunitas To Batu ( Sandobatu ) yang sampai saat ini masih masih dilestarikan oleh komunitas tersebut  seperti:
a.  Budaya Imbela dan tradisi Massiallo.
Prosesi pembukaan lahan perkebunan ( imbela ) dalam komunitas To Batu ( Sandobatu ) untuk perkebunan padi, diawali dengan survei lahan dalam bahasa setempat disebut Ma’Tanda Sula  yaitu menyelibkan sepotong kayu pada batang kayu pada empat penjuru sebagai tanda batas lahan yang akan dikelola oleh satu orang. Masyarakat lain yang juga akan membuka lahan memberi tanda yang sama disebelah tanda sebelumnya.
Pembukaan lahan akan dilakukan setelah ada petunjuk dari ahli perbintangan ( Bilang atau To’do ) tentang waktu yang tepat untuk membuka lahan sehingga bertepatan dengan musim kemarau. Proses pembukaan lahan dilakukan secara gotong-royong, dalam pembukaan lahan ada tradisi yang bernama Massiallo yaitu pembukaan lahan milik A’da Sorong ( orang yang memimpin prosesi Imbela dari pembukaan lahan sampai prosesi pesta panen) secara gotong-royong walaupun yang bersangkutan tidak ikut dalam kelompok pembukaan lahan.
Hal unik dalam tradisi Massiallo adalah tempat atau wadah untuk penyuguhan nasi tidak menggunakan piring akan tetapi menggunakan daun kayu dalam bahasa setempat disebut daun Tarra. Setiap orang mendapatkan dua porsi, satu porsi untuk dimakan dan satu porsi lainnya dibungkus untuk dibawah pulang oleh setiap orang ke rumahnya. Lauk untuk makanan pada saat Massiallo biasanya menggunakan udang sungai  ( bongko ) atau belut ( Masapi ) selain itu, Lauk ayam yang disembelih sebelum kegiatan Massiallo dimulai juga terkadang menjadi pelengkap. Tradisi selanjutnyayang dilakukan setelah proses pembukaan lahan masih banyak antara lain: Ma’Pasondok Allo, Sipulung Pitarukan dan Mitaruk, Sipulung Makadudu ma’pu, Ma’Dara Bulo, dan terakhir Sipulung Maccera ase.

b.  Pakaian adat
Pakaian adat yang sudah kita kenal di Kabupaten Sidenreng Rappang adalah Baju Bodo atau baju Tokko. Pakaian adat lain yang ada di Kabupaten Sidenreng Rappang walaupun belum mendapat pengakuan adalah pakaian adat Kato. Pakaian adat tersebut merupakan pakaian adat komunitas To Batu lengkap dengan songkoknya. Pakaian adat To Batu  dalam bahasa setempat disebut Pakaean Kato.
Pakaian adat ini awalnya terbuat dari serat pelepah enau ( Baruk ), seiring perkembangan zaman dan tidak ada lagi generasi yang mampu membuat kain baruk. Sehingga kain untuk pakain ini menggunakan kain kapan. Pakaian adat ini hanya digunakan pada kegiatan tertentu seperti Mappangolo dan Masara.
Secara filosofi pakaian adat ini memiliki makna kesucian, kesederhanaan dan kerendahan hati serta mengingatkan pada kematian. Komunitas ini pada momen dan kondisi tertentu tidak memperbolehkan pakaian warna kuning. Songkok adat To Batu terbuat dari anyaman rotan yang diraut kecil dan dan halus. Bentuk songkok ini pada bagian bawah melingkar sedang bagian atasnya  mempunyai enam sudut yang memiliki pusat ditengah. Makna yang terkandung dalam bentuk songkok ini adalah persatuan, kebersamaan, dan enam  sudut  dengan membentuk titik pusat di tengah melambangkan Tujuh Bersaudara atau Pitu Bocco.
c.   Senjata Tradisional
Senjata tradisinal yang kita kenal di Kabupaten Sidenreng Rappang adalah keris atau badik. Kita tidak pernah mendapatkan referensi lain yang menyebutkan bahwa ada komunitas di Kabupaten Sidenreng Rappang yang memiliki senjata tradisional sendiri. Senjata tradisional yang unik dapat kita temui dilingkungan Komunitas To Batu. Senjata tradisional  di komunitas To batu ( Sandobatu ) disebut Pali-pali. Senjata ini adalah potongan batang rotan. Potongan rotan tersebut hanya diambil oleh A’da Sando pada prosesi Kendek Batangbatu. Senjata ini hanya diberikan  kepada orang tertentu dan digunakan pada acara tertentu saja                  ( Syamsuddin, 2019 )
d.  Bahasa
Salah satu identitas suatu komunitas adalah Bahasanya. Bahasa sebagai sarana komunikasi dalam suatu komunitas juga sebagai lambang budaya suatu kelompok masyarakat tertentu. Komunitas To Batu (sandobatu) juga memiliki bahasa daerah sendiri yang  mereka sebut bahasa ( Bicara Tau bulu ). Bahasa komunitas To Batu ( sandobatu ) mirip dengan bahasa orang Suku Toraja dan Enrekang sebagian mirip Bahasa orang Luwu dan sebagian masuk bahasa Bugis.
Bahasa lain yang mirip dengan bahasa komunitas To Batu ( Sandobatu ) adalah bahasa Bungi Kabupaten Pinrang serta Orang Mirring Kabupaten Polewali Provinsi Sulawesi Barat. Bahasa ini menjadi identitas tersendiri bagi komunitas To Batu (Sandobatu ).
e.  Strata Sosial
Komunitas To Batu sangat berbeda dengan berbagai kelompok masyarakat yang ada di suku Bugis. Walaupun dikalangan komunitas To Batu juga  mengenal yang namanya raja atau arung, akan tetapi tidak mendapat perlakuan khusus dalam strata sosial. Budaya masyarakat To  Batu sangat menghormati siapapun yang datang di lingkungan mereka.
Komunitas To Batu juga memiliki ritual adat untuk menyambut kalangan bangsawan bugis ( Raja atau Arung ) yaitu Maccera Aje. Perlakuan khusus kepada kalangan bangsawan hanya sebatas itu. To Batu tidak mengenal strata sosial dikalangan mereka sendiri.  Prinsip berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah sangat dipegang teguh oleh komunitas To Batu. Apabila ada bangsawan yang berkunjung ke komunitas ini mereka harus rela duduk seperti rakyat biasa, makan dengan wadah yang sama ataupun tidur berbaur dengan rakyat biasa.
