PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

TUGAS INDIVIDU 
PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR 
DOSEN PENGAMPU: Prof. Dr. DARMAN MANDA, M.Si 
O
L
E
H 
NAMA :A Z I S 
NIM : 14B14083 
KELAS :D 
KAMPUS :V Parepare 
 PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN
 KONSENTRASI PENDIDIKAN DASAR 
PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 
2015 


 KATA PENGANTAR 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “ Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar” Makalah ini berisikan tentang Latar belakang, landasan logis dan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Makalah ini disusun sebagai tugas Mata kuliah “ Pembelajaran IPS di SD” pada program Magister Administrasi Pendidikan Kekhususan Pendidikan Dasar Universitas Negeri Makassar Kampus V Parepare . Terima pada semua pihak yang membantu penyusunan makalah ini. Terkhusus Bapak Prof. Dr. Darman Manda sebagai pengampu mata kuliah. Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami sampaikan terimakasih kepada pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Parepare, Juli 2015
Pemakalah

 AZIS


 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.................................................................................... i
KATA PENGANTAR.. ii
 DAFTAR ISI. iii
BAB. I PENDAHULUAN.. ..................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah. ............................................................. 1
B. Rumusan Masalah. ..................................................................... 2
C. Tujuan. .................................................................................... 2
D. Prosedur ........................................................................................... 2

BAB. II DASAR LOGIKA MATA PELAJARAN IPS ..........................3
 A. Pembelajaran kontekstual.................................................................... 3
 B. Filsafat perenialisme. ........................................................................... 3
 C. Filsafat Progressivisme. ................................................................. 4
 D. Rekonstruksi sosial............................................................................ 4

 BAB III PEMBAHASAN........................................................................ 6
A. Pengertian IPS. .......................................................................... 6
B. Tujuan Dan Karakteristik Pembelajaran IPS. ................................ 7
C. Kriteria Pembelajaran yang Efektif. .............................................. 10
D. Hakikat Pembelajaran. .............................................................. 10
E. Sumber pembelajaran IPS. ................................................................ 12

BAB. IV DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 14


 BAB I PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, keceerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No.20 Tahun 2003 Pasal 1). Pendidikan mengandung pengertian suatu perbuatan yang disengaja untuk menjadikan manusia memiliki kualitas yang lebih baik. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan sebagainya. Pendidikan IPS pada tingkat sekolah dasar menggunakan pendekatan secara terpadu / fusi. Hal ini disesuaikan dengan karakteristik tingkat perkembangan usia siswa SD yang masih pada taraf berfikir abstrak. Pengembangan pendidikan IPS tidak hanya diarahkan pada pengembangan kompetensi yang berkaitan dengan aspek intelektual saja. Keterampilan sosial menjadi salah satu faktor yang dikembangkan sebagai kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam pendidikan IPS. Keterampilan mencari, memilih, mengolah dan menggunakan informasi untuk memberdayakan diri serta keterampilan bekerjasama dengan kelompok yang majemuk nampaknya merupakan aspek yang sangat penting dimiliki oleh peserta didik yang kelak akan menjadi warga negara dewasa dan berpartisipasi aktif di era global. 

B. Rumusan Masalah Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini ialah sebagai berikut: 
1. Apa yang dimaksud dengan IPS? 
2. Apa tujuan dari pembelajaran IPS di SD? 
3. Bagaimana karakteristik pembelajaran IPS di SD? 

C. Tujuan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah: 
1. Untuk mengetahui pengertian pembelajaran IPS. 
2. Untuk mengetahui tujuan dari pembelajaran IPS. 
3. Mengetahui karakteristik pembelajaran IPS di SD. 

D. Prosedur Pemecahan Masalah Dari beberapa prosedur pemecahan masalah penyusun dapat memecahkan permasalahan dengan mengkaji pustaka dan sumber-sumber yang berkenaan dengan masalah. 

BAB II DASAR LOGIKA MATA PELAJARAN IPS 

 A. Pembelajaran kontekstual Lilis: Bermain peran tentang tokoh tertentu. Agus: kerjasama antara sekolah dan ortu mengenai kebijakan sekolah dalam pembelajaran. Lingkungan sebagai sumber belajar siswa. Guru menggunakan lingkungan tsb sumber belajar. Misalnya dalam membiasakan anak tidur pada jam tertentu. 