Pemangku adat dikalangan komunitas To Batu tidak memiliki status sosial tertentu, pemangku adat hanya bertugas sebagai pemandu pada ritual tertentu. Kedudukan pemangku adat akan kembali sebagai masyarakat biasa apabila ritual yang mereka pimpin telah selesai. Pemangku adat di komunitas To Batu yaitu:
1.  A’da Kampung adalah orang yang menjabat sebagai kepala kampung atau rukun kampung.
2.  A’da Sara adalah orang yang menjabat sebagai pegawai Sara atau imam.
3.  A’da Sando adalah orang yang memimpin ritual-ritual adat di komunitas To Batu           ( Sandobatu ) seperti Masara dan Majjaga.
4.  A’da Sorong adalah orang yang memimpin ritual-ritual dalam pengolahan lahan perkebunan.
Pemangku adat tersebut tidak memiliki kedudukan atau status khusus dalam komunitas To Batu. Budaya ini tentunya sangat berbeda dengan banyak kelompok masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang dan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Selatan.







BAGIAN II
Prosesi Budaya Masara dan Majjaga
A.  Prosesi Ritual Budaya Masara
Tradisi ritual adat pada setiap komunitas adat atau suatu kelompok masyarakat memiliki keunikan sendiri. Setiap ritual adat pada komunitas tertentu memiliki makna dan maksud tertentu. Ritual adat kadang bermakna penyembahan, Rasa syukur, Kematian ataupun hiburan. Pada uraian sebelumnya telah disinggung keragaman budaya dan tradisi yang tumbuh di tengah komunitas To Batu                    ( Sandobatu ).
Salah satu tradisi atau ritual adat yang sudah menjadi budaya dikomunitas To Batu (Sandobatu) sebagaimana disebutkan sebelumnya pada bagian I yaitu budaya ritual adat Masara dan Majjaga. Uraian berikut akan membahas secara detail tentang pelaksanaan tradisi adat Masara dan Majjaga.
Masara dalam bahasa Indonesia berarti sangat sibuk  nama Masara merujuk pada situasi yang sangat sibuk ketika Ritual adat tersebut akan dilaksanakan. Kesibukan ini mulai dari kegiatan Masombung bola sampai dengan selesainya ritual tersebut. Kondisi demikian dapat kita pahami bahwasanya ritual adat tersebut membuat masyarakat yang ikut  melaksanakan kegiatan itu sangat sibuk.
Prosesi ritual adat Masara memiliki beberapa tahapan seperti; Musyawarah (Sipulung), Marumbu Ase, Massombung bola, Mappangolo, Massapu Kaburu, Matojolo, Makallu dan Massunna, Cakkabere, Marondon Tambing dan di tutup dengan doa bersama yang disebut Tolak Bala.
1.  Musyawarah ( Sipulung )
Prosesi ritual adat Masara akan dilaksanakan jika empat unsur dalam komunitas adat To Batu ( sandobatu ) telah melakukan pertemuan yaitu A’da Sando, A’da Sara, A’da Sorong dan A’da Kampong. Musyawarah atau Sipulung pada umumnya di  inisiasi oleh A’da Sando, jika melihat bahwasanya banyak anak kecil yang perlu di Islamkan ( Dipasallang ) dan banyak yang ingin Khatam Alqur-an (  Cakkabere ).
Kesepakatan yang diputuskan dalam kegiatan Musyawarah ( Sipulung ) adalah tempat pelaksanaan. Pemilihan tempat pelaksanaan ditentukan dengan beberapa  aspek pertimbangan. Pelaksanaan yang bertepatan dengan musim hujan, maka akan dipilih rumah yang lokasinya mudah dijangkau, tanah disekitar tidak mudah berlumpur dan tidak berada pada daerah yang miring. Pada kondisi kemarau maka rumah yang dijadikan tempat prosesi ritual adat Masara harus berdekatan dengan sumur atau sumber air.
Hal lain yang ditentukan lebih awal adalah jumlah beras dan uang yang akan disetor oleh setiap masyarakat yang ikut dalam Ritual adat tersebut. Kesepakatan tentang besaran jumlah beras dan uang yang akan disetor diambil lebih awal agar masyarakat yang berniat ikut dalam kegiatan tersebut masih memiliki waktu untuk berusaha.
Pengumpulan sejumlah uang ditentukan berdasarkan kalkulasi kebutuhan dalam kegiatan ritual adat tersebut. Salah satu kebutuhan wajib dalam ritual adal Masara dan Majjjaga  adalah Kambing. Ritual adat Masara tidak dapat dilaksanakan tanpa ada kambing warna hitam dengan umur yang sudah cukup  atau dengan ukuran panjang tanduk tertentu. Apabila dalam ritual tersebut juga ditampilkan Budaya Majjaga maka kambing yang harus disiap berjumlah dua ekor, satu ekor untuk dipotong pada saat kegiatan Majjjaga dimulai.
Perhitungan banyaknya uang yang akan dikumpul juga berdasarkan tamu-tamu yang akan diundang dalam kegiatan tersebut. Pada masa Raja atau Arung Matoa Ri Wajo dan Arung Batu masih insten berhubungan dengan Sando Ri Batu dan sering menghadiri ritual Masara dan Majjaga, maka ada beberapa ritual tambahan yang akan dilakukan yaitu ritual penjemputan Raja atau Arung dan harus ada prosesi Maccera Aje yaitu pemotongan ayam dengan warna tertentu. Maccera aje dilakukan kepada tamu yang berdarah biru ( Raja atau Arung ) karena ada kepercayaan dikomunitas To batu, apabila kaki Raja atau Arung tidak dicera akan terjadi musibah pada ( Raja atau Arung ) yang datang, bisa juga pada masyarakat dan kampong tersebut.
Musyawarah ( Sipulung ) memutuskan dan juga menyampaikan pada keluarga yang akan ikut ritual Masara, berapa banyak ayam yang harus mereka siapkan. Bagi masyarakat yang hanya ikut Matojolo minimal menyiapkan tiga ekor ayam maksimal tujuh ekor. Masyarakat yang ikut ( Mapasallang) harus menyiapkan tujuh atau sembilan ekor ayam setiap anak dengan dua ekor ayam yang ditentukan warna bulunya. Apabila ada yang akan Cakkabere maka setiap orang harus menyiapkan ayam minimal lima ekor maksimal sembilan dengan satu ekor berwarna putih.
2.  Marombu Ase
          Prosesi Masara setelah Sipulung adalah Marombu Ase yaitu pengasapan Padi yang akan dimasak pada prosesi Mappangolo dan acara puncak Masara. Padi yang disiapkan dalam prosesi Marombu ase ada tiga jenis yaitu ketan Putih, ketan hitam dan Padi Biasa ( ase lalo ). Marombu ase dipimpin oleh A’da sando, dan dilakukan pada pagi hari. Makna yang terkandung dalam prosesi Marombu ase yaitu pemberitahuan kepada Tuhan Maha Kuasa dan para leluhur sandobatu yang telah meninggal dunia. Marombu ase dilakukan dengan maksud memohon keselamatan dalam kegiatan Masara. Setelah pengasapan dilakukan padi diikat-ikat kecil dan dijemur kemudian ditumbuk bersama-sama. Pada Prosesi Marombu ase ada seorang ibu yang dimandatkan untuk memegang padi sebagai pertanda orang tersebut adalah indo Sara. Selama prosesi marombu ase sampai selesai acara Masara, indo sara tidak diperkenankan meninggalkan kampung dan melakukan beberapa pekerjaan tertentu.
3.  Massombung Bola
          Kegiatan Masara adalah ritual adat yang besar dan sangat sibuk. Banyaknya rangkaian ritual yang dilakukan dalam Kegiatan Masara membuat tempat pelaksanaannya harus diperlebar sesuai banyaknya ritual yang akan dilakukan. Massombung bola dipersiapkan untuk ritual Matojolo, Cakkabere dan Majjaga serta persiapan tempat cuci piring.
Massombung dilakukan secara gotong-royong seperti menyiapkan tiang kayu, Papan, rotan pengikat, atap atau tenda. Apabila pada ritual Masara juga dipentaskan tari Pajjaga maka Pasombung ditambah dibagian depan rumah dengan satu tiang dibagian tengah sebagai penyanggah untuk wuwungan Pasombung. Tiang tengah ini digunakan untuk mengikat damar yang jadikan sulo pada saat Majjaga. Selain Masombung ada juga pembuatan Barung yaitu rumah kecil yang dibuat diarea depan rumah untuk tempat memasak nasi yang akan dikonsumsi dalam kegiatan Masara.
4.  Mappangolo
          Ritual Mappangolo dilakukan setelah acara Massombung. Prosesi Mappangolo di pimpin oleh A’da Sando dimulai dengan menyiapkan ayam sebanyak enam ekor tiga jantan dan tiga betina. Enam ekor ayam yang akan digunakan harus memiliki bulu berwarna kuning dan Merah dalam bahasa setempat disebut ( Lappung ) atau menggunakan ayam hutan yang jantan ( Baco Dalima, 2019 )
Persiapan lain adalah daun sirih, Kapur    ( kapur tersebut terbuat dari abu keong kecil yang berasal dari sungai dan tidak boleh digunakan sebelumnya) Pinang, Api, Padewa ( semacam nyaman dari rotan yang dibuat melingkar ) dan Kemenyan. Kemenyan yang digunakan adalah bahan yang terbuat dari akar tumbuhan yang dikeringkan. Pakaian yang digunakan dalam prosesi Mappangolo adalah pakaian Kato atau pakain warna putih dan sarung putih, apabila pakain putih tidak cukup maka bisa menggunakan pakaian serba hitam. Adapun pakaian yang jadi pantangan dalam prosesi Mappangolo adalah pakain warna kuning serta asesoris seperti cincin emas, anting, kalung semua yang berbau kuning.
Warna kuning dalam komunitas To Batu dipercaya adalah warna pakain kebesaran bagi orang-orang Mallinrung ( hilang secara gaib ) sehingga tidak beloh dipakai pada tempat dan situasi tertentu. Setiap orang yang ikut dalam ritual Mapangolo tidak diperkenankan menggunakan alas kaki baik sandal maupun sepatu.
Jumlah orang yang ikut dalam prosesi Mappangolo yaitu sembilan orang tujuh laki-laki dan dua perempuan. Sembilan orang ini memiliki tugas masing-masing yaitu  perempuan membawah padewa tempat api, tempat daun sirih dan pinang. Tugas  laki-laki empat orang bertugas membawah ayam, satu orang bertugas memegang ayam ketika akan disembelih, satu orang bertugas menyembelih ayam, dan satu orang bertugas untuk Mapatuju ( yaitu orang yang menyebutkan maksud tujuan ayam tersebut disembelih ), yaitu  A’da sando sebagai pemimpin prosesi tersebut. Ayam yang disembelih pada prosesi Mappangolo berjumlah enam ekor.
Penyembelihan ayam pertama dilakukan di depan pintu rumah yang menjadi tempat Masara. Penyembelihan ayam tersebut dimaksudkan  sebagai bentuk pemberangkatan ( Papakede ) kelokasi Mappangolo. Setelah beberapa jauh meninggalkan rumah akan diadakan lagi Penyembelihan ayam yang kedua. Maksud Penyembelihan ayam tersebut yaitu pembuka pintu gerbang, menuju ke tempat untuk menyampaikan kepada yang Maha Kuasa maksud dan tujuan ritual Mappangolo tersebut.
Empat ayam berikutnya disembelih dimaksudkan untuk pemberitahuan kepada para leluhur To batu yang Mallinrung, bahwa akan diadakan ritual budaya Masara dengan jumlah anak yang akan diislamkan, Jumlah orang yang akan Khatam Alquran serta waktu pelaksanaan ritual tersebut. Tempat pelaksanaan ritual mappangolo harus posisinya lebih tinggi dari rumah tempat pelaksanaan ritual adat Masara serta arahnya perjalanan selalu kearah timur.
Ayam yang disembelih pada prosesi Mapangolo setelah tiba kembali dirumah, akan dibersihkan dan dibelah-belah dan  hanya ususnya yang tidak dimasak. Wadah yang digunakan untuk tempat nasi dan ayam yaitu lapi-lapi ( wadah yang terbuat dari daun enau yang dianyam ) yang dialasi daun puang ( sejenis tumbuhan rambat yang berdaun lebar ).
Nasi yang akan dikomsumsi terdiri dari Lima macam yaitu; Nasi ketan empat warna terdiri dari warna merah, putih, kuning dan hitam serta nasi beras biasa. Adapun tempat untuk baca doa sebelum dimakan adalah langit-langit rumah ( Rakkiang ) yang dibuat untuk tempat penyimpanan nasi pada saat acara masara. Setelah prosesi Mapangolo maka diumumkanlah waktu pelaksanaan puncak acara Masara.