B. Filsafat perenialisme. Aliran filsafat ini mengembangkan intelektualisme yang didasrkan pada study yang dinamakan liberal arts. Artinya pengembangan intelektualisme didasarkan dan ditujukan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai luhur bangsa, berbicara tentang keagungan dan kejayaaan bangsa. Filsafat perenialisme menghendaki adanya pewarisan nilai dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya melalui penyampaian berbagai informasi atau mentransmisikan pengetahuan kepada peserta didik (Hasan 1996). Berdasarkan pandangan filosofis tersebut, kuriulum di Indonesia menjadi sangat ideologis untuk menjadikan peserta didik sebagai warga negara yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diinginkan oleh Negara. Tujuan pewarisan nilai, budaya serta untuk memperkuat integrasi bangsa sangat menonjol dan hal itu sebagai ciri dari kurikulum perenialis. Jadi, pandangan filsafat perenialis menekankan pada transfer of culture (Schubert). 

 C. Filsafat Progressivisme. Aliran filsafat yang keempat adalah filsafat progressivisme. Menurut filsafat pendidikan progressivisme, tujuan utama sekolah adalah untuk meningkatkan kecerdasan praktis dan membuat siswa lebih efektif dalam memecahkan berbagai masalah yang disajikan dalam konteks pengalaman siswa pada umumnya. Menurut pandangan ini, pengembangan pembelajaran harus memperhatikan kebutuhan individual yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya dan mendorong mereka untuk berpartisipasi aktif sebagai warganegara dewasa, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Kinsler & Gamble, 2001). 

 D. Rekonstruksi sosial. Aliran filsafat yang terakhir yaitu filsafat rekonstruksi sosial. Aliran filsafat ini memandang pendidikan sebagai wahana untuk mengembangkan kesejahteraan sosial. Filsafat pendidikan rekonstruksionisme, seperti dikemukakan oleh O’Neil (2001), dapat dipilih sebagai salah satu alternative dalam mengembangkan kurikulum pendidikan IPS untuk masa depan. Orientasi rekonstruksionisme berpandangan bahwa sekolah harus diarahkan kepada pencapaian tatanan demokratis yang menduinai. Secara filosofis, seorang rekonstruksionis yakin bahwa teori pada puncaknya tidak terpisahkan dari latar belakang sosial dalam suatu era kesejarahan tertentu. Dengan demikian, pikiran adalah sebuah produk dari kehidupan di sebuah masyarakat tertentu dan dalam waktu tertentu pula. Oleh karena itu, tanpa mengabaikan nilai-nilai masa lalu, aliran ini menghendaki agar setiap individu dan kelompok masyarakat mampu mengembangkan pengetahuan, teori atau pandangan tertentu yang paling relevan dengan kepentingan mereka melalui pemberdayaan peserta didik dalam proses pembelajaran guna memproduksi pengetahuan baru. empat perspektif 

 BAB III PEMBAHASAN 

A. Pengertian IPS Istilah ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan nama mata pelajaran ditingkat sekolah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah “social studies” dalam kurikulum persekolahan di negara lain, khususnya di negara-negara barat seperti Australia dan Amerika Serikat. Namun pengertian IPS di tingkat persekolahan itu sendiri mempunyai perbedaan makna khususnya antara IPS di sekolah Dasar (SD) dengan IPS untuk sekolah menengah pertama (SMP) dan IPS untuk sekolah menengah atas (SMA). Pengertian IPS di sekolah tersebut ada yang berarti program pengajaran, ada yang berarti mata pelajaran yang berdiri sendiri, ada yang berarti gabungan (paduan) dari sejumlah mata pelajaran atau disiplin ilmu. Perbedaan ini dapat pula diidentifikasi dari pendekatan yang diterapkan pada masing-masing jenjang persekolahan tersebut. Pengertian IPS merujuk pada kajian yang memusatkan perhatiannya pada aktifitas kehidupan manusia. Berbagai dimensi manusia dalam kehidupan sosialnya merupakan fokus kajian dari IPS. Aktivitas manusia dilihat dari dimensi waktu yang meliputi masa lalu, sekarang dan masa depan. Aktivitas manusia yang berkaitan dalam hubungan dan interaksinya dengan aspek keruangan atau geografis. Aktivitas manusia dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya dalam dimensi arus produksi, distribusi dan konsumsi. Selain itu dikaji pula bagaimana manusia membentuk seperangkat peraturan sosial dalam menjaga pola interaksi sosial antar manusia dan bagaimana cara manusia memperoleh dan mempertahankan suatu kekuasaan. Pada intinya, fokus kajian IPS adalah berbagai aktivitas manusia dalam berbagai dimensi kehidupan sosial sesuai dengan karakteristik manusia sebagai makhluk sosial. (Sapriya, 2006) Terdapat perbedaan yang esensial antara IPS sebagai ilmu-ilmu sosial (social sciences) dengan pendidikan IPS sebagai social studies. Jika IPS lebih dipusatkan pada pengkajian ilmu murni dari berbagai bidang yang termasuk dalam ilmu-ilmu sosial (social sciences) atau dalam kata lain IPS adalah sebagai wujudnya. Setiap disiplin ilmu yang tergabung dalam ilmu-ilmu sosial berusaha untuk mengembangkan kajiannya sesuai dengan alur keilmuannya dan menumbuhkan “body of knowledge”. 