5.  Ziarah Kubur ( Massapu Kaburu )
          Ziarah kubur ( Massapu Kaburu ) adalah rangkaian ritual adat yang wajib dilakukan bagi komunitas To Batu  jika akan melakukan acara Masara. Massapu kaburu akan dimulai jika telah selesai melakukan ritual Mapangolo. Beberapa maksud dan tujuan dari  ritual Massapu kaburu yaitu; Mengunjungi kuburan para leluhur atau orang tua bagi orang yang akan mengikuti acara Masara, Pemberitahuan kepada para leluhur To batu bahwa anak keturunannya akan melakukan Ritual Masara pada waktu yang telah ditentukan ( sesuai waktu yang telah disepakati pada saat            Mapangolo ) serta memperbaiki kuburan yang rusak atau mengganti batu nisan jika ada yang ingin memperbaiki kuburan keluarganya yang telah meninggal.  Pada ritual Massapu kaburu, ada yang membawah kue kesukaan orang telah meninggal ada juga yang membawah pakaian yang semasa hidupnya disukai oleh orang yang akan diziarahi. Pakaian yang dibawah akan diletakkan di atas batu nisan dan akan diambil oleh orang lain. ( Massambu Kaburu ), maksud dari pakaian tersebut adalah sedekah yang ditujukan pahalanya bagi almarhum. Bagi orang yang akan memperbaiki kuburan keluarganya disyaratkan untuk memotong ayam bisa satu ekor ayam satu keluarga atau satu ekor ayam tetapi gabung beberapa keluarga tergantung kesepakatan serta pada saat ayam tersebut di Pattuju ( massapu ) dan dipotong orang yang akan menyembelih disampaikan maksud penyembelihan ayam tersebut. Pada ritual ziarah kubur ( Massapu kaburu ) ada kegiatan yang disebut Massapu dan Mabolo kaburu yaitu orang yang sedang berziarah kubur memegang batu nisan kemudian disiram oleh A’da sara atau air yang sudah didoakan oleh A’da sara. Doa yang dibaca adalah surat pendek Al-Fajar atau surat pendek yang lain seperti Al-Ikhlas, Al-falaq dan An-Nas. Menurut tradisi To Batu setelah sampai di kuburan yang akan diziarahi, maka seseorang akan membangunkan arwah orang yang telah meninggal ( Matundan ) dengan membaca “ Lailahaillallahu Wahdahulasyarikalahu Lahulmulkussamawati Walahulhamdu Wahyuwayumita Alaqullisyain Qadir “ maksud dari ( Matundan ) agar arwah para penghuni kubur yang diziarahi mengetahui kedatangan keluarganya. Prosesi ritual ziara kubur akan diakhiri dengan doa bersama dan makan bersama. Massapu kaburu dimulai dengan mengunjungi kuburan yang paling jauh dari kampung atau kuburan yang ada diluar daerah. Waktu bagi keluarga yang ingin ziarah kubur dimulai saat ritual Mapangolo sampai pada siang menjelang malam puncak Masara. Banyak orangtua pada saat Massapu kaburu mengikutkan anak atau cucunya dengan maksud memperlihatkan kuburan lelulurnya atau keluarganya yang telah meninggal dunia. Bagi orang yang ingin berziarah kubur namun tidak mengetahui kuburan keluarganya, akan dibantu oleh orang-orang tertentu untuk berdialog secara bathin dengan arwah dalam kuburan dengan cara memohon doa agar menunjukkan tanda-tanda lokasi kuburan orang yang sedang dicari. Kejadian seperti ini biasanya terjadi bagi kuburan yang ada di kampung-kampung tua yang telah ditinggalkan sehingga menjadi hutan. Kuburan yang berada di dalam hutan kebanyakan telah dirusak babi hutan dinding batu ( balabatu ) atau nisannya. Apabila kuburannya masih bagus, tetapi tidak diketahui secara pasti siapa yang  dikubur disana, maka arwah yang ada didalam kuburan tersebut akan ditanya dengan membaca “ Allah Nurung Muhammad iko to tau laan te’e kaburu iyake iyamo to kujaka pebeenko tanda “ biasanya batu nisan yang dipegang akan bergoyang ( Lobo, 2019 )
Bagi Komunitas To Batu yang tinggal di Walawala dan sekitarnya ritual Massapu kaburu terakhir dilakukan di pekuburan kampung Walawala. Pekuburan yang terdapat di kampong Walawala di dalamnya terdapat kuburan langsung dari ( Patala Gigi ) yaitu Nene Bakkan “ dengan segala hormat penulis “ yaitu Nene Puang Candiwi. Komunitas To Batu diakhir ritual Massapu kaburu akan menyiarahi kuburan Nene Puang Candiwi dan Melakukan Doa Bersama disamping kuburannya. Keluarga yang tidak sempat mengunjungi semua kuburan para leluhur atau keluarganya  akan menyerahkan minyak kelapa untuk didoakan dan digantung diluar dinding rumah. Tujuan minyak kelapa tersebut digantung di luar dinding agar ditiup angin dan diterbangkan sebagai pemberitahuan agar arwah yang tidak sempat dikunjungi kuburannya  mengetahui bahwa ada keluarga mereka yang akan Melakukan ritual Masara.
6.  Tahlilan ( Matojolo )
          Matojolo istilah adalah  bahasa To Batu yang istilah menurut bahasa Indonesia yaitu Tahlilan. Tahlilan dalam komunitas To batu terbagi dua yaitu Madoja dan Matojolo. Madoja adalah tahlilan yang dilakukan pada saat orang baru meninggal. Madoja bisa dilakukan pada malam setelah penguburan, tiga malam setelah penguburan,Tujuh hari, Empat puluh hari atau Seratus harinya. Matojolo adalah Tahlilan bagi orang yang telah meninggal dunia sedikitnya lebih dari satu tahun  sampai yang telah meninggal ratusan tahun yang lalu. Bagi warga yang ikut Matojolo wajib menyiapkan empat ekor ayam. Dua ekor ayam disembelih ditujukan bagi keluarga atau orangtua pihak laki-laki dan dua ekor ayam disembelih ditujukan bagi orangtua pihak perempuan atau keluarganya. Syarat empat ekor ayam berlaku bagi keluarga suami istri yang ikut Masara maupun yang belum berkeluarga tapi ikut Masara. Ritual Matojolo dimulai dengan penyembelihan ayam (Patojoloan), semakin banyak orang yang ikut Matojolo semakin banyak juga ayam yang akan disembelih. Jumlah ayam yang disembelih dapat kita hitung dengan cara mengetahui jumlah orang yang ikut Matojolo dikalikan empat ekor ayam. Pada saat penyembilan ayam ( Patojoloan ) orang yang ikut Matojolo membawah sendiri ayamnya pada orang yang bertugas Massapu ( orang yang dipercaya untuk menyebutkan maksud penyembelihan dan kepada siapa ditujukan penyembelihan ayam tersebut kepada Tuhan dan Leluhur orang yang Matojolo ). Massapu adalah mengusap bulu ayam dari kepala sampai ujung kaki sebanyak tiga kali. Setelah selesai ayam tersebut dibawah ketempat orang yang bertugas menyembelih. Proses penyembelihan dapat berlangsung lama tergantung banyaknya ayam yang disembelih dan jumlah orang yang bertugas menyembelih. Penyembelihan ayam Patojoloan dilakukan sebelum waktu Dzuhur. Setelah penyembilan selesai, masing-masing orang akan membersihkan bulu ayamnya dan memotong-motongnya dalam bahasa setempat disebut ( Massampan ) kemudian diikat ( ditolo ) dengan cara potong-potongan ayam ditusuk sampai tembus dengan rotan yang telah diraut kecil sebesar lidi sampai habis. Setelah semua potongan ayam setiap satu ekor selesai ditolo kedua ujung rotan saling dikaitkan sehingga potongan ayam tersebut berbentuk lingkaran. Ayam tersebut kemudian dimasak sebagai lauk makan malam nantinya. Malam Patojoloan adalah awal dari puncak kesibukan pada ritual Masara. Setelah proses penyembelihan ayam Patojoloan sebagaian orang membersihkan ayam, sebagian lagi mempersiapkan penyembelihan sapi. Penyembelihan sapi dilakukan hanya boleh dilakukan antara setelah waktu Dzuhur sampai Azhar. Pada saat laki-laki menyiapkan penyembelihan dengan mengikat sapi dan membuat galian untuk menampung darah sapi saat disembelih,  wanita  menyiapkan  tikar, Kemenyan, Daun jeruk, Minyak Kelapa dan sisir. Sebelum disembelih sapi dikelilingi dengan api kemenyan, disiram dengan air putih yang berisi wewangian, diusapi menyak kelapa kemudian disisir dari kepala sampai ke ekornya. Sapi yang telah disembelih akan dikuliti untuk diolah menjadi lauk makan malam dan makan esok harinya. Ada beberapa bagian dari sapi yang disembelih tidak dimasak di rumah tempat Masara yaitu Leher sekitar dua jari menjadi bagian orang menyembelih ( Tawa pagere ), tulang belakang sekitar setengah meter diberikan kepada orang yang memulai proses pembukaan kulit ( Patimbak ) dan Beberapa bagian kaki diberikan kepada yang memotong-motong daging sapi sebelum dipotong kecil oleh para wanita
7.  Makallu dan Massunna
          Makallu adalah prosesi pemotongan rambut anak yang akan diIslamkan. Massunna adalah prosesi sunatan dalam versi komunitas To Batu. Bagi orang yang anaknya akan dicukur ( Kallu ) dan Massunna ( Sunatan ) wajib menyiapkan tiga ekor ayam. Satu ayam dipotong saat prosesi cukuran ( makallu ) dan ayam tersebut akan diberikan kepada anak yang dicukur. Dua ekor ayam menjadi syarat pada prosesi sunatan. Satu ekor ayam tidak disembelih dan diberikan kepada orang yang  melakukan sunatan, satu ekor ayam akan dimasak dan diberikan kepada anak yang disunat. Alat yang digunakan saat Makallu dan Massuna  adalah pisau.
8.  Khatam Al Qur-an ( Cakkabere )
       Khatam Qur-an dalam Bahasa lokal komunitas To batu disebut Cakkabere. Orang yang bisa ikut Cakkabere tidak terbatas usianya orang baik orangtua maupun anak-anak.  Bagi orang yang akan ikut cakkabere harus menyiapkan bantal, tikar, Saji ( wadah yang terbuat dari anyaman rotan berbentuk bakul ) dan ayam minimal tujuh ekor maksimal sembilan ekor. Satu ekor ayam yang akan disembelih dalam prosesi Cakkabere dipersyaratkan berbulu warna putih. Ayam putih disembelih untuk     ( Paccera Baca ) bagi yang belum pernah Maccera baca sebelumnya. Jumlah ayam putih yang disembelih untuk prosesi  Cakkabere  bisa sejumlah orang yang Cakkabere atau hanya satu ekor untuk beberapa orang.  Ayam yang disembelih pada prosesi Cakkabere diperuntukkan kepada :
-       Tojolo Disulle
Tojolo Disulle adalah leluhur komunitas To Batu yang pertama-tama melakukan ritual Cakkabere. Penyembelihan ayam untuk Tojolo Disulle dimaksudkan agar bila terjadi kekeliruan atau ada ritual yang ketinggalan merupakan sesuatu yang tidak disengaja.
-       Puangta
Puangta yang dimaksud adalah ( Allah SWT ) penyembelihan ayam yang diperuntukkan untuk Puangta ( Allah SWT ) dimaksudkan sebagai perwujudan rasa syukur karena telah memberikan reski yang cukup dan pengetahuan kepada orang yang akan Cakkabere.
-       Mapacolo Dawa Mapatteke Kartasa
Penyembelihan ayam yang dimaksudkan disini adalah orang yang pertama –tama menemukan Dawa ( tinta )  atau alat tulis serta menemukan atau membuat  kartasa  ( kertas ). Penyembelihan ini sebagai bentuk pennghormatan kepada orang yang telah menemukan alat tulis dan kertas. Makna lain adalah sebagai penghormatan kepada malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT mengajarkan  pengetahuan kepada manusia.
-       Pacakkaberesan
Pacakkaberesan adalah penyembelihan ayam yang ditujukan kepada orang yang Cakkabere. Ayam ini disembelih dan akan diberikan kepada orang yang Cakkabere untuk dimakan. Ayam ini tidak boleh dimakan oleh orang lain sebelum orang yang cakkabere mencicipinya.
-       Kalakbean
Kalakbean adalah penyembelihan ayam yang ditujukan kepada guru mengaji orang yang Cakkabere, apabila guru mengaji yang bersangkutan tidak hadir atau sudah meninggal, maka ayam tersebut akan diberikan kepada A’da sara ( Imam) yang membimbing pada saat Cakkabere. 
-       Sahaba Nabi Muhammad SAW
Prosesi penyembelihan ayam yang diperuntukkan kepada para sahabat Nabi sebaga bentuk penghormatan kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW yang telah menyebarkan ajaran agama Islam sampai ke komunitas To  Batu.
-       Papasilattuna
Satu ekor ayam disembelih dengan niat agar pahala orang yang membaca atau menamatkan Al Quran sampai dan diterima oleh Allah SWT. Tujuan lain penyembelihan Papasilattu adalah agar orang yang Cakkabere selalu membaca Al Quran sampai tamat.
-       Paccera Baca
Ada dua maksud dari Maccera baca yaitu;  1. Sebagai ungkapan rasa syukur dari orang yang telah diberi pengetahuan bisa membaca Al Quran, 2. Sebagai permohonan agar orang yang belajar membaca Al Quran diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mempelajari Al Quran.