B. Tujuan Dan Karakteristik Pembelajaran IPS 
Tujuan pendidikan IPS dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa pendidikan IPS merupakan suatu disiplin ilmu. Oleh karena itu pendidikan IPS harus mengacu pada tujuan Pendidikan Nasional. Dengan demikian tujuan pendidikan IPS adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menguasai disiplin ilmu-ilmu sosial untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi. Ada tiga aspek yang harus dituju dalam pengembangan pendidikan IPS, yaitu aspek intelektual, kehidupan sosial, dan kehidupan individual. Pengembangan kemampuan intelektual lebih didasarkan pada pengembangan disiplin ilmu itu sendiri serta pengembangan akademik dan thinking skill. Tujuan intelektual berupaya untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami disiplin ilmu sosial., kemampuan berpikir, kemampuan prosesual dalam mencari informasi dan mengkomunikasikan hasil temuan. Pengembangan kehidupan sosial berkaitan dengan pengembangan kemampuan dan tanggung jawab siswa sebagai anggota masyarakat. Ada 3 kajian utama berkenaan dengan dimensi tujuan pembelajaran IPS di SD, yaitu: 1. Pengembangan Kemampuan Berpikir Siswa Pengembangan kemampuan intelektual adalah pengembangan kemampuan siswa dalam berpikir tentang ilmu-ilmu sosial dan masalah-masalah kemasyarakatan. Udin S. Winataputra (1996) mengemukakan bahwa dimensi intelektual merujuk pada ranah kognitif terutama yang berkenaan dengan proses berpikir atau pembelajaran yang menyangkut proses kognitif bertaraf tinggi dari mulai kemampuan pemahaman sampai evaluasi. S. Hamid Hasan (1998) menambahkan bahwa pada proses berpikir mencakup pula kemampuan dalam mencari informasi, mengolah informasi dan mengkomunikasikan temuan. 2. Pengembangan Nilai dan Etika Sosial S. Hamid Hasan (1996) mengartikan nilai sebagai sesuatu yang menjadi kriteria suatu tindakan, pendapat atau hasil kerja itu bagus/ positif atau tidak bagus/ negatif. Franz Von Magnis (1985) menyatakan bahwa etika adalah penyelidikan filsafat tentang bidang moral, ialah bidang yang mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tentang yang baik dan yang buruk. 3. Pengembangan Tanggung Jawab dan Partisipasi Sosial Dimensi yang ketiga dalam pembelajaran IPS adalah mengembangkan tanggung jawab dan partisipasi sosial yakni yang mengembangkan tujuan IPS dalam membentuk warga negara yang baik, ialah warga negara yang berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (kongkrit), dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan teori pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang muda dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu. 2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda kongkrit. 3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. 4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki si belajar. 5. Pengalaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks. 6. Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa. 7. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal dan sebagainya. (Budiningsih, 2005) 

C. Kriteria Pembelajaran yang Efektif Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari cara pendidik mengajar dan peserta didik belajar, sebab baik tidaknya hasil proses pembelajaran dapat dilihat dan dirasakan oleh pendidik dan peserta didik sendiri. Proses belajar mengajar yang dikatakan berhasil apabila ada perubahan pada diri peserta didik. Perubahan perilaku ini menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan. Juga didalam proses pembelajaran peserta didik harus menunjukan kegairahan belajar yang tinggi, semangat kerja yang besar dan percaya pada diri sendiri. Untuk memperoleh hasil seperti yang telah dikemukakan diatas, salah satu caranya adalah meningkatkan kualitas belajar. 