-       Lako Nabi Muhammad SAW
Penyembelihan ayam juga diperuntukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk persembahan kepada Rasulullah yang telah membawah ajaran Islam dan memberi petunjuk bagi umat manusia untuk menyembah Allah SWT, serta membawah kitab Suci Al Quran sebagai petunjuk umat manusia.
Prosesi Cakkabere dimulai dengan pembaca Surat Al-Fatihah oleh A’da sara kemudian Surat Al-Baqorah, Baraaton, Surat Ad-Dhuha sampai Surat Al-Lahab yang diikuti oleh semua orang yang cakkabere. Pembacaan Surat  Al-Ikhlas , Al-Falaq, dan Annas dilanjutkan dengan pembacaan Surat Al-Fatihah, Al-Baqorah, Ayat Kursi dan Barzanji. Setelah rangkain prosesi Cakkabere selesai, maka tikar dan bantal yang digunakan oleh orang yang Cakkabere diberikan kepada para A’da sara. Rangkaian prosesi Cakkabere di akhiri dengan ucapan selamat dari para keluarga yang hadir dengan memberi amplop ( Passolo ) bagi orang yang Menamatkan Al Qur-an.
9.    Lao Salu
Rangkaian lain dari kegiatan Masara yaitu Lao salu. Lao Salu adalah ritual adat turun ke sungai dengan membawah anak-anak dengan diiringi gendang Lao Salu. Prosesi Lao Salu memiliki empat versi yaitu;
1.    Mabandong yaitu membawah dua ekor ayam yang sudah disembelih. Satu ekor sudah dimasak satu ekor lagi hanya di bersihkan bulunya serta ususnya sudah dibersihkan. Satu diletakkan di atas nasi yang beralaskan daun enau yang dianyam satu lagi digantung pada sebatang kayu.
2.    Ma,rai yaitu Lao Salu dengan membawah tiga ekor ayam yang sudah dimasak dengan nasi. Ayam dan nasi akan diletakkan di atas rakit yang terbuat dari pelepah daun sagu ataupun potongan kayu. Rakit tersebut kemudian didorong ketengah sungai bersama dengan semua isinya. Isi rakit tersebut bisa diambil oleh orang yang ikut dalam ritual Lao Salu.
3.    Mapanginta yaitu membawah ayam satu ekor dan ikat hidup-hidup di atas rakit. Ayam ini  tidak boleh diambil oleh yang bersangkutan, tapi boleh diambil oleh orang lain yang tidak ikut Masara. Ayam tersebut diletakkan di atas rakit bersama berbagai jenis buah-buahan seperti Nangka, Kelapa, Pisang, Tebu dll.
4.    Majalajak  versi ini sudah tidak ada lagi yang melakukannya di kampung Walawala dan penulis belum mendapatkan referensi lain sehingga tidak dijelaskan dalam tulisan ini.
10. Marondong Tambing
       Rangkaian ritual adat Masara akan diakhiri dengan penyembelihan tiga ekor ayam yang diperuntukkan pada Tojolo disulle. Maksud penyembelihan tiga ekor ayam tersebut adalah sebagai permohonan maaf apabila dalam rangkaian Masara yang telah dilakukan terdapat kekeliruan dan ada hal-hal yang terlewatkan. Penyembelihan ayam dalam rangkaian Marondong tambing menandai berakhirnya seluruh rangkaian ritual adat Masara. Ayam yang disembelih kemudian dimasak dan di makan bersama, setelah makan bersama beberapa papan akan dibuka dari Passombung dan dipasang kembali ketempat semula.
11. Matulak Bala
       Tolak bala bukan termasuk dalam rangkaian adat Masara, melainkan sebagai acara syukuran atas selesainya rangkaian ritual adat Masara dan Permohonan kepada Allah SWT agar semua diberikan perlindungan dari segala jenis musibah.
          Uraian penulis tentang rangkaian ritual adat Masara di atas adalah uraian berdasarkan versi para tokoh adat To batu kampung Walawala. Potensi akan adanya perbedaan versi dengan kampung yang berada diluar kampung Walawala sangat mungkin terjadi.
Komunitas To Batu Kampung Walawala sangat terbuka untuk membuka dialog jika ada pihak yang memiliki versi lain dan ingin membangun diskusi yang sehat.
B.  Kesenian Tradisional Tari  Majjaga ( Pajjaga )
          Kesenian sebagai budaya dan identitas suatu komunitas dan telah diakui secara luas di negara kita. Setiap suku memiliki kesenian tradisional baik berupa lagu, alat musik, ukiran maupun sejenis tarian daerah atau tari tradisional. Suku bugis dikenal dengan tari Paduppa dan tari Bosara serta beberapa tarian yang tumbuh di komunitas yang ada di Sulawesi Selatan. Seni tari disetiap komunitas memiliki maksud dan tujuan tertentu pada saat pementasannya. Beberapa tarian dipentaskan dalam acara pengantin, kematian, penyembahan, penjemputan tamu agung dan lain-lain.
       Bagi komunitas To Batu  kesenian tari Pajjaga ( Majjaga ) adalah tari yang disakralkan dan hanya bisa ditampilkan pada saat acara ritual adat Masara serta penjemputan tamu kerajaan. Tari Pajjaga ( Majjaga ) adalah tari yang dipersembahkan sebagai bentuk rasa syukur  kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Penyambutan Tamu Kerajaan dan Hiburan pada ritual adat Masara.
       Tari Pajjaga ( Majjaga ) tidak diajarkan sembarang tempat dan waktu. Tarian ini akan diajarkan pada saat ada ritual adat Masara. Syarat untuk mengajarkan tari Pajjaga ( Majjaga)  harus melakukan penyembelihan tiga ekor ayam satu ekor kambing. Empat puluh hari sebelum acara puncak ritual adat Masara digunakan sebagai waktu untuk mengajarkan tari Pajjaga ( Majjaga ) di rumah tempat pelaksaan ritual adat Masara. Rangkaian pementasan tari  Pajjaga ( Majjaga ) pada acara ritual adat Masara sebagai berikut:
a.    Membuat tempat pentas ( Pasombung )
Tempat pementasan tari Pajjaga ( Majjaga ) berada dibagian depan rumah tempat pelaksanaan ritual adat Masara. Tempat tersebut tidak terpisah dengan rumah sehingga lantainya harus dibuat sama tinggi dengan lantai rumah tempat Masara.
Passombung untuk tempat Majjaga harus memilikki wuwungan sendiri dan ditengahnya terdapat tiang yang langsung kewuwungan serta selurus dengan wuwungan rumah inti. Passombung tersebut dimaksudkan untuk tempat belajar Majjaga dan Pementasa pada malam Patojoloan.
Lantai pasombung untuk pentas tari Pajjaga ( Majjaga ) adalah papan dan tidak dipaku atau diikat dengan rapat. Lantai tersebut sengaja dibuat renggang agar membuat irama tersendiri saat para penari menghentakkan kaki di atas papan tersebut.
b.    Matturabang
           Pementasan seni tari Majjaga dimulai dengan prosesi penyembelihan tiga ekor ayam dan satu ekor kambing. Ayam yang disembelih dimasak untuk dimakan sedangkan kambing akan diiris –iris kecil dan dibersihkan kemudian dimasukkan kedalam potongan bambu dan dibakar sampai matang.
           Memasak dengan cara memasukkan daging atau beras kedalam bambu kemudian dibakar sampai matang disebut Mapeong dalam bahasa To Batu. Daging yang telah matang akan dikeluarkan dari batang bambu untuk dimakan bersama. Satu diantara bambu yang berisi daging kambing tersebut diikat pada tiang tengah Pasombung. Bagian atas bambu yang berlubang ditaruhlah seikat Dama ( Damar ) yang telah dibungkus rapi. Dama tersebut akan dibakar disetiap malam ketika orang belajar Majjaga dan akan dipadamkan kembali setelah kegiatan belajar Majjaga berakhir. Tujuan pembakaran dama ditengah lingkaran yang dikelilingi saat Majjaga adalah sebagai penerang mengingat pada masa lalu tidak ada lampu ataupun listrik.
c.    Pentas Seni Tari Pajjaga ( Majjaga )
           Pementasan tari Pajjaga ( Majjaga ) pada ritual adat Masara akan dilaksanakan pada malam Patojoloan. Pemetasan  dimulai dengan membawah anak-anak yang akan      ( Dipasallang ) bersama orangtuanya duduk di tengah lingkaran yang akan dilalui oleh penari.  Mengambil seikat padi atau beberapa liter gabah dan diletakkan disisi tiang tengah tempat Dama diikat. Selanjutnya akan dilakukan penyalaan damar ( sulo ) yang dilakukan oleh A’da Sando atau pemimpin penari dengan membakar damar yang diikat ditiang tengah Passombung.
           Para penabuh gendang akan mengambil posisi setelah prosesi penyalaan damar ( sulo ) selesai. Penempatan posisi penabuh gendang berada sedikit di luar jalur yang akan dilewati oleh para penari. Penabuh gendang idealnya berjumlah tujuh orang dan minimal tiga orang. Gendang diletakkan didepan penabuh, kemudian tali dikaitkan di lutut agar gendang tidak bergeser saat ditabuh.
           Alat penabuh gendang dalam pementasan tari Pajjaga ( Majjaga ) adalah sepotong pokok rotan yang  panjagnya sekitar satu setengah jengal. Rotan tersebut sedianya bengkok jika tidak ada pokok rotan yang bengkok, maka rotan tersebut harus dibengkokkan. Tujuan penabuh tersebut dibengkokkan adalah agar pada sisi yang bengkok tersebut tepat mengenai gendang.
           Pada saat penabuh gendang  mengatur posisi dan mempersaipkan peralatannya di arena pentas. Penari Pajjaga ( Majjaga ) juga mengatur posisi masing-masing dalam ruang tertutup. Penari menggunakan pakaian adat To batu yaitu pakaian kato dengan songkok uwe. Para penari wanita menyesuaikan  bisa menggunakan pakaian kato atau  pakaian lain yang sesuai dengan hiasan kepala warna-warni.
Bagi penari penghibur seperti Paceba-ceba, Pattanun, dan Padangkang menyesuaikan dengan tema tariannya. Penari akan muncul pada sisi kanan passombung berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Pertama-tama yang akan muncul adalah penari laki-laki yang akan menampilkan tari Pajjaga ( Majjaga ). Jumlah penari laki-laki maupun perempuan idealnya tujuh orang. Penari laki-laki pada saat mulai melangkah melantunkan syair berikut:
Syair Lagu Majjaga
Na tuo Puang Angngede
Leku ngu’A  A’nga Akka
Assihile Siwiang Angngalle
Iya Mua A’nga Akka
           Manasakku Lelo Lelotolla-Lelotolla
           Angngangi Enginna Kinca
           Uhule Matanna
           Naracca’i pano Lelo Lelotolla-Lelotolla.
           ( Syamsuddin, 2019 )
           Syair di atas pada bagian pertama mengandung makna pujian dan ibadah kepada Tuhan semesta ( Puang sewwa ) yang telah menciptakan manusia. Bagian kedua bermakna ungkapan rasa syukur kepada ( Puang Sewwa ) atas reski yang telah diberikan, sehingga dapat melaksakan ritual Masara.
           Syair tersebut dilantunkan sebanyak tiga kali putaran. Tari yang dilakukan sambil melantunkan syair di atas merupakan inti dari tari Pajjaga. Bagian inilah yang disakralkan oleh komunitas To batu. Penari Pajjaga setelah cukup tiga putaran akan merubahkan gerakan tari seiring dengan irama gendang. Gerakan Pajjaga akan berganti gerak Bissu berputar sebanyak tiga kali.
           Pada bagian akhir putaran Bissu laki-laki penari akan keluar arena satu persatu dan disambung oleh penari wanita. Penari wanita berputar mengikuti putaran tari laki-laki. Tari Bissu tidak memiliki syair lagu hanya berupa gerak tarian saja. Tari bissu memiliki beragaman variasi gerakan tergantung kreativitas penarinya. Kelompok penari yang akan menyambung tari Bissu adalah Tari Pattanun. Tari Pattanun juga berputar searah dengan tari Pajjaga dan Bissu dengan jumlah putaran yang sama. Tari Pattanun akan disambung oleh tari Padangkang. Asesoris yang digunakan oleh penari tari Padangkang adalah asesoris kreasi. Penari tari Padangkang juga berputar mengikuti arah putaran penari-penari sebelumnya.
           Rangkain pementasan tari Pajjaga diatas akan ditutup dengan pementasan ceba-ceba. Gerakan ceba-ceba adalah gerakan yang menirukan gerak monyet. Penari tidak terikat oleh aturan sehingga bebas berkreasi dengan tujuan menghibur para tamu yang hadir. Pada sesi ceba-ceba anak-anak dan orangtuanya bisa meninggalkan arena pentas. Padi atau gabah yang ada diarena juga akan diambil untuk ditumbuk esok harinya. 