D. Hakikat Pembelajaran Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi transaksional adalah bantuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami, dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran. Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses sebab akibat. Guru sebagai pengajar merupakan penyebab utama terjadinya proses pembelajaran siswa, meskipun tidak semua perbuatan belajar siswa merupakan akibat guru yang mengajar. Oleh sebab itu guru sebagai figur sentral, harus mampu menetapkan strategi pembelajaran yang tepat sehingga dapat mendorong terjadinya perbuatan belajar siswa yang aktif, produktif, dan efisien. Siswa sebagai peserta didik merupakan subjek utama dalam proses pembelajaran. Keberhasilan pencapaian tujuan banyak tergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang dilakukan siswa. Cara belajar ini dapat dilakukan dalam bentuk kelompok (klasikal) ataupun perorangan (individual). Oleh karena itu, guru dalam mengajar harus memperhatikan kesiapan, tingkat kematangan, dan cara belajar siswa. Tujuan pembelajaran merupakan rumusan perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar tampak pada diri siswa sebagai akibat dari perbuatan belajar yang telah dilakukan. Menurut Bloom, dkk; tujuan pembelajaran dapat dipilah menjadi tujuan yang bersifat kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Derajat pencapaian tujuan pembelajaran ini merupakan indikator kualitas pencapaian tujuan dan hasil perbuatan belajar siswa. (Hernawan, 2008) 

E. Sumber pembelajaran IPS 1. Media Sebagai Sumber Pembelajaran Pada dasarnya siswa memiliki minat (sense of interest) dan dorongan ingin melihat kenyataan (sense of reality). Mengingat materi pembelajaran IPS lebih banyak memuat informasi maka upaya mengembangkan kedua potensi siswa tersebut, guru dituntut memiliki kreativitas dalam mengaktualisasikan kompetensinya terutama untuk mengidentifikasi, menyeleksi dan menentukan sumber pembelajaran yang menunjang kegiatan belajar mengajar. Media sebagai sumber pembelajaran erat kaitannya dengan peran guru sebagai mediator dan fasilitator. Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Dengan demikian media pendidikan merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral dalam proses belajar mengajar guna mencapai tujuan pembelajaran. 2. Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Lingkungan sebagai sumber pembelajaran menuntut kreativitas guru untuk memanfaatkannya dan mengeliminasi kebiasaan mengajar yang rutinitas dan monoton. Terdapat empat jenis sumber pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dari lingkungan, yaitu: masyarakat, lingkungan fisik, bahan sisa atau limbah dan peristiwa alam dan sosial. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran mendorong siswa untuk berpikir logis, sisitematis dan logis, karena dari lingkungan muncul berbagai fenomena yang menarik dan menantang bagi siswa, oleh karena itu guru dituntut memiliki keterampilan ke dalam kelas dan atau membawa siswa ke luar kelas. (Winataputra U. S., 2008) 

 BAB IV DAFTAR PUSTAKA 

Budiningsih, C. (2005). BELAJAR DAN PEMBELAJARAN. Jakarta: PT Rineka Cipta. 
Hernawan, A. H. (2008). PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN . Jakarta: Universitas Terbuka. 
Purwanto, M. N. (2006). ILMU PENDIDIKAN TEORETIS DAN PRAKTIS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 
Rukmana, A. (2006). PENGELOLAAN KELAS. Bandung: UPI PRESS. Sapriya. (2006). KONSEP DASAR IPS. Bandung: UPI PRESS. 
Sundawa, D. (2006). PEMBELAJARAN DAN EVALUASI HASIL BELAJAR IPS. Bandung: UPI PRESS. 
Supriatna, N. (2007). PENDIDIKAN IPS DI SD. Bandung: UPI PRESS. 
Wahyudin, H. D. (2007). PENGANTAR PENDIDIKAN. Jakarta: Universitas Terbuka. 
Winataputra, U. S. (2008). MATERI DAN PEMBELAJARAN IPS DI SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Winataputra, U. S. (2008). TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN. Jakarta: Universitas Terbuka.

Komentar

  1. How To Make Money On Sports Betting
    Online sports หารายได้เสริม betting is available for jancasino a gri-go.com whole host of US and casinosites.one European sports betting markets. Some US states, like Louisiana and New Jersey, allow 토토 사이트

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Budaya " Masara dan Majjjaga" Komunitas Sandobatu di Desa Leppangeng Dalam Goresan Pena

Menjelajahi potensi destinasi wisata di Bumi Sandobatu Desa Leppangeng “