           Pada sesi ini penari yang tampil  hanya orang-orang yang telah disiapkan sebelumnya. Pada sesi selanjutnya apabila ada dari tamu yang ingin ikut menari boleh masuk berbaur dengan penari yang ada. Tari yang hanya satu kali ditampilkan adalah tari  Pajjaga sedang Bissu, Pattanun, Padangkang, Manca, dan Ceba-ceba bisa ditampilkan berulang-ulang. Pementasan dilaksanakan setelah Tahlilan atau Patojolan telah selesai. Sebelum pementasan dilakukan diadakan acara makan kue serta makan nasi bersama. Waktu Pementasan biasanya  setelah shalat Isya sampai selesai. Lama pementasan bisa sampai lewat tengah malam apabila banyak tamu yang ingin ikut menari.
d.    Mapoli Jaga
           Mapoli jaga adalah kegiatan menutup rangkaian ritual adat Pajjaga ( Majjaga ) yang dimulai dari Matturabang sampai Mapoli jaga. Penari yang tampil dalam sesi Mapoli jaga boleh semua penari seperti pada pentas malam hari atau minimal tiga orang. Urutannya sama dengan pementasa pada malam hari, Hal yang membedakan adalah tidak ada lagi anak-anak dan orangtuanya serta padi atau gabah yang dikelilingi oleh para penari.
           Arah putaran penari berlawanan dengan arah putaran pada sesi pembelajaran ataupun saat acara puncak pementasan pada malam harinya. Arah putaran pada saat belajar dan acara puncak Masara berlawanan dengan arah jarum jam sedangkan arah putaran pada saat Mapoli jaga searah dengan jarum jam.
           Pernikahan pada umumnya dilaksanakan oleh pihak keluarga kedua mempelai. Pernikahan juga terkadang dilaksanakan secara beramai-ramai atau nikah massal. Ritual adat Masara dikomunitas To Batu terasa sangat unik jika kita mencermati seluruk rangakian acara yang ada didalamnya.
           Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa ritual adat Masara terdapat acara tahlilan ( Patojoloan ),  Cukuran dan Sunatan ( Makallu dan Massunna ), dan Khatam Al Qur-an                 ( Cakkabere )  selain acara tersebut terdapat juga acara pernikahan ( Lise sar ). Lise sara yaitu orang yang dinikahkan dalam ritual adat Masara. Acara pernikahan ( Lise sara ) biasanya dilakukan sebelum acara Marondong tambing.
           Jumlah pasangan yang akan dinikahkan ( Lise sara ) tidak dibatasi jumlahnya. Uraian tentang Lise sara tidak dibahas secara luas oleh penulis karena referensi yang terbatas.
           Uraian tentang budaya Masara dan  tari Pajjaga ( Majjaga ) serta sekilas tentang Lise sara dalam komunitas To Batu di atas adalah paparan dari hasil pengalaman penulis serta hasil wawancara dengan para tokoh Komunitas adat To batu.

          








BAB III
Penutup
A.  Pentingnya Apresiasi Terhadap  Budaya Lokal
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan berbagai jenis budaya dan adat istiadatnya.  Keragaman budaya dan adat istiadat suku bangsa yang di Indonesia merupakan anugrah dari yang Maha Kuasa. Keragaman suku, budaya, dan adat istiadat masyarakat Indonesia merupakan potensi yang besar untuk menarik wisatawan untuk mengunjungi negara kita.
Pelestarian budaya daerah yang terus terkikis oleh perkembangan zaman perlu terus ditingkatkan. Hal tersebut perlu dilakukan agar budaya atau kearifan lokal daerah kita tetap terjaga kelestariannya. Kekayan budaya dan adat istiadat yang ada pada beberapa kelompok komunitas yang ada di kabupaten  Sidenreng Rappang perlu terus dilestarikan. Kekayaan Budaya dan adat istiadat dikomunitas To Batu sangat beragam dan unik adalah salah satu kearifal lokal yang perlu dijaga kelestariannya. Uraian tentang Budaya Masara dan Majjaga yang penulis angkat dalam tulisan ini hanya sebagian kecil dari budaya dan adat istiadat di Komunitas To Batu.
B.  Kearifan Lokal To Batu yang perlu dilestarikan
          Tulisan ini sebagai bentuk upaya melestarikan budaya Masara dan Majjaga yang ada di komunitas To batu. Tujuan lain penulisan buku tentang budaya Masara dan Majjaga adalah upaya memperkenal ritual adat tersebut kemasyarakat luas.
Budaya Masara dan Majjaga adalah serangkaian ritual adat yang dilaksanakan oleh komunitas To batu. Rangakaian ritual adat Masara dimulai dengan Sipulung, Marombu ase, Massombung bola, Mapangolo, Massapu kaburu, Matojolo, Makallu dan Massunna, Lao Salu, Cakkabere dan Marondon tambing serta ditutup dengan Tolak bala.
Majjaga dimulai dari Masombung bola, Matturabang, Majjaga dan terakhir Mapoli jaga. Majjaga pada intinya terdiri atas Majjaga, Bissu dan Ceba-ceba. Pajjaga dan Majjaga adalah kata yang memiliki makna yang sama dalam komunitas To batu. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa menjadi awal untuk membuat tulisan lain tentang budaya komunitas To batu.
 Penulis berharap tulisan ini dapat memberikan gambaran tentang kekayaan budaya yang ada di Kabupaten Sidenreng Rappang dan khususnya di komunitas  To batu. Penggunaan kata To batu dan sandobatu dalam tulisan ini untuk mengenal komunitas dan adat. To batu merujuk pada komuitasnya dan sandobatu merujuk pada sebutan adatnya.


Pustaka
Dalima, Baco. 2019. Ritual adat Mapangolo. Hasil wawancara Pribadi. 6 November 2019, Walawala Desa Leppangeng.

Lobo. 2019.  Ritual Adat Massapu Kaburu. Hasil wawancara Pribadi. 8-9 November 2019. Walawala Desa Leppangeng

Syamsuddin. 2019. Silsilah Pemangku Adat Sandobatu. Hasil Wawancara Pribadi. 7  November 2019









Biodata Penulis
Nama                          : Azis, S.Pd.SD., M.Pd
Tempat/Tanggal Lahir : Walawala, 18 November 1977
Agama                        : Islam
Pekerjaan                    : Guru
Alamat                         : Walawala Desa Leppangeng Kec. Pitu Riase Kab. Sidenreng Rappang
Pendidikan Terakhir    : Magister Pendidikan Universitas Negeri Makassar, 2016.
Nomor Hp                   : 085298074038
Nomor Wa                  : 085298074038
Email                           : aziswalawala@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

Menjelajahi potensi destinasi wisata di Bumi Sandobatu Desa Leppangeng